Petugas membersihkan bangkai babi dari sungai di Medan. Foto Istimewa

Allah Swt menegaskan:“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang [yang ketika disembelih] disebut [nama] selain Allah,”.

Medan-Intipnews.com:Ribuan ternak babi mati akibat virus hog cholera, membuat Sungai Bedera dan Danau Siombak di Medan, Sumatera Utara [Sumut] dijejali bangkai babi yang dibuang begitu saja oleh pemilik ternak tidak bertanggung jawab.

Tercatat ada 5.800 ekor babi di 11 kabupaten/kota di Sumut dilaporkan mati akibat virus hog cholera [kolera babi]. Antara lain dari Dairi, Humbang Hasundutan, Deliserdang, Medan, Karo, Toba Samosir, Serdangbedagai, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan dan Samosir.

Kondisi ini meresahkan masyarakat Muslim yang mengharamkan babi. Persoalannya, bangkai babi berhari-hari mengambang di pinggiran sungai dan danau dengan kondisi hancur karena lama baru diangkat dari air [dibersihkan] membuat trauma tersendiri.

Masyarakat Medan, Sumatera Utara tidak hanya ragu menggunakan air sungai dan danau. Tetapi tidak mau membeli ikan sungai maupun ikan laut yang menduga sudah memakan bangkai-bangkai babi. Masyarakat Medan utamanya mengaku geli [jijik]  memakan ikan sungai dan ikan laut. Bagaimana sebenarnya?

Informasi dihimpun Intipnews.com, Jumat 15 November 2019, Medan Sumatera Utara penduduknya mayoritas beragama Islam. Bagi umat Islam, babi itu hewan yang haram untuk dimakan. Lalu bagaimana kalau memakan ikan, yang ikan tersebut diduga telah memakan bangkai-bangkai babi itu.

Sebagaimana Allah Swt menegaskan,  pengaharaman babi, pada Surat al Baqarah ayat 173, Surat al Maidah ayat 3, dan Surat an Nahl ayat 115. “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang [yang ketika disembelih] disebut [nama] selain Allah,”.

Dan pada dasarnya Allah halalkan memakan hewan yang berasal dari laut, sebagaimana firman-Nya, “Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan [yang berasal] dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan, …,” [Surat al Maaidah, ayat 96].

Menguburkan bangkai-bankai babi yang terserang virus. Foto Istimewa

Megkonsumsi Ikan Memakan Bangkai

Menurut Mazhab Malikiyah dan Syafi’iyah, menganggap ayat ini sudah muhkam [berketetapan hukum], maka segala hewan yang hidup dan berasal dari laut, dihalalkan oleh Allah untuk dinikmati sebagai makanan yang lezat.

Menurut Mazhab Abu Hanifah [Hanafi], hanya Ikan yang dihalalkan untuk dimakan. Tetapi yang sudah mati mengambang di permukaan laut, haram, berdasarkan dalil alquran.

Menurut Mazhab Hambaliyah, seluruh hewan laut atau air halal, kecuali katak, buaya dan ular. Katak dikecualikan, karena dilarang membunuhnya dan mengecualikan buaya karena binatang buas lagi pemangsa dengan taringnya dan memangsa manusia. Sedangkan ular karena termasuk hewan yang menjijikkan.

Hukum Memakan Ikan, yang pakannya dari bangkai babi?. Dalam sebuah peternakan budi daya ikan, mungkin hal ini sering terjadi. Biasanya pada budidaya peternakan ikan lele. Bangkai hewan ayam, tikus, bahkan babi, sering diberikan pada ikan tersebut.

Majelis Ulama Indonesia [MUI] di kota Padang Sumatera Barat [16/8/2019], pernah mengeluarkan fatwa terkait persoalan ikan yang memakan bangkai tersebut. “Mengkonsumsi ikan lele yang memakan bangkai hewan, baik disengaja atau tidak disengaja, dari segi hukum agamanya tidak ada masalah,” ungkap Prof Dr Duski Samad, M.Ag., Anggota MUI kota Padang, Sumatera Barat.

Selama Air Tidak Berubah Warna

Pria yang juga menjabat sebagai Guru Besar Ilmu Pemikiran Islam di UIN Imam Bonjol ini menambahkan, jika ikan lele yang diberi makan bangkai babi, lalu menimbulkan keraguan kita untuk memakan ikan tersebut, lebih baik ditinggalkan.

“Ada haram dari segi materi dan haram dari segi perasaan beragama. Jika sekiranya ragu-ragu, maka sebaiknya ditinggalkan, karena akan menjadi haram jika masih dimakan,” jelasnya Prof Duski Samad, sebagaimana dilansir suara.com [16/8/2019].

Babi-babi yang sehat. Foto Istimewa

Barangkali fatwa MUI Padang ini dapat diqiyaskan dengan kasus yang viral beberapa hari ini di kabupaten Deliserdang dan kota Medan, yang meresahkan umat Islam untuk mengkonsumsi ikan dari laut karena ditemukannya banyak bangkai babi yang dibuang sembarangan di sungai hingga terbawa ke laut.

Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia [MUI], KH Cholil Nafis menjelaskan berdasarkan hukum fikih setiap air yang mengalir seperti air sungai dan danau hukumnya tidak najis kendati terdapat benda najis di dalamnya. Karenanya air di Sungai Bedera dan Danau Siombak pun dihukumi tidak najis karena airnya mengalir.

“Sungai yang ada bangkai babinya selama dia tidak berubah warna, bau, dan rupanya menjadi warna dan bau bangkai maka airnya masih suci,” kata Kiai Cholil sebagaimana dilansir Republika.co.id  Jumat (15/11/2019).

Air Sungai Termasuk Suci

Namun bagaimana dengan ikan yang berada di sungai Bedera maupun Danau Siombak, apa juga terkena najis dan bagaimana hukum memakannya? Terhadap ikan yang berada di sungai Bedera dan Danau Siombak, Kiai Cholil menjelaskan selama airnya bersih dan suci tak terkotori bangkai babi hukumnya halal. Terkecuali jika didapati ada daging babi dalam ikan, maka ikan tersebut tekena najis dan harus disucikan sesuai fikih.

“Hukum makan gimana, selama airnya bersih dan tidak terkotori babi ya hukumnya halal kecuali memang umpamanya seperti ikan kemudian di dalamnya ada daging babinya maka dia menjadi najis. Dengan cara disucikan kalau dia najisnya babi harus dibasuh tujuh kali salah satunya menggunakan debu atau tanah,” katanya.

Kendati demikian, menurut Kiai Cholil bagi masyarakat yang sudah merasa tidak nyaman dan ragu akan kesucian ikan, maka hukumnya makruh. “Artinya sebaiknya kita tidak makan ikan yang ada di sungai itu,” katanya.

Begitupun yang dijelaskan Komisi Fatwa MUI, KH Asrorun Ni’am. Menurutnya air sungai termasuk suci dan mensucikan. Karenanya hewannya halal untuk di konsumsi sekalipun dalam aliran airnya tercampur barang najis. Kiai Ni’am pun mengimbau masyarakat yang mendapati bangkai babi tidak ragu untuk menguburnya untuk mencegah penyakit dan pencemaran.

“Perlu ada komitmen untuk perilaku bersih dan mencegah terjadinya pencemaran lingkungan, akibat buang sampah dan limbah sembarangan, kalau ada bangkai, perlu ditanam untuk mencegah terjadinya penyakit dan pencemaran,” katanya.

  • Laporan Ronjas Panjaitan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here