Dari Trilogi Novel ‘Deburan Ombak Selat Malaka

No.4

Ustadz juga menyebutkan Tini layaknya Cleopatra, tidak hanya menarik tapi sangat seksi dan memiliki pesona menggoda yang luar biasa untuk mendapatkan apa yang diinginkan setiap lelaki.

Intipnews.com:LANGKAH rezeki, pertemuan maut. Mati adalah rahasia Ilahi. Mati adalah kegelapan yang paling misterius. Mati itu pasti bagi setiap makhluk hidup, tetapi tidah pernah diketahui kapan datangnya. Namun bagi Ustad Daham dengan kondisinya yang semakin payah, dia merasa dirinya tidak lama lagi akan kembali, pulang ke tempatnya berasal ke Sang Pencipta.

Dipeganginya telapak tangan Haji Sardan, membiarkan istrinya, Zuliana yang sebelum mendengar kekasihnya Kartini menikah dengan seorang lelaki Dokter Muslim namanya, selalu menyebutnya cinta dan sayang. Bergumul dan berhubungan badan setelah menikah dengan gelora asmara cinta, hingga mengandung bayi Ustadz.

Kini Ustadz Daham dengan matanya berkata kepada Haji Sardan, apakah dia harus menghunus pedang dan menusuk ke ulu hatinya setelah mendengar kekasihnya Cleopatra telah pergi. Karena dia merasa deritanya terlalu berat, tak pernah sanggup membayangkan Tini bercumbu dan hidup dengan laki-laki yang bukan dirinya. Sementara kematian yang ditunggunya tidak juga datang.

Istrinya yang duduk dalam pelukan Bu Haji tidak tahu apa yang dikatakan suaminya, tetapi dia dapat merasa Ustadz Daham sedang berkata cintanya dengan Kartini yang sama dengan cintanya kepada dirinya, yang sekarang sekarat menjelang tersungkur mencium tanah. Adegan itu membuat Zuliana, Bu Haji ikut banjir air mata. Tak luput mata Haji Sardan basah, pipi Ustadz Daham dibanjiri air mata.

“Bang,….bagaimana kita ini…?” kata Zuliana lalu mengambil jari-jari dan telapak tangannya yang kurus kering tak bergairah untuk diremas. Istrinya mencium telapak tangan keriput dan membawanya ke perutnya. Mengusap-usapkan, dan sang jabang bayi seperti tahu diusap Abinya lalu menendang-nendang.

Kendati Zuliana menyadari dirinya yang hitam, menjalani masa-masa kelamnya bersama lelaki atasannya yang menjadikan dirinya peliharaan dan mainan. Tetapi di antara itu, kehidupan suami istri bersama Ustadz Daham dipersatukan dalam janji suci di pernikahan halal.

“Kalau tahu begini jadinya, jauh-jauh hari sebelum ini, di saat katanya Tini menderita ditinggalkan Ustadz Daham, saya yang akan meminang Tini untuk suami saya,….” Mendengar itu Bu Haji merindung bulu roamanya. Haji Sardan merasakan dengan hatinya, itu bukan jalan terbaik. Semestinya Ustadz bisa memahami dan menerima dengan ikhlas keadaan Tini hari ini yang sudah menjadi orang lain.

“Asal kapas dari benanang, ditenun menjadi kain. Masa lepas jangan dkenang, sudah menjadi orang lain,” Haji Sardan mengingat pantun Melayu itu yang pernah dikatakannya kepada Ustadz Daham di masjid saat usai shalat isya ketika Ustadz meminta dirinya menyampaikan kepada Tini, meminta maaf dan akan tetap bertanggungjawab.

Kala itu dia mengenang kisah tragedi cinta Antonius  and Cleopatra ditulis oleh William Shakespeare. Haji Sardan tidak mengerti itu, tetapi Ustadz Daham yang kulian di Kairo Mesir terus saja menceritakan tentang hubungan cinta Panglima Perang Julius Caesar Marcus Antonius dan Ratu Mesir Cleopatra yang dimulai dari Perang Parthia hingga peristiwa bunuh diri Antonius dan Cleopatra.

Sekali waktu, Ustadz juga menyebutkan Tini layaknya Cleopatra, tidak hanya menarik tapi sangat seksi dan memiliki pesona menggoda yang luar biasa untuk mendapatkan apa yang diinginkan setiap lelaki. Kendati Cleopatra memiliki hubungan dengan dua jenderal besar Romawi, Julius Caesar dan Mark Antony, dan ditakdirkan menjadi penguasa terakhir dari dinasti Ptolemeus I. Dia tidak hanya dikenal karena kecantikannya, tetapi karena kecerdasannya juga, seperti Kartini. Walaupun dia seorang ‘wanita simpanan’ Julius Caesar.

Aduh! Haji Sardan semakin tidak mengerti waktu itu. Sekarang lamat-lamat dia mulai memahami mengapa Ustadz Daham tidak bisa dipisahkan dengan Kartini, yang baginya cleopatra adalah masa kini di hatinya. Dia menerima Zuliani merupakan jodoh dari Bundanya. Tetapi tidak sekalipun bibirnya menyalahkan Bunda yang sangat dihormatinya. Inilah buah dari perjalanan cinta Ustadz Daham yang tetap saja ingin bertemu Kartini Sang Cleopatra.

Haji Sardan pamit ingin pulang, namun Zuliana menahannya. Zuliana memegang tangan Bu Haji kuat-kuat. Juga Ustaz Daham memegang erat sekali lengan Haji Sardan, sebagai aba-aba dirinya tak mau ditinggalkan. Zuliani memberi alasan, perutnya terasa sakit, sepertinya ketubannya sebentar lagi keluar. Itu artinya dia segera melahirkan. * Bersambung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here