(Sebuah Kisah Cinta Antara Dua Sepupu Sanak Bunde)

Intipnews.com:KALAU memetik buah jambu, jangan didekatkan sibuah labu, kalau tahu untung nasibku, bagaikan kaca terhempas ke batu. Mungkin inilah istilah yang pantas untuk kisah yang kualami saat ini, percintaan ku dengan Mas Ridho yang tak mendapat restu kedua orang tuaku dan juga orang tua Mas Ridho hanya karena kami memiliki ikatan keluarga. Ikatan keluarga diantara kami tak begitu rapat menurutku, hanya karena Ayahku bersaudara kandung dengan ibunya mas Ridho, saat-saat begini, aku melewati sepinya sendiri dengan sejuta masalah di dalam benakku, membuatku terbayang betapa sulitnya kisah cintaku bersama mas ridho. Saat itu tepat pada hari Raya Idul Fitri ketika keluarga mas Ridho datang ke rumah orang tuaku untuk bersilaturrahmi.

Assalamualaikum, Adikku Rahma…” Tutur Om Ridwan Ayahnya Mas Ridho

Waalaikumsalam Mas Ridwan, Silahkan Masuk….”

“Bagaimana Kabar Keluarga mu, Dik?

Alhamdulillah Sehat, Mas….”

Seketika Ayah dan Ibu mengajakku keluar untuk bergabung bersama mereka dan di sana juga ada Mas Ridho bersama sama dengan kami, tak ada perasaan apa-apa saat itu, semua berjalan layaknya percakapan keluarga biasa. Itulah pertemuan pertamaku dengan Mas Ridho setelah hampir belasan tahun kami tidak bertemu, bahkan aku sempat lupa bahwa aku punya saudara sepupu yang bernama Ridho.

Hari berganti hari, tak ada yang spesial di antara aku dan mas ridho, hingga untuk pertama kalinya ia mengirim pesan Whatsaap kepadaku secara pribadi..

Assalamualaikum, Dik?” Pesan Mas Ridho

Waalaikumsalam, ini siapa? Jawabku

“Ini Mas mu loh Dik, Mas Ridho….”

“Oh, Mas Ridho… Apa Kabar Mas? Jawabku dengan semangat

“Baik Dik, Adik Rika Apa Kabar?

“Baik Mas… Apa kegiatan sekarang Mas,” imbuhku

Alhamdulillah Dik, sekarang Mas sudah kerja di Salah satu perusahaan ternama di Rantauprapat, walaupun belum menduduki jabatan yang strategis tapi Alhamdulillah sudah bisa mandiri Dik…”

Alhamdulillah Mas, itu sudah bagus sekali, sedangkan Rika setelah selesai sekolah SMA sekarang masih dirumah saja ga ada kegiatan..”

“Kalau Tuan Puteri Mah, ga usah ke mana-mana, di rumah aja, nunggu pangeran datang menjemput..” Canda Mas Ridho

“Hehehehe, Mas Ridho ada ada saja, Sampai kapan saya menunggu datang Pangeran menjemput, Mas..?” Sambutku

“Tunggu saja Dik, Insyaallah dia akan segera datang..”

“Amin..” Tutupku

Itulah percakapan pertamaku dengan Mas Ridho secara langsung, meski tidak bertatap muka namun kata katanya sangat berkesan dihatiku, berulang kali kubaca riwayat percakapan kami sembari senyum yang senantiasa terpapar diwajahku. Tapi seketika aku sadar bahwa Kata kata Mas Ridho hanya gurauan semata, lagi pula dia adalah sepupuku, rasanya tak pantas aku menaruh perasaan yang mengada ada padanya.

Hari berganti, sudah lebih satu minggu Mas Ridho tak pernah mengirim pesan kepadaku, membuatku semakin yakin bahwa Mas Ridho hanya bergurau saja padaku, “Aduch, mengapa aku mengunggu pesan dari Mas Ridho, Aku ini siapa? Dan dia Siapa?” bisikku dalam hati, betapa tidak tau dirinya aku apabila aku menaruh rasa yang special pada mas Ridho. Tiba tiba dalam pergolakan hati yang rumit Ponsel ku berdering mengumandangkan Lagu Nostalgia Dewi Yull yang Berjudul “Asmara” pertanda bahwa ada telepon masuk, ku lihat dan ternyata tertulis “Mas Ridho”, ada keraguan sebenarnya, namun kuberanikan untuk menjawab.

“Halo, Assalamualaikum?” Salam mas Ridho

waalaikumsalam, Mas?” Jawabku

“Apa Kabar, Dik”

Alhamdulillah Sehat, Mas Apa Kabar?”

“Ya Begitulah, Dik. Masih dalam perkelenaan..”

“Berkelana kemana, Mas?”

“Berkelana mencari tempat hati ini bermuara”

“Oalah Mas, Mas Ridho ini ada ada saja..”

“Oya, Rika ada waktu?”

“Waktu apa maksudnya, Mas?”

“Siapa tau kita punya waktu buat jalan jalan, biar mas Jemput”

“Mas mau jemput Rika?, Jauh lo Mas, Rantauprapat ke Labuhanbilik itu perjalanannya sekitar 3 Jam loh Mas..”

“Ga apa-apa lo Dik, Namanya Hati ingin menemui muaranya, sejauh apapun ga bakalan terasa berat”

Mendengar kata kata Mas Ridho seketika aku terdiam, jujur belum pernah ada laki laki yang mengatakan seperti ini kepadaku.

“Halo, Masih ada di sana?” Sapa Mas Ridho mengagetkanku.

“Eh.. Iya Mas, Insyaallah saya da waktu” jawabku spontan tanpa pertimbangan sedikitpun

“Oke, Secepatnya Mas ke sana Yah, Asaalamualikum” Tutup Mas Ridho

Waalaikumsalam” Jawabku

Aku tak mengerti apa yang kurasakan saat itu, aku seolah-olah sedang jatuh cinta pada seseorang yang tak kutahu apakah ia serius atau sekadar bercanda dengan kata katanya..

Tak berselang lama, hanya beberapa hari, aku sangat ingat waktu itu, Tepat hari Rabu, Mas Ridho tiba di rumahku dengan Pakaian Kerjanya, Seragam Putih Hitam dengan Tas Ransel ia datang kerumahku dan disambut hangat oleh kedua orangtuaku.

“Eh, Ridho, Masuk Nak” Sapa Ibuku

“Iya Tante, Rika nya Ada?” Jawab Mas Ridho

“Eh, Tumben nanya Rika?” Sahut Ibuku

“Iya Tante, beberapa hari ini, kami sering teleponan, dan saya janji mau ngajak Rika jalan-alan hari ini”

Dengan wajah bingung Ibuku menjawab “Oh. Iya,, sepupuan harus gitu donk, akrab kan…”

Masih dalam kebingungan sepertinya, ibuku menjemputku ke kamar dan berkata “Rika, Ada Ridho tuh di depan, katanya mau jemput kamu, kalian mau ke mana?”

“Iya bu..” Hanya itu jawabanku

Tanpa bertanya lagi ibuku langsung masuk ke dapur dan tak menghampiri kami lagi, sepertinya ibu punya firasat mengenai kami, tapi aku tak boleh berfikir terlalu jauh, bisa jadi Mas Ridho hanya mengajakku jalan-jalan sekadar untuk menghibur diri atau curhat masalah pribadinya.

Aku menemui Mas Ridho yang tengah duduk di ruang tamu, aku tak duduk lagi tapi langsung mengajak Mas Ridho untuk pergi keluar, sedang mas Ridho memberi kode seolah-olah ingin berkata “Kita Pamitan dulu pada Ibu” seolah olah mengerti aku langsung menggelengkan kepala dan langsung keluar dan Mas Ridho menyusul menaiki sepeda motornya dan kamipun berlalu.

Tak Tau ke mana arah tujuan dan diam tanpa bicara dalam perjalanan itu, akhirnya aku memberanikan diri mengajak Mas Ridho untuk duduk di pelantaran Pantai Sei Barumun.

Masih diam seribu bahasa, sesekali aku menatap mas Ridho yang sangat serius memperhatikan Pulau Sikantan di tengah tengah Sungai Barumun di tengah teriknya matahari siang itu.

“Mas Ridho..” sapaku

“Iya Dik,” imbuhnya

“Terimakasih sudah repot repot datang kemari”

“Kok repot, kan Mas yang mau datang kemari, bukan Adik yang nyuruh, Kan?”

“Iya Sih Mas…, tapi kan Mas harus menempuh jalan yang tidak dekat”

Sebenarnya ada yang ingin mas sampaikan padamu, Dik? Ungkap Mas Ridho dengan Nada yang berat seraya menghela Nafas Panjang.

“Iya, Mas, Ceritakanlah, tak usah sungkan” jawabku sedikit penasaran

“Mas tak akan bertanya, apakah adik sudah memiliki kekasih atau belum, yang pasti bagi Mas, Adik belum bertunangan karena itu sudah Mas Tanyakan pada Ayah dan Ibu Mas” ceritanya

Aku mulai mencium aroma-aroma yang selama ini sudah kuduga, kalau ini adalah pembicaraan mengenai perasaan, tapi aku bertahan untuk diam, seraya menatap wajah mas Ridho yang serius.

“Usia Mas sudah tidak muda lagi, sebentar lagi Mas berulang tahun yang ke 29, rasanya sudah pantas Mas membina rumah tangga, sedang berpacaran rasanya tidak pantas lagi di usia mas yang sekarang, sebenarnya ada niatan dalam hati Mas untuk meminang dek Rika, walaupun ini masih niatan dan Mas belum menceritakan ini pada Orang Tua Mas”

Aku tertegun mendengar perkataan Mas Ridho, aku tak tau harus berkata-kata apa, jujur aku sangat mmengagumi keberanian Mas Ridho, lagi pula Mas Ridho punya wajah yang tampan, Hidung mancungnya sepadan dengan kulitnya yang sawo matang, meski sedikit kurus tapi perawakannya yang sopan membuat hati wanita mana yang tak terpesona.

“Bagaimana dengan Kau, Dik?” Mas Ridho seketika menyentakkanku dari kekagumanku padanya.

“Sebagai wanita yang sekian lama dirumah saja Mas, saya hanya Pasrah pada Takdir Allah” ucapku seraya merapikan rambutku yang sesekali ditiup angin.

“Apakah itu artinya kau menerima, Dik? Tanya Mas Ridho

“Tapi Mas, bukankah kita ini sepupu? Kita memiliki ikatan persaudaraan, Bagaimana dengan orang tua kita? Apakah mereka akan setuju?

“Dalam Adat Melayu yang kita junjung, seharusnya tak mengapa, karena darah kita bukanlah darah yang sama, Ayahku laki-laki dan Ibumu Perempuan, meski mereka bersaudara kandung tapi darah yang mengalir dalam darah kita bukanlah darah yang sama, orang kita menyebutnya Sanak Bunde, Rasanya tak mengapa.”

Banyak hal yang kami bahas saat itu sebenarnya, tapi hanya itu yang ku ingat dan setelah Mas Ridho mengantarkanku pulang kerumah, dengan hati yang gembira aku mengajak Ayah dan Ibuku untuk berbicara membahas yang telah kami bahas dengan mas Ridho siang itu.

“Ayah, Ibu, Tanpa mengurangi rasa hormat dan Kasih sayang Rika pada Ayah dan Ibu, sebenarnya Ada hal penting yang ingin Rika sampaikan pada Ayah dan Ibu” unggahku dengan nada rendah dan lemas.

Seketika Ayah dan ibu saling berpandangan tanpa ada kata-kata yang terucap dari mereka.

“Rika dan Mas Ridho telahpun lama berkomunikasi dan kami telah saling percaya satu sama lain. Dan Mas Ridho berencana meminang Rika secara baik baik kepada Ayah dan Ibu” ceritaku

“Ridho? Ridho siapa?, Ayah belum pernah melihatnya?” Sahut Ayah

“Ridho Anaknya Mas Ridwan Lo Mas !!” Kata Ibuku

“Iya Ayah” Kujawab

“Kamu Serius?, Bukankan itu sepupumu, Nak?” Sahut Ayah dengan Nada yang lembut

“Kamu seolah olah seperti perempuan yang nggak laku saja, Kawin kok sama sepupunya sendiri!!” Kata ibuku yang membuatku sangat sakit hati ketika seorang ibu menghina anak perempuanya sendiri.

“Tidak Haram kan Bu, Kamu bukan saudara Kandung?” Imbuhku

“Memang Tidak haram dalam adat, tapi ibu tidak setuju!! “ bentak Ibuku

Ayah hanya terdiam seribu bahasa, aku sangat ingin ayah membelaku namun nampaknya ia tak bisa berbuat apa apa ditengah kemarahan ibu.

“Ibu Tolonglah, Mas Ridho juga orang baik…” Jawabku

“Siapa bilang dia tidak baik Rika, Hanya saja begitu banyak laki laki d dunia ini, mengapa harus Ridho? Dia itu sepupumu… Ibu dan Mas Ridwan Om Mu Saudara Kandung, masak kami harus besanan lagi sih? Pikir dong Rika?? Bentak Ibuku

Aku hanya tertunduk menangis di hadapan ayah dan ibuku.

“Pokoknya ibu tidak setuju, Sebagai Orang Tuamu Rika, Ibu Haramkan kau dinikahi oleh Ridho. Titik!!!.” Sahut ibu sembari pergi meninggalkan aku dan Ayah di ruang tamu.

Aku tak kuasa menahan pedihnya hatiku saat ini, Kisah cinta yang kubangun dengan Mas Ridho memang tidak lama, tapi entah mengapa aku sangat yakin dan percaya bahwa dia adalah jodoh yang dikirimkan Tuhan untukku. Aku berlari ke kamarku, kubanting pintu kamar itu sekeras-kerasnya, aku menangis. Aku tak tahu harus berbuat apa.

Seketika aku kalut dan penat, aku tak tau sedang berada diposisi apa saat ini, yang terbayang hanya sumpahan ibu dan juga janji-janji mas Ridho, aku tak mampu lagi menangis, bahkan untuk menjerit pun tak ingin lagi, seketika aku menjadi berani,  bahkan berani untuk mati, sebab aku merasa inilah titik terpedih dalam hidupku, aku belum pernah menjalin cinta dengan seseorang sebelumnya, hanya dengan Mas Ridho, dan dia juga bukan orang jahat, mengapa ibu tega tak merestui hanya karena ikatan keluarga yang tak begitu dekat menurutku.

Kuambil Gunting dilaci meja belajarku, kugunting rambutku hanyak untuk melepaskan segala amarahku, tanpa suara, senyap, satu persatu rambutku berjatuhan dilantai, aku pasrah, aku kalut penat dan lelah dengan ini semua, kutatap gunting itu dalam dalam, kupatahkan dan kusayatkan pada pergelangan tanganku, seketika aku lemas, tak sanggup lagi berdiri, tubuhku terjatuh ke lantai, perlahan aku kedinginan namun aku tak kuat lagi bahkan untuk menutupkan mataku, dan lelap. Gelap.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here