Ketua FJPI Sumatera Utara, Lia Anggia Nasution

Medan-Intipnews.com:Ani Idrus dikenal sebagai salah seorang jurnalis perempuan paling berpengaruh di era pergerakan nasional hingga kemerdekaan RI. Dan ia juga berjuang melalui berbagai bidang lainnya, seperti pendidikan dan politik. “Ani Idrus sosok insprasit menggelorakan fighting spirit,” tukas Anggia.

Lia Anggia Nasution memulai cerita, tiba-tiba Senin pagi 25 November 2019, dirinya dan seluruh mata di dunia menyaksikan sosok Ani Idrus, wanita asal Sumatera Utara dikenal tokoh pers dan tokoh pergerakan wanita Indonesia menjadi pilihan Google Doodle.

“Tentunya kita sangat bangga ketika sosok seorang jurnalis perempuan Ani Idrus dapat menjadi ikon halaman pertama atau disebut doodle dalam laman pencarian google. Ani Idrus selama ini saya kenal sebagai jurnalis yang bagak [bahasa Minang] artinya adalah pemimpin yang berani dan tegas,“ kata Ketua Forum Jurnalis Perempuan Indonesia [FJPI] Sumatera [Sumu] Anggia kepada Intipnews.com.

Menurut Anggia via seluler, sejarah mencatat perjalanan pejuang kemanusiaan dalam organisasi wanita dan wartawan cukup lintas zaman. Dia juga dikenal sebagai aktivis pendidikan yang juga berkiprah di ranah politik. Perempuan Minangkabau ini lahir ketika masa kebangkitan nasional.

Dalam gerak langkah Ani Idrus di bidang jurnalistik, dapat dilihat dari tulisannya terkait berbagai hal disiarkan Harian Waspada yang dibangunnya bersama suaminya H Mohamad Said dan Majalah Dunia Wanita.

“Bu Hajjah Ani Idrus pastinya banyak menginspirasi kami FJPI, bagaimana pemikiran dan dedikasi seorang yang berkiprah dalam perjuangan membangun bangsa, terutama memajukan kaum perempuan seperti sosok Ani Idrus, “ ungkap Anggia.

Doktrin Ampuh Menghadapi Kaum Penjajah

Dijelaskan Anggia Nasution, pemikiran dan sikap hidupnya bisa dilihat dalam edisi pertama Majalah Dunia Wanita Bulan Juni 1949. Dalam salam redaksinya Ani Idrus menyebut dirinya sebagai pengemudi bukan pemimpin redaksi.

Sebutan ini tentunya bermakna tegas untuk memposisikan peran perempuan dan menghapus stigma perempuan selama ini selalu dianggap menjadi subordinasi kaum lelaki.

“Bagiku Ani Idrus manet inspirasi, dia mampu mensejajarkan diri dengan jurnalis lelaki di masanya [ketika itu] sangat minim keberadaan jurnalis perempuan. Dimana dia mulai berproses menjadi wartawan sebelum Indonesia merdeka tahun 1930. Waktu itu Ani yang usianya muda, mampu menjadi jurnalis yang berani menyuarakan kebenaran di bawah hidung Belanda,” tutur Anggia.

Tercatat dalam sejarah, dengan berdirinya Boedi Oetomo [BO] 20 Mei 1908  yang diikuti munculnya berbagai organisasi pergerakan bangsa Indonesia lainnya. “[…] jadikanlah hari kebangkitan nasional semacam doktrin yang ampuh dalam menghadapi politik penjajahan dan perbudakan kolonial Belanda,” tandas Ani Idrus kala itu.

  • Laporan Roni Neliati
  • Bagikan berita ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here