Dari Trilogi Novel “Deburan Ombak Selat Malaka”

No. 8

Tini merasa bergelora berada dalam pelukan suaminya. Begitu juga suaminya merasa sekujur tubuhnya bagaikan dikerubungi semut. Lalu ia membopong istrinya ke altar peraduan.

Intipnews.com:Islam yang disyariatkan oleh Allah Ta’ala dengan ilmu-Nya yang Maha Tinggi serta hikmah dan ketentuan hukum-Nya yang maha agung, adalah agama yang sempurna aturan syariatnya dalam menjamin kemaslahatan bagi umat Islam serta membawa mereka meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, bagi setiap umatnya.

Begitu kata Haji Sardan di kantin kampus yang suasananya sepi karena mahasiwa sedang masuk kuliah. Pida dan Lies tidak masuk kuliah karena Haji Sardan menemui mereka katanya ada yang penting. Kendati kedua sahabat dekat Tini ini sudah dapat menduga, pastilah menceritakan tentang Ustadz Daham yang pernah dicintai Tini, yang kondisinya kini sedang sakit parah.

“Jadi, bagaimanalah kita buat Ustadz Daham ini,…” kata Haji Sardan sedih.

“Tidak ada yang bisa dibuat Pak Haji kalau harus mencelakakan orang lain. Janganlah diganggu lagi si Tini yang sudah mendapatkan jalan hidupnya dengan suaminya. Terus terang kami tidak Sudi kalau Tin sampai terganggu pikirannya,..”jawab Pida.

“Lagi pula, dimana hukumnya,… di mana logikanya kalau Ustadz Daham memaksakan diri harus menikahi Tini yang sudah bersuami. Dia pernah bilang saat Ustadz Daham meninggalkan Tini dan memilih Ana jadi istrinya, biarlah semua kenangan itu tersimpan dalam kalbu,…” kata Lies pula.

“Tapi sekarang Ana mengizinkan kalau suaminya menikahi Tini,…” ujar Haji Sardan.

“Itu kan, karena dia takut suaminya mati, kalau tidak bisa menikah dengan Tini. Kenapa dulu diludahkan, sekarang di jilat lagi,” kata Pida tanpa tedeng aliling-aling. Di bawah meja kantin kampus, Lies mencubit paha Pida untuk mengingatkan jangan terlalu kasar begitu.

Maksud Lies, kalau menolak lakukanlah dengan halus.

“Ah! Persoalannya sekarang sudah tidak bisa kata halus. Pak Haji Sardan ini ngotot untuk yang sudah diterangkan, ini tidak logis. Perbuatan yang sangat salah.”

“Ya sudahlah. Saya juga merasa seperti yang kalian rasakan. Cuma saya harus menjalankan amanah Ustadz Daham,….” tutur Haji Sardan.

“Pesan buruk itu bukan amanah yang perlu disampaikan, simpan saja entah di manalah,’’ kata Pida.

Haji Sardan pun mengerti, ia pun pamit setelah membayar makan dan minum yang mereka nikmati bersama. Pida buru-buru mengembalikan uang Haji Sardan itu, dan biar dia yang membayar semuanya. Lalu dia dan Lies menyalami Pak Haji meletakkan belakang tangan Haji Sardan ke kepala mereka saat berpisah.

Sepanjang jalan pulang tiga jam lebih mengendarai sepeda motor, H Sardan terus berdialog dengan dirinya sendiri bagaimana jadinya kelak setelah keinginan Ana untuk suaminya ditolak. Tidak ada celah sedikitpun yang bisa menjadi tempat menyelinap cahaya agar keinginan suaminya dapat terlaksana.

Haji Sardan tidak tega menyampaikan semua ini kepada Ana dan Ustadz yang dapat mempercepat tindakan singkat yang bakal mereka lakukan bersama  sebagai puncak rasa putus asa. Apakah sebaiknya jalan yang dapat ditempuhnya lagi untuk menyelamatkan sepasang anak manusia yang sudah terganggu pikirannya. Sudah rusak cara-cara berpikir sebagaiman orang baik dan normal. Haji Sardan masih terus berpikir keras untuk menolong mereka.

Sementara waktu yang sama Tini duduk berdampingan dengan suaminya menceritakan bagaimana nanti berada di sebuah pesta perkawinan yang dibangun besar, meriah dan indah tinggal satu bulan lagi. Istrinya sudah mengukur pakaian bersamanya. Mereka diperlakukan oleh teman-teman dokter laksana raja, sedikit pun tidak boleh memikirkan soal pesta ini. Segalanya sudah diplot dan disiapkan secara rapi.

Pida dan Lies berikut mama ikut-ikutan sudah dijaitkan pakaian sebagai panitia pesta perkawinan. Malam ini, suami istri bahagia ini duduk disofa, sambil menonton televisi masih saja bercerita tentang pesta perkawinan yang akan mereka hadapi. Betapa gembiranya Tini dengan persiapan pesta yang sangat mahal ini.

“Apa yang mau kita bilang Tin, semuanya kemauan Dokter Gunawan dan kawan-kawan. Mereka merasa biaya untuk peresmian perkawinan kita katanya kecil dibandinga persahabatan, pergaulan dan persaudaraan yang terbangun selama kuliah kedokteran. Dan satu lagi yang membuat dia mau habis-habisan,…” Dokter Muslim sengaja tidak melanjutkan.

“Satu lagi apa Bang?”

“Nanti Abang ceritakan,..” kata suaminya membuat Tini pura-pura marah.

“Marahlah, semakin marah makin cantik. Seperti burung merak, kalau marah semua bulunya terbuka indah,…” kata suaminya. Lalu Tini menjatuhkan badannya ke dada suaminya yang membuatnya megap.

“Aduh,…ampun Tin,…”

“Janji, bilang yang satu lagi, apa,…”

“Ya,..bangkit dulu,…” ucap suaminya sampil memegang pinggang Tini yang ramping dan mengangkatnya. Akhirnya Tini terangkat juga dan berpindah ke samping.

“Kata dokter Gunawan, karena jodohnya cantik sekali. Tidak disangka,…” suaminya tertawa. Tini ikut tertawa senang. Hampir setiap saat dia selalu mendapat pujian soal kecantikan. Sebagaimana dirinya juga sudah terlalu banyak yang mengatakan suaminya ganteng dan gagah.

Keduanya kemudian berpelukan, saling bersyukur kepada sang Pencipta yang telah menyatukan mereka, dua insan ini bagaikan sang pangeran dan putri raja. Tini merasa bergelora berada dalam pelukan suaminya. Begitu juga suaminya merasa sekujur tubuhnya bagaikan dikerubungi semut. Lalu ia membopong istrinya ke altar peraduan. “Bang,…..” suara Tini lirih sekali. * Bersambung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here