Analis keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin

Dibandingkan krisis 97/98 silam, mata uang rupiah diyakini masih berpeluang melemah seiring dengan memburuknya ekonomi global. Kemungkinan resesi lebih cepat…

Medan-Intipnews.com:Pelemahan indeks futures di AS pada pembukaan perdagangan pekan ini adalah berita buruk yang bisa saja memberikan pukulan besar bagi kinerja pasar keuangan domestik. Pagi ini sempat menyentuh level pelemahan 5%.

Ini mengindikasikan akan adanya kemungkinan transaksi saham yang berujung pada penghentian sementara di bursa asia. “Secara keseluruhan indeks bursa di Asia juga mengalami pelemahan pada perdagangan pagi ini, Gunawan.

Kinerja indeks bursa di asia, katanya diperkirakan akan terus mengalami pukulan berat seiring dengan pelemahan bursa di AS nantinya,” kata analis keuangan Sumatera Utara [Sumut], Gunawan Benjamin, Senin 23 Maret 2020.

Pagi ini, lanjut Gunawan Benjamin, IHSG dibuka melemah di level 4.105,03. Dan pelemahan terhadap IHSG masih berlanjut dimana saat ini pelemahannya di level 4.029,23. IHSG melemah nyaris 4%, pada sesi pembukaan perdagangan pagi ini.

Ilustrasi. Istimewa

IHSG akan mencoba level psikologis 4.000 selama perdagangan hari ini. Potensi IHSG melemah cukup besar dan diyakini akan memberikan pukulan berat bagi kinerja pasar keuangan secara keseluruhan.

Di sisi lain, kekhawatiran akan memburuknya penyebaran corona di seluruh negara di dunia, akan terus membayangi transaksi pasar keuangan dunia termasuk Indonesia. “Pagi ini, selain pelemahan IHSG, mata uang Rupiah juga mengalami pelemahan dalam rentang 16.400 hingga 16.600 per US Dolarnya,” tutur Benjamin Gunawan.

Masih Benjamin, seterusnya kinerja mata uang rupiah terpuruk dan merupakan level yang lebih buruk dibandingkan dengan krisis 97/98 silam. Kinerja mata uang rupiah diyakini masih berpeluang melemah seiring dengan memburuknya ekonomi global.

Mata uang di banyak negara lain juga terpuruk saat ini. Dan aktivitas ekonomi masyarakat yang terpaksa harus dibatasi karena corona juga memukul kinerja Rupiah. Dengan banyaknya pabrik, kantor, sekolah, hingga layanan umum masyarakat yang terpaksa ditutup sementara menjadi kekhawatiran pelaku pasar akan kemungkinan resesi yang datang lebih cepat.

Kalau di tahun 1997/98 Rupiah yang melemah memicu terjadinya krisis ekonomi. Saat ini kondisinya berbalik, corona membuat ekonomi mengalami tekanan dan berpotensi memicu terjadinya krisis, yang turut mengakibatkan Rupiah melemah terhadap US Dolar. Jadi pemicu resesi saat ini berbeda dibandingkan masa 22 tahun silam.

* Laporan Roni Neliati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here