Jumlah kemiskinan bertambah drastis, oleh ganasnya Covid 19. Banyak pengusaha anak negeri gulung tikar. “Kalau kau mati gadis kecil berkaleng kecil, bulan di atas itu tak ada yang punya…”

Intipnews.com:BADAI belum berlalu, masih menerpa manusia di bumi dengan sang virus corona pencabut nyawa. Manusia sehebat dan sepintar apa pun disudutkan, untuk tidak mampu berbuat banyak, kecuali tersekap pada new culture, bagaimana supaya hidup dengan keseimbangan bersama [berdamai?] dengan corona.

Bulan suci Ramadan, bulan ibadah puasa, umat Muslim harus berjalan di tengah Covid 19, dengan berdiam di rumah. Mematuhi imbauan Pemerintah untuk memutuskan rantai penularan virus celaka.

Sangat dilarang berkumpul dan menciptakan keramaian. Ibadah di rumah, melakoni kehidupan tanpa mencari nafkah, kecuali menunggu bantuan, menengadahkan tangan pasrah untuk dapat sembako pemerintah. Sementara bantuan sosial dirundung berbagai masalah.

Hidup di negeri kaya ini berubah dengan cepat, tercipta kecemasan dan ketakutan. Hidup cuma ada tiga pilihan, “Mau tinggal di rumah, atau tinggal di rumahsakit, atau mau tinggal kenangan,” seperti diucapkan Bupati Batu Bara H Zahir kepada warganya.

Rakyat hidup dalam ketidakpastian aturan. Larangan keras, lalu longgarkan, kemudian boleh berkumpul asal mengikuti protokol kesehatan versi pemerintah. Sementara jumlah kemiskinan terus juga bertambah drastis oleh ganasnya Covid 19. Tidak sedikit pula pengusaha anak negeri ambruk dan gulung tikar.

Tiba-tiba, teringat pula sebait puisi Toto Sudarto Bachtiar, “Kalau kau mati gadis kecil berkaleng kecil, bulan di atas itu tak ada yang punya.”

Dari rentetean kepedihan dan penderitaan, Idul Fitri bersama fajar 1 Syawal 1441 Hijriah pun datang. “Melalui Idul Fitri, pertanda bahwa aku yang sejati telah menyembelih aku yang palsu. Aku yang palsu yaitu aku yang terkontaminasi dengan kemashuran, kekuasaan, keangkuhan, harta dan syahwat,” kata Jalaludin Rumi.

Rumi menyapa Idul Fitri, menyambut kehidupan yang fitri, mengingatkan kita setelah melata-lata di kehidupan penuh onak dan duri-duri virus corona. Setelah dijawab dengan ketabahan dan taqwa, beribadah puasa dengan berbagai kepedihan, dan menang!. Berkumandanglah suara takbir, tasbih, tahmid dan tahlil.

“Imbang berimbang irama kehidupan, saling berlomba irama kematian,” kata Aristophanes dalam naskah dramanya Lisystrata. Apakah drama tragedi virus corona yang dimaksud Aristophanes dihadapi dengan imbang berimbang berdamai dengan virus corona untuk mencapai kehidupan baru [new culture]. Bukan sekadar berlomba untuk pamer kekuatan dan merasa hebat, dengan perbuatan-perbuatan nekat!.

*Penulis adalah, Ketua Dewan Redaksi Intipnews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here