Ancam Keselamatan Warga Sipil di Papua, KST Harus Ditumpas

26

Oleh : Nhoplent Gloria Kapayai

Kelompok Separatis dan Teroris (KST) sama sekali tidak berhenti melancarkan berbagai macam aksi kebiadaban dan kekejian yang sama sekali tidak manusiawi. Masyarakat pun mendukung penuh tindakan aparat keamanan untuk memberantas gerombolan separatis tersebut.

KST Papua dilaporkan kembali melakukan penyerangan dengan membakar gedung SMPN 1 Gome dan rumah adat di Kabupaten Puncak, Papua Tengah pada Jumat (10/11).  Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Papua Kombes Pol. Ignatius Benny Ady Prabowo mengatakan, terbakarnya gedung tersebut disertai tembakan flare sebanyak 10 kali. Menurut Benny, sekitar 400 meter dari lokasi kebakaran terdengar suara tembakan yang mengarah ke pos Kodim.

Tidak tanggung-tanggung, bahkan dari adanya insiden penyerangan tersebut gerombolan separatis itu sampai menyebabkan ratusan warga Gome mengungsi ke Pos TNI Satgas 300/Bjw untuk minta perlindungan. Tentu saja dengan banyaknya aksi kebiadaban dan kekejian yang sama sekali tidak manusiawi terus dilancarkan oleh mereka, membuat aparat keamanan sama sekali tidak akan pernah mentolerir seluruh bentuk kekerasan apapun yang terjadi di Tanah Papua.

Berdasarkan keterangan dari Kepala Staf Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III Marsda TNI Deni Hasoloan Simanjuntak mengungkapkan ada sekitar 200 orang warga dari 10 kampung di Gome mengungsi karena takut dengan KST. Warga lalu ditempatkan di Gereka Bethel Jenggernok serta di honai-honai di sekitar Pos Gome. Sehingga kondisi mereka terpantau. 

Kepala Suku Besar Kabupaten Puncak Abelom Kogoya mengaku meminta perlindungan ke prajurit yang bertugas di Pos Gome karena takut dengan gangguan KST. Hal ini tentu saja lumrah terjadi, sebab KST diketahui tega melukai siapapun, termasuk Orang Asli Papua (OAP). 

Aparat keamanan kemudian mempersiapkan banyak kalkulasi untuk melakukan tindak tegas dan terukur kepada KST Papua, yang bertujuan agar tidak terlalu banyak menimbulkan korban jiwa lagi. Dalam hal itu, pihak aparat keamanan juga menggandeng berbagai pihak terkait lainnya untuk bekerja sama dengan seksama dalam mengungkap seluruh pelaku di balik banyaknya kejahatan yang terus dilancarkan oleh gerombolan teroris di Bumi Cenderawasih tersebut.

Lebih lanjut, pihak aparat keamanan juga akan terus meningkatkan upaya pengamanan mereka demi memastikan seluruh aktivitas masyarakat bisa berjalan dengan baik dan lancar serta dalam kondisi yang kondusif. Terlebih, sebentar lagi pelaksanaan pesta demokrasi dan kontestasi politik dalam perhelatan Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2024 mendatang akan segera digelar, sehingga sudah sangat jelas bahwa aparat keamanan sama sekali tidak menginginkan adanya gangguan dari pihak manapun yang berseberangan dengan ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) untuk terus mengacau.

Sebelumnya KST juga diberitakan terlibat dalam penyerangan warga sipil yang berprofesi sebagai pekerja tambang. Menurut Kepala Operasi Satuan Tugas Tugas (Kaops Satgas) Operasi Damai Cartenz, Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Faizal Ramadhani mengatakan bahwa tatkala setelah insiden tersebut terjadi, pihak aparat keamanan sendiri langsung bergerak dengan sangat cepat tanggap dalam menerjunkan para personelnya untuk menuju ke lokasi dan melakukan evakuasi kepada para korban yang merupakan warga sipil itu.

Akan tetapi, tatkala hendak melakukan evakuasi, ternyata aparat keamanan dari personel gabungan yang dipimpin langsung oleh Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Yahukimo, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Heru Hidayanto sempat terlibat kontak tembak dengan KST Papua yang sedang berjaga di lokasi kejadian.

Ketika aparat keamanan sampai di lokasi, mereka sempat mendapatkan gangguan berupa tembakan dari gerombolan separatis itu, sehingga terjadinya kontak tembak pun tidak dapat dihindari, yang mana berlangsung selama 1 jam 30 menit.

Dilaporkan pula bahwa bukan hanya sekedar menyerang para pekerja tambang saja, KST pimpinan Egianus Kogoya itu juga turut melakukan pembakaran terhadap 3 unit kendaraan eskavator, 2 unit truk dan 1 unit Kamp Pendulangan. Kemudian menanggapi adanya kekerasan yang terus saja terjadi dan menimpa korban para warga sipil yang berada di Tanah Papua, aparat keamanan telah memastikan akan melakukan pengusutan tuntas dan menangkap para pelaku penyerangan itu. Pengejaran langsung dilakukan demi bisa menegakkan hukum dengan tegas pada KST Papua.

Gerombolan KST Papua sama sekali tidak berhenti dengan terus melakukan teror dan melancarkan berbagai macam aksi kebiadaban, kekejian dan kekejaman yang sama sekali tidak manusiawi. Mereka terus saja mengancam keselamatan dan kedamaian dari warga sipil yang berada di Tanah Papua termasuk melakukan pengrusakan pada berbagai fasilitas umum.

Penulis adalah Mahasiswa Papua tinggal di Kupang