Apresiasi Langkah Pemda Mengantisipasi Radikalisme Jelang Pemilu 2024

27

Oleh: S. A. Pamungkas 

Pada tahun politik saat ini, Pemerintah pusat maupun daerah terus berupaya untuk mengantisipasi serta menangkal ancaman dan gangguan yang akan mulai muncul. Salah satu diantaranya adalah penyebaran paham radikal, intoleransi, dan terorisme. Adapun upaya-upaya yang dilakukan adalah mengadakan seminar maupun sosialisasi khususnya kepada generasi muda yang berada pada lingkup sekolah, kampus maupun pondok pesantren.

Satuan Tugas (Satgas) Operasi Madago Raya Polda Sulawesi Tengah membekali masyarakat dan santri di Pondok Pesantren Al-Izzah As’adiyah Tolai, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Mountong untuk menangkal paham radikal dan intoleransi jelang Pemilu melalui kegiatan Tabligh Akbar.

Kepala Operasi (Kaops) Madago Raya Polda Sulteng, Komisaris Besar Polisi Deny Jatmiko mengatakan tabligh akbar ini bertujuan untuk memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat (harkamtibmas) di Provinsi Sulawesi Tengah. Deny menjelaskan tabligh akbar ini sebagai bentuk cooling system untuk menghindari segala potensi yang dapat menimbulkan konflik di Tengah masyarakat menjelang Pelaksanaan Pemilu.

Hal ini juga sejalan dengan tugas pokok dan fungsi satgas ops Madago Raya dalam upaya memberikan pemahaman kepada masyarakat dan generasi muda terkait bahaya radikalisme serta intoleransi. Narasumber yang dihadirkan dalam kegiatan tabligh akbar tersebut tentu memiliki pengalaman di bidangnya serta memiliki kapabilitas untuk memberikan materi kepada masyarakat dan para santri terkait bahaya radikalisme serta intoleransi.

Pemerintah Daerah maupun intansi terkait lainnya, lebih sering bersinggungan langsung dengan masyarakat. Hal ini guna meningkatkan kesadaran dan menambah pengetahuan masyarakat agar turut berkontribusi secara langsung dalam menciptakan situasi kamtibmas yang aman dan damai.

Selain itu, Tim Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Polri melakukan penelitian tentang penguatan peran Polri dalam menanggulangi intoleransi dan Radikalisme guna mencegah terorisme, di Polres Mempawah. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Ketua Tim Penelitian Kombes Pol Saefudin Mohamad beserta rombongan serta diikuti oleh seluruh Personel Polres Mempawah beserta instansi-instansi di Pemerintah Daerah Kabupaten Mempawah.

Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Mempawah, AKBP Sudarsono mengatakan, kedatangan Tim Puslitbang Polri dalam rangka kegiatan penelitian tentang penguatan peran Polri dalam penaggulangan intoleransi dan Radikalisme guna mencegah terorisme pada tahun politik. Sudarsono berharap acara ini dapat bermanfaat dan berguna guna mendukung kamtibmas di Kabupaten Mempawah

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Tim Penelitian Kombes Pol Saefudin Mohamad mengucapkan terimakasih kepada Kapolres dan personel Polres Mempawah serta para undangan yang juga turut hadir. Pelaksanaan penelitian tentang penguatan peran Polri dalam penaggulangan intoleransi dan Radikalisme guna mencegah terorisme tahun 2023, dalam rangka untuk mengetahui tantangan Polri dalam upaya menanggulangi terjadinya terorisme dan kegiatan ini akan dilaporkan ke Pimpinan Polri.

Kombes Pol Saefudin Mohamad mengatakan, penelitian yang dilaksanakan untuk mengidentifikasi dan menganalisis tantangan yang dihadapi oleh personel Polri khususnya personel Polres Mempawah dalam penanggulangan intoleransi dan Radikalisme guna mencegah terorisme. Mengetahui peran Polri dan masyarakat dalam mengantisipasi paham intoleransi dan Radikalisme guna menjaga stabilitas kamtibmas di lingkungan masyarakat.

Selain itu, tujuan aparat kepolisian melakukan sosialisasi dan penelitian, tentu untuk mencegah potensi terjadinya bibit-bibit intoleran sehingga seluruh personel agar tidak terpapar atau terdampak paham intoleransi dan radikalisme serta agar Pemilu 2024 tetap berjalan damai dan berintegritas.

Tentunya, harus ada harmoni yang harus dijaga oleh seluruh pihak selama pelaksanaan Pemilu 2024. Selain itu, tujuan sinergitas dan harmoni adalah mewujudkan Pemilu 2024 yang damai, jujur, adil dan berintegritas serta mewujudkan pemilu sebagai sarana integrasi bangsa dengan menolak segala bentuk tindakan yang bertentangan dengan aturan.

Disamping generasi muda, perempuan berperan strategis dalam mencegah radikalisme, terutama dalam membentengi keluarga dan masyarakat dari segala bentuk penyebaran dan ajakan kelompok radikal. 

Kasubdit Kerja Sama Asia Pasifik dan Afrika Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Harianto mengatakan merujuk hasil survei BNPT pada 2020 menyatakan bahwa faktor yang paling efektif dalam mereduksi potensi radikalisme secara berturut turut adalah diseminasi sosial media, internalisasi kearifan lokal, perilaku kontra radikal dan pola pendidikan keluarga pada anak.

Menurut hasil survei tersebut, ada beberapa faktor yang paling efektif, termasuk peran wanita karena terkait pendidikan keluarga pada anak. Perempuan memiliki posisi sangat vital dalam keluarga bahkan dalam masyarakat secara lebih luas. Perempuan dapat menjadi filter atau pendeteksi awal dari setiap kejanggalan yang ditemukan dalam keluarga masing-masing.

Karena itulah, kunci penanaman karakter dan jati diri anak banyak bertumpu pada peran perempuan. Perempuan dalam peran seperti ini sebenarnya menjadi salah satu benteng dari pengaruh paham dan ideologi radikal yang saat ini juga mulai menyasar pada anak usia dini. Maka diperlukan upaya penanaman nilai kebangsaan, wawasan keagamaan dan kearifan lokal dalam keluarga menjadi sangat efektif sebagai filter dalam menangkal penyebaran radikalisme terorisme.

 Penulis adalah tim redaksi Saptalika Jr. Media