BI: Perekonomian Sumut Mulai Meningkat

9
BI: Perekonomian Sumut Mulai Meningkat
Foto: Istimewa

Medan-Intipnews.com: Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Utara Soekowardojo memperkirakan perekonomian Sumatera Utara (Sumut) akan meningkat secara gradual seiring dengan terus berlangsungnya program vaksinasi. Serta tercapainya target herd immunity.

“Meskipun perkembangan kasus positif Covid-19 serta penerapan kebijakan PPKM kita prakirakan akan menahan laju permintaan domestik. Namun upaya akselerasi vaksinasi kita proyeksi menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi,” terang Kepala Kantor Perwakilan BI Sumut, Soekowardojo dalam kegiatan Bincang Bareng Media, Selasa (14/12/2021).

Dari sisi eksternal, perbaikan ekonomi dunia mendorong volume perdagangan dari Sumut.  yang diiringi dengan masih tingginya harga komoditas. Dari sisi domestik, inflasi akan tetap terkendali didukung oleh penguatan nilai tukar rupiah.

Selanjutnya katanya, pertumbuhan perekonomian Sumut pada tahun 2020 mengalami kontraksi yang cukup dalam -1,07% (yoy).Hal ini sejalan dengan proyeksi Sumatera, peningkatan harga komoditas juga menjadi faktor pendorong ekonomi Sumut pada tahun 2021. Sehingga pada keseluruhan tahun 2021, ekonomi Sumut di prakirakan akan terakselerasi dengan range pertumbuhan 2,5-3,3%.

“Investasi infrastruktur strategis nasional yang juga terus berjalan semakin mendorong pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara. Dari sisi konsumsi Pemerintah diperkirakan juga akan meningkat karena aktivitas yang kembali normal mendorong optimalisasi belanja operasi dan belanja modal,” jelasnya.

Dalam kesempatan ini, Soekowardojo juga menuturkan secara umum inflasi Sumatera Utara tahun 2021 diperkirakan masih dalam rentang sasaran nasional 3%±1% dengan potensi bias bawah.Kondisi tersebut masih sejalan dengan membaiknya kondisi perekonomian didukung percepatan program vaksinasi oleh pemerintah.

“Namun, peningkatan inflasi lebih lanjut tertahan oleh masih terbatasnya pemulihan ekonomi, serta rencana pembatasan kegiatan pada akhir tahun 2021,” terangnya. Dan jelasnya faktor pendorong inflasi adalah kenaikan harga CPO. Sehingga mendorong peningkatan harga produk turunannya seperti minyak goreng. Kemudian  pemberlakuan kebijakan pelonggaran LTV & DP Kendaraanbermotor dan kebijakan pemerintah terkait insentif PPnBM. Ini  diperkirakan mendorong konsumsi kendaraan bermotor.

Lalu optimisme yang membaik seiring dengan percepatan implementasi program vaksinasi. Begitu juga dengan kenaikan harga rokok kretek filter seiring dengan rencana pemerintah menaikan cukai rokok pada 2022 mendatang.“Dan terakhir kenaikan tarif angkutan udara seiring aktivitas menyambut Nataru,” terangnya

Kemudian faktor penahan inflasi adalah risiko penyebaran wabah Covid-19 varian Omicron berdampak pada terbatasnya aktivitas ekonomi masyarakat.

 Lalu kecenderungan masyarakat melakukan penundaan pembelian, karena restriksi aturan di masa pandemi dan faktor berjaga-jaga.“Masih terbatasnya aktivitas usaha hotel, restoran, dan kafe. Serta optimisme masyarakat untuk beraktivitas belum pulih sepenuhnya menjadi penahan inflasi juga,” tandasnya. * itp05