Ciptakan Suasana Nataru Bebas Dari Ancaman Radikalisme

13

Oleh: Davina Gunawan 

Umat Kristiani dan Katolik akan merayakan Natal pada Senin, 25 Desember 2023 mendatang. Masyarakat harus bisa mewaspadai potensi ancaman radikalisme dan terorisme menjelang perayaan natal tersebut, sehingga terciptanya suasana Natal yang sejuk, dan damai. Masyarakat juga harus bisa lebih toleran terhadap perbedaan yang ada di Indonesia termasuk kepada perbedaan agama, keyakinan, maupun hal lainnya yang dianut di Tanah Air. Sebab, dengan menjaga kerukunan antar umat beragama, serta persatuan dan kesatuan bangsa dapat mewujudkan situasi yang kondusif dan terbebas dari paham-paham radikalisme.

Berkaca dari peristiwa pada Natal tahun 2022 lalu, masih banyak ditemukan aksi-aksi radikalisme yang mengganggu jalannya perayaan Natal. Misalnya, bom bunuh diri yang meledak di Polsek Astanaanyar, Kota Bandung. Peristiwa tersebut tentunya menambah daftar panjang aksi radikalisme dan terorisme yang terjadi menjelang Natal dan Tahun Baru. Setelah diselidiki, pelaku pun sengaja memilih momen Natal untuk menyebarkan ketakutan terhadap kelompok tertentu.

Selain itu, terjadi pula penangkapan terduga teroris yang dilakukan oleh Densus 88 Antiteror Polri di wilayah Sukoharjo, Jawa Tengah. Pada saat itu, tim Densus 88 Antiteror Polri menangkap empat terduga teroris jaringan Jamaah Islamiyah (JI) dan menangkap seorang terduga teroris lainnya di wilayah lain, yaitu di Provinsi Lampung. 

Seminggu kemudian, tiga terduga teroris kembali ditangkap di Kalimantan Tengah.

Diketahui, aksi terorisme yang memanfaatkan momentum Natal dan Tahun Baru di Indonesia sudah berlangsung lama dengan catatan adanya inovasi pola yang digunakan seperti pendekatan perseorangan menjadi kelompok, lalu melakukan pendekatan kepada keluarga, kemudian memanipulasi logika berpikir anak-anak, hingga migrasi dari tradisional ke modern dengan meng-cover teknologi sebagai sarana melakukan tindakan penyebaran paham radikalnya

Selanjutnya, terdapat pola komunikasi dan gerakan kaum radikal yang sampai saat ini belim mengalami perubahan. Seluruh pola komukasi dan tindakan mereka masih kuat teroganisir dalam sel-sel terorisme dan masih banyak tersebar di Indonesia. Dalam banyak kasus yang terungkap, aksi terorisme selalu dilakukan secara kelompok dan mereka akan tetap melakukan tindakannya secara linier dengan tingkat kerahasiaan yang sangat tinggi.

Merespon hal ini, pengamat terorisme, Al Chaidar mengatakan bahwa jaringan terorisme sengaja melakukan aksi penyerangan menjelang waktu-waktu perayaan agama tertentu, termasuk perayaan Natal. Upaya ini dilakukan untuk menyebarkan teror sehingga berpotensi menurunkan kredibilitas Pemerintah di mata masyarakat dalam menjaga keamanan di Indonesia.

Melihat aksi penyerangan tersebut merupakan sebuah pola tahunan, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melakukan antisipasi dan mitigasi kemungkinan terjadinya aksi-aksi radikalisme serupa di tahun 2023 ini. Sebagai langkah pencegahan radikalisme dan terorisme, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol. Prof. Dr. H. Mohammed Rycko Amelza Dahniel mengatakan bahwa agar masyarakat tidak terpengaruh oleh propaganda milik kelompok-kelompok radikal di media cetak maupun media sosial menjelang perayaan Natal 2023 dan Tahun Baru 2024.

Selain itu, Komjen Pol. Rycko Amelza juga menegaskan bahwa pihaknya bekerja sama dengan seluruh lapisan masyarakat untuk melakukan pendekatan soft approach dengan cara transformasi wawasan kebangsaan, revitalisasi nilai-nilai Pancasila, moderasi dalam beragama, pelestarian akar budaya bangsa, dan transformasi pembangunan kesejahteraan.

Mencermati kondisi tersebut, Pemerintah melalui aparat keamanan perlu meningkatkan penebalan pengamanan di tempat keramaian dan rumah-rumah ibadah agar menciptakan rasa aman seluruh masyarakat. Antisipasi negara dalam deteksi dini ancaman terorisme juga harus diperkuat. Hal ini disebabkan adanya pola baru pelaku teror yang melibatkan keluarga karena dianggap paling efektif. Aksi terorisme pun selalu mencari peluang momentum yang tepat dalam upayanya mengirimkan pesan radikal kepada negara akan eksistensi mereka, serta membangkitkan perasaan takut di tengah masyarakat.

Sementara itu, Ketua Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) Bidang Keagamaan, KH. Ahmad Fahrur Rozi yang biasa disapa Gus Fahrur Rozi menilai bahwa kondisi keamanan jelang Natal 2023 ini cukup aman dari tindakan radikalisme. Menurutnya, masyarakat saat ini sudah mulai sadar akan bahaya dari aksi radikalisme. Pihaknya meyakini bahwa sikap toleransi antar umat beragama sangat penting dalam menjaga kerukunan bangsa, dan masyarakat Indonesia sudah menjalankan agama masing-masing dengan baik tanpa mengganggu kepercayaan orang lain.

Pihaknya menambahkan bahwa PBNU akan ikut terlibat dalam menjaga keamanan dan ketertiban sebagai bentuk pencegahan tindak intoleransi dan radikalisme jelang Natal dan Tahun Baru. Lebih lanjut, moderasi beragama harus dimulai dengan bersikap adil. Setiap masyarakat harus memberikan ruang untuk setiap perbedaan termasuk berbeda agama.

Aksi terorisme maupun akar pemikiran radikalisme merupakan tanggung jawab bersama, bukan otoritas negara saja melainkan bagaimana masyarakat membangun kesadaran akan tanggung jawab serta berkomitmen melawan radikalisme. Partisipasi masyarakat juga perlu terus diperluas, terutama para pemuka agama, para pendidik, maupun politisi yang perlu melawan isu sara, menempatkan terorisme sebagai musuh bersama, dan mengamalkan ideologi Pancasila.

Penulis merupakan Pengamat Politik, Pershada Institut.