Disiplin Prokes Cegah Transmisi Lokal Omicron

18
Ilustrasi-Istimewa
Foto Ilustrasi | Ist

Oleh : Denny Gumilar

Penerapan disiplin Prokes masih jadi prioritas utama hadapi serangan Omicron, khususnya yang mulai banyak didominasi oleh kasus transmisi lokal. Masyarakat pun diimbau untuk selalu waspada  karena Pandemi Covid-19 belum berakhir.

Penurunan angka penyebaran Covid-19 merupakan angin segar bagi semua pihak. Tak hanya bagi sektor kesehatan, bidang ekonomipun seolah ada harapan untuk bangkit lagi. Namun, faktanya kini varian terbaru dari virus sebelumnya diklaim telah menyebar kembali di sejumlah negara. Varian Omicron diklaim memiliki angka penyebaran lebih cepat, dengan gejala dan dampak yang lebih buruk.

Bahkan, di Indonesia sendiri juga telah ditemukan beberapa kasus terkait Omicron. Kendati masih sedikitnya kasus, namun seluruh elemen masyarakat tidak boleh kendor dalam melakukan disiplin Prokes.

Kasus yang telah tercatat sebanyak 47 kasus, dengan rincian 46 kasus impor serta 1 kasus transmisi lokal. Yang terbaru kabarnya menyerang laki-laki berusia 37 tahun. Dimana dirinya tidak ada riwayat perjalanan ke mancanegara, dalam beberapa bulan terakhir. Pun dengan kontak para pelaku perjalanan mancanegara.

Dengan ditemukannya kasus transmisi lokal pertama ini, tentunya dibutuhkan pengawasan sangat ketat. Utamanya para petugas medis serta fasilitas yang komplit guna meminimalisir penyebaran yang bisa saja terjadi. Apalagi jika kondisi pasien tidak memiliki gejala apapun.

Sehubungan dengan hal tersebut Satgas Covid-19 dilaporkan memiliki 5 strategi untuk menghadapi varian Omicron. Selain melakukan sejumlah pengetatan pintu masuk di Indonesia, disiplin Prokes secara ketat masih jadi prioritas utama. Wiku Adisasmito selalu Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Pemerintah atas penanganan Covid-19 mengutarakan ke-lima strategi berikut.

Strategi pertama ialah pengkajian ulang atas kebijakan pembatasan pada pintu masuk negara. Kedua, mendongkrak Whole genome sequencing atau WGS agar makin cepat dalam pendeteksian keberadaan Omicron.

Strategi ketiga ialah memastikan mobilitas khalayak ramai atau masyarakat dilakukan secara aman. Keempat, menggencarkan upaya testing serta tracing terutama kepada para pelaku perjalanan secara internasional.

Untuk strategi terakhir atau kelima, penerapan Prokes dengan ketat apalagi sebagai tindakan antisipasi Natal dan tahun baru yang baru saja disambut. Menurut Wiku, liburan akhir tahun berpotensi meningkatkan penyebaran Covid-19. Sebab, banyaknya agenda yang menimbulkan kerumunan atau kontak dengan orang lain.

Asumsinya ialah, penyebaran varian Omicron akan meledak pada momentum-momentum tersebut. Sama seperti kasus sebelumnya, dimana Covid-19 mengalami penyebaran sangat masif kala liburan Akhir tahun. Bahkan, terdiri dari beberapa klaster sehingga membuat sektor kesehatan kembali terpuruk. Tata ekonomi yang sebelumnya mulai bergeliat, kembali ambruk.

Meski demikian, pemerintah dan berbagai pihak terkait tak henti-hentinya untuk selalu mengingatkan Prokes secara ketat. Sebab, bukan tak mungkin Omicron bakal merebak secara cepat. Sehingga dibutuhkan kesiapan hingga kewaspadaan dalam menghadapi hal tersebut.

Apalagi, pemerintah juga turut melakukan pemantauan atas peningkatan risiko penularan virus tersebut. Baik dalam level provinsi maupun ke level kabupaten. Ditambah lagi, pemerintah daerah dan pusat terus berkolaborasi dengan seluruh pihak melakukan pantauan akan adanya potensi klaster. Pun dengan beragam penilaian apakah ada keterikatan dengan varian baru Omicron.

Dalam perjalanannya, segala tindakan dan strategi pemerintah pastinya menuai pro-kontra. Sebab, terkadang kebijakan-kebijakan ini ditanggapi berbeda di setiap daerah. apalagi jika daerah tersebut memiliki kasus Covid-19 yang kecil. Sehingga sikap menyepelekan kerap saja terjadi. Belum lagi ditambah tagline sudah vaksin.

Padahal vaksin hingga Prokes disiplin adalah salah satu upaya pencegahan atas penularan Covid-19. Vaksin dan Prokes memang tidak sepenuhnya menghindarkan kita dari bahaya virus tersebut. Namun, setidaknya antibodi kita menjadi lebih kuat. Atau mampu mendongkrak daya tahan tubuh.

Selain kedua upaya tersebut, tentu harus didukung langkah-langkah lain seperti menerapkan pola hidup sehat. Sehingga, lengkaplah upaya kita menamengi diri dari berbagai kemungkinan tertularnya virus Omicron tersebut.

Akhirnya, semua upaya ini akan berhasil dengan dukungan dari segala pihak. Penerapan Prokes secara ketat ini wajib dilakukan dengan disiplin. Apalagi terkait pola pikir yang mestinya tetap waspada diantara banyak kemungkinan. Ingat, mencegah tentunya lebih baik ketimbang mengobati bukan? Jangan biarkan nyawa melayang percuma dengan doktrin-doktrin yang tidak benar yang kerap kali dishare ke publik. Kesehatan adalah yang utama, mari jaga dan lindungi satu dengan yang lainnya.

Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute