Elemen Masyarakat Papua Tolak Peringatan HUT OPM

21

Oleh : Yowar Matulessy 

Berbagai macam elemen dan latar belakang dari masyarakat di Papua menolak keras adanya peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Organisasi Papua Merdeka (OPM). Pasalnya selama ini kelompok tersebut terus saja melancarkan banyak sekali tindak kekerasan dan juga terorisme, sehingga mereka juga layak dilabeli sebagai Kelompok Separatis dan Teroris (KST).

Dengan sangat tegas, sejumlah kelompok masyarakat yang tergabung ke dalam komponen merah putih melakukan penolakan atas adanya HUT OPM tersebut. Mereka menyatakan bahwa adanya penggencaran narasi akan HUT OPM sendiri merupakan salah satu upaya dari propaganda yang dilakukan oleh KST Papua.

Tentu saja, karena sebagai sebuah bentuk upaya dari propaganda yang dilakukan oleh gerombolan separatis tersebut, sehingga segenap masyarakat di Bumi Cenderawasih sendiri juga harus menyadari serta memahami bahwa ketika propaganda itu berhasil dilakukan, maka memiliki agenda terselubung yakni bertujuan untuk mengonsolidasikan KST Papua sehingga kestabilan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan menjadi semakin terancam.

Salah seorang perwakilan dari lembaga adat di Tanah Papua, Geroge A. Awi dengan sangat tegas menolak adanya peringatan HUT OPM. Bukan hanya menolak, namun dirinya juga menyerukan kepada pihak KST agar sesegera mungkin membebaskan Pilot Suai Air, Philips Mark Mehrtens yang masih mereka sandera.

Sementara itu, Ondoafi Besar Abisai Rollo juga menyampaikan bahwa provinsi paling Timur di Tanah Air ini, sudah final masuk ke dalam bingkai NKRI. Untuk itu, dirinya meminta agar seluruh masyarakat di Papua agar tidak juga ikut membuat gerakan tambahan yang justru semakin merusak kehidupan masyarakat di sana.

Imbauan tersebut disampaikannya secara khusus kepada seluruh warga di Kota Jayapura. Tokoh masyarakat Papua tersebut juga menyampaikan bahwa Kota Port Numbay sendiri merupakan kota yang selalu dilindungi oleh Tuhan, sehingga masyarakat di Jayapura diajak untuk bersama-sama dalam menjaga kota tersebut agar tetap aman dan kondusif dari segala bentuk gangguan keamanan serta ketertiban masyarakat (kamtibmas).

Pria yang menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Jayapura tersebut berpendapat bahwa dalam HUT OPM sendiri sama sekali bukanlah merupakan suatu perayaan atau momentum yang istimewa bagi masyarakat di Papua.

Dirinya kemudian mengimbau kepada seluruh jajaran aparat keamanan termasuk dari Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) untuk bisa semakin melayani semua masyarakat di Bumi Cenderawasih dengan baik, utamanya dari ancaman adanya pergerakan KST Papua yang memang terus saja mengancam keselamatan warga.

Mengenai bagaimana situasi akan adanya banyak ancaman kamtibmas di Papua sendiri, yang disebabkan oleh ulah kelompok separatis dan teroris tersebut, menurutnya itu hanyalah sebagian kecil oknum dari masyarakat di Bumi Cenderawasih yang masih tidak paham dan mereka jelas merupakan kelompok yang tidak bertanggung jawab serta hanya ingin merusak bangsa ini.

Pasalnya, justru masyarakat orang asli Papua (OAP) sendiri merupakan kelompok warga yang sangat cinta akan kedamaian, sehingga masyarakat di Bumi Cenderawasih sama sekali tidak menyukai ataupun tidak menghendaki adanya banyak tindakan kekerasan yang terjadi.

Masyarakat di Papua juga diimbau untuk tidak mudah terprovokasi akan banyaknya upaya propaganda yang terus digencarkan oleh KST Papua. Karena memang gerombolan teroris itu selama ini banyak sekali menyebarluaskan berita bohong ataupun hoaks yang berpotensi semakin merusak keutuhan bangsa.

Di sisi lain, seluruh aparat keamanan dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung ke dalam Satuan Tugas (Satgas) Yonif Mekanis Raider 411 / Pandawa mengamankan sebanyak dua pucuk senjata api yang ditengarai akan digunakan untuk melakukan penyerangan pada aparat.

Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III Kolonel Czi IGN Suriastawa menjelaskan bahwa adanya penyitaan akan senjata tersebut dilakukan berawal dari adanya informasi warga mengenai lokasi yang diduga menjadi tempat persembunyian kelompok separatis da teroris.

Pada saat itu, aparat keamanan melihat seseorang yang berlari ke arah hutan dan meninggalkan barang-barang yang kemungkinan akan mereka selundupkan. Petugas pun kemudian mendapati setidaknya terdapat dua pucuk senjata api jenis M4 dan AR 15 bersama magasin dan senjata angin yang diduga milik KST Papua di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan.

Setelah mendapatkan laporan itu, aparat keamanan langsung melakukan proses penyisiran di sebuah bangunan di Kamp Bandara Batas Batu yang disinyalir menjadi tempat perlintasan KST Papua. Senjata api yang berhasil disita itu ditengarai akan digunakan untuk melakukan penyerangan pada masyarakat dan aparat dalam momentum perayaan HUT OPM pada 1 Desember mendatang.

Dengan sangat tegas, seluruh elemen masyarakat bahkan dari berbagai macam kalangan termasuk tokoh adat di Papua menolak keras adanya peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Organisasi Papua Merdeka (OPM). Keberhasilan dari aparat keamanan untuk mengamankan senjata api dari KST yang diduga akan digunakan untuk menyerang masyarakat dan aparat pada saat momentum HUT OPM tersebut juga patut diberikan apresiasi setinggi mungkin.

Penulis Mahasiswa Papua Tinggal di Manado