Filosofi Kopi Dalam Muhibah MUI

153

Laporan RR Izka Rawi.Wartawan Intipnews. Com

Setiap mushibah atau sebuah perjalanan tentu memperoleh makna. Majlis Ulama Indonesia( MUI) Kota Binjai  bermuhibah yang merupakan rihlah, sebuah perjalanan sebagai  studi guna mendapatkan sejarah atau ilmu yang terkait dengan keagamaan secara luas.

Keutamaan memperoleh perspektif religi,apakah sejarah dari ulama di daerah yang dikunjungi atau juga sisi sosial,pendidikan dan pengembangan agama islam. Tidak luput masalah ekonomi yang tidak bisa ditinggalkan sebagai fundamental kehidupan umat.

Rihlah atau muhibah MUI Binjai ke Takengon selain menunaikan amanat organisasi melaksanakan Musyawarah kerja daerah( Mukerda) sebagai evaluasi dan penyusunan program masa datang, ternyata tidak luntur dan sangat agresif menunaikan Mukerda di Hotel Parkside,Tekengon. 

Sehingga berlangsung sampai dini hari guna menyelesaikan program di tiga komisi yang juga selalu menimbulkan diskusi positip sebagai tanggungjawab organisasi.

80 peserta Mukerda tidak menunjukkan keletihan, apakah hal tersebut pembuktian filosofi kopi yang menyebutkan” Kopi membuat kita berpikir cepat, sedangkan The membuat kita berpikir dalam” Filosofi kopi  ditututurkan dr.Syahrizal Syarif di media NU Online. 

Kopi kini sedang  popular dan mendunia , tentu saja moment muhibah disempatkan mempelajari dan mengetahui bagaimana produk kopi di Gayo yang merupakan terbesar di Indonesia.Seperti pengakuan Wakil Bupati Tekengon, kopi gayo sudah diekspor ke Eropa, Asia dan berbagai negara.

Serta Dokter Syahrizal Syarif  menyebutkan kalau masyarakat Eropa mengenal kopi sebagai minuman wine of muslim.Sehingga sangat rugi jika mushibah MUI Binjai ke Tekengon tidak menyempatkan mengetahi bagaimana proses produk kopi. Yang kebetulah pengurus MUI Binjai H. Hamidan mempunyai keluarga di Takengon yaitu Bapak Muhammad  sebagai pengusaha kopi di Takengon.

Pak Muhammad  banyak memberikan penjelasan tentang kopi,dari mulai proses  rosting dari mulai biji sampai bubuk dan sampai siap jual. Dan ia menjelaskan manfaat kopi baik jenis Arabika dan Robusta secara detail. Serta berbagai nasehat tentang minum kopi. Pak Muhammad mengakui punya kebun kopi seluas 30 ha dan menghasilkan 1 ton perbulan yang siap kirim ke Sumut,Jawa bahkan keluar negeri termasuk Eropah.

Ternyata kopi disebut oleh orang Eropa sebagai wine of muslim,  Ia menyebutkan kalau pernyataan tersebut tidak terlepas dari sejarah yang ada. “Orang eropa pernah menyebutnya wine of Muslim,” ujarnya dikutip Sripoku.com dari kanal Youtube Nu Online.

Menurut dokter Syahrizal Syarif, hal itu menjadi bukti kuat kalau kopi memang betul minuan orang Muslim.”Jadi ini adalah betul-betul minuman orang Muslim,” ucapnya. 

Berbicara soal seajrah kopi, asal muasalnya dari negara Ethiopia, Afrika Timur pada abad ke-9. Kopi ditemukan oleh seorang pengembala Arab bernama Khalid yang mengurusi kambing-kambing di Kaffa, Ethiopia Timur.

Pada abad ke-15 kopi dieskpor untuk pertama kalinya dari Ethiopia ke Yaman dalam bentuk biji kering Saat itu, kopi menjadi minuman para sufi untuk tetap terjaga di malam hari dan di hidangkan pada acara-acara istimewa tertentu sufistik. Sementara di Arab, kopi dijadikan sebagai pengganti minuman anggur.

Persebaran kopi meluas hingga penjuru dunia, bahkan Indonesia.Ternyata cara minum kopi diseruput mempunyai alasannya, berikut penjelasan dokter Syahrizal Syarif. Dokter Syahrizl Syarif mengatakan tradisi kopi di Indonesia berasl dari salah satu syekh bernama asy-Syadzili. Sebagai pemuka agama, Syekh asy-Syadzili saat itu berkunjung ke Ethiopia untuk mempelajari ilmu tasawuf.

Ia menemukan kumpulan orang Ethiopia yang beramai-ramai minum kopi. “Ini diminum beramai-ramai oleh syeik syazili berkunjung ke Ethiopia,” katanya. Hal itu kemudian Ia bawa ke Indonesia dan melekat dalam ajaran tarekat Syadziliyah. “Setelah pulang ke Indonesia ia membuat tradisi baru, melakukan zikir dengan meminum kopi,” ucapnya.

“Ini sebetulnya kopi diminum secara masal dalam tradisi tarekat Syadziliyah,” lanjutnya. Oleh karena itu, menurutnya, umat Muslim menjadi pewaris kopi kalau di lihat dari sisi sejarah. “Jadi sebetulnya umat muslim itu merupakan pewaris kopi, ini dari sisi sejarah,” tambahnya.