G20 Bentuk Kontribusi Besar Indonesia bagi Perdamaian Asia Tenggara dan Indo-Pasifik

114
G20 Bentuk Kontribusi Besar Indonesia bagi Perdamaian Asia Tenggara dan Indo-Pasifik
Ilustrasi-Ist

Oleh : Salsa Aulia

Group of Twenty (G20) merupakan bentuk kontribusi yang nyata dan besar dari Indonesia bagi terwujudnya perdamaian di seluruh kawasan Asia Tenggara dan juga Indo-Pasifik lantaran posisinya sebagai negara yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Indonesia memang merupakan sebuah negara yang sejak dulu menegaskan diri tidak berada dalam blok manapun atau non-blok, terlebih memang sudah menjadi cita-cita para pendiri Bangsa terdahulu untuk mewujudkan dunia yang penuh dengan perdamaian dan menghindari segala macam bentuk potensi konflik. Bahkan sudah termaktub pula dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 bahwa salah satu tujuan dari Bangsa ini memang untuk bisa mewujudkan perdamaian abadi di dunia.

Dengan mengantongi misi tersebut, Indonesia yang menjadi Presidensi dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 memang memiliki kontribusi yang tidak bisa dianggap remeh. Bahkan berbagai hal juga sudah dilakukan secara langsung oleh Presiden RI Joko Widodo dengan mendatangi daerah yang sedang berkonflik melalui kunjungan kenegaraannya dan menyatakan bahkan mendesak supaya perdamaian dilakukan antar kedua belah pihak.

Posisi Indonesia di mata dunia juga sudah sangat semakin kuat lantaran terlihat dari bagaimana banyak negara lain mendukung dengan kuat serta memberikan apresiasinya pada bangsa ini. Bahkan menyinggung kunjungan kenegaraan yang telah dilakukan oleh Presiden Jokowi di tiga negara Asia Timur seperti China, Jepang hingga Korea Selatan, termasuk juga kunjungan beliau ke Rusia dan Ukraina yang memang tengah berkonflik, ternyata Presiden RI ketujuh tersebut selalu mendapatkan respon yang sangat positif dan selalu berakhir dengan berbagai macam kesepakatan.

Terkait dengan konflik yang terjadi di Rusia dan Ukraina sendiri, Indonesia sudah dengan sangat tegas menyerukan supaya peperangan segera diberhentikan karena tentu akan sangat berdampak pada stabilitas global secara luas. Bahkan Presiden Jokowi sendiri juga dengan tegas menyatakan bahwa perang hanya akan menyengsarakan umat manusia serta membahayakan dunia saja.

Bukan hanya sekedar stabilitas keamanan saja, namun Presiden Jokowi juga sempat menyerukan hal yang sama tatkala berpidato dalam pembukaan pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20. Beliau menyatakan bahwa konflik Rusia-Ukraina juga tentu akan menggunggu upaya pemulihan perekonomian yang sejauh ini terus diupayakan oleh banyak negara setelah dihantam dengan pandemi Covid-19 dua tahun terakhir.

Dalam hal ini tentu Indonesia menjadi memiliki tanggung jawab lebih besar, khususnya di Asia Tenggara dan juga Indo-Pasifik dari beragam hal, mulai dari ekonomi sampai pada menjaga ketertiban atau perdamaian antar negara di dalamnya. Maka dari itu segala upaya akan terus dikerahkan untuk mampu menjaga seluruh kawasan tersebut menjadi terus stabil, damai hingga makmur.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Republik Indonesia (RI), Retno Marsudi menyatakan bahwa justru di tengah situasi yang serba genting seperti sekarang ini serta bagaimana sikap beberapa negara yang justru dipenuhi akan psikologis rivalitas bahkan sudah mengarah pada hal-hal yang tidak sehat lagi, Indonesia sendiri justru memiliki sikap yang sangat terbalik. Pasalnya bangsa ini akan terus secara giat menjalin kerja sama dan juga terus menebarkan spirit solidaritas serta perdamaian.

Perlu diketahui pula bahwa Indonesia sendiri merupakan negara terbesar di ASEAN, yang mana memiliki beberapa peran strategis sekaligus, utamanya adalah pada beberapa lingkungan seperti di Laut China Selatan. Bagaimana tidak, pasalnya terdapat kabar bahwa Amerika Serikat (AS) telah melakukan kritik keras terhadap China lantaran mengklaim wilayah tersebut dengan dasar sejarah sembilan garis putus-putus. Klaim yang dilakukan oleh China tersebut sontak ditolak oleh Pengadilan Arbitrase Internasional dengan alasan landasan hukumnya tidak jelas. AS pun, memberikan kritik tajamnya karena menganggap China telah melanggar hukum Internasional.

Dengan potensi serta resiko konflik yang bisa saja terjadi itu, karena memang militer dari kedua belah pihak negara, yakni AS dan China langsung hadir di Laut China Selatan, maka besar pula kemungkinan pecahnya konflik dan merembet hingga di kepulauan Natuna. Terkait dengan hal tersebut Indonesia sebagai negara terbesar ASEAN memiliki peranan dan juga posisi yang sangatlah strategis untuk bisa meredam konflik yang mungkin akan terjadi.

Kasus kedua adalah bagaimana peran penting Indonesia dalam upaya perdamaian di Myanmar lantaran jika konflik di sana terus dibiarkan maka tentu akan mengguncang stabilitas ASEAN pula. Indonesia terus berupaya untuk mampu mengembalikan kekuasaan junta militer di Myanmar supaya diberikan kepada Pemerintahan sipil lantaran rezim junta dinilai telah sangat banyak melakukan pelanggaran HAM berat sehingga pihak oposisi pun terpaksa juga harus melakukan perlawanan bersenjata.

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Indonesia yang merupakan negara senior dan terbesar di kawasan ASEAN akan terus memimpin untuk terciptanya iklim perdamaian serta menjaga stabilitas seluruh negara di kawasan tersebut tanpa terkecuali. Sebagai Presidensi G20 juga, lantas bentuk kontribusi dari Bangsa ini sangatlah besar bagi Asia Tenggara dan Indo-Pasifik.

Penulis adalah kontributor untuk Persada Institute