Incar Rakyat Sipil Papua, KST Harus Ditindak Tegas

28

Oleh : Jessy Wattimena
Karena telah menyasar rakyat sipil dari orang asli Papua (OAP) dalam setiap tindakan mereka yang tidak pandang bulu, tentunya KST Papua wajib untuk diberantas dengan adanya tindakan dan hukum tegas dari seluruh jajaran aparat keamanan.

Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua dilaporkan telah melakukan penyerangan kepada warga masyarakat orang asli Papua (OAP) di Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan. Mereka melakukan penembakan yang mengakibatkan hingga 3 (tiga) orang warga sipil tewas.

Diketahui bahwa peristiwa tersebut terjadi di Kampung Yasoma jalan Batas Batu Kenyam, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan pada hari Rabu tanggal 16 Agustus 2023. Bahkan, informasi lebih lanjut diketahui pula bahwa dua diantara ketiga korban warga sipil yang tewas akibat ditembak oleh gerombolan separatis tersebut merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN).

Tidak hanya ditembak saja, ternyata aksi keji, kejam serta biadab yang dilakukan oleh KST Papua tersebut juga disertai dengan penganiayaan terlebih dahulu kepada para korban hingga korban mengalami berbagai luka di tubuh mereka, yang mana insiden itu terjadi dan bermula pada saat truk yang ditumpangi oleh para korban dibakar gerombolan tersebut pada Rabu malam.

Sontak, setelah mengetahui adanya peristiwa penambakan itu, jajaran aparat keamanan dari personel gabungan yang terdiri dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) berhasil bergerak dengan cepat tanggap untuk melakukan pengevakuasian para korban dan membawa mereka ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Kenyam.

Terbaru, KST menyerang pos Satgas Pamtas Mobile Yon 7 Marinir di Distrik Dekai, Yahukimo, Papua Pegunungan pada Senin (21/8) lalu. Akibatnya Satu orang anggota Satgas Pamtas Mobile Yon 7 Marinir TNI-AL bernama Pratu Agung Pramudi Laksono gugur tertembak oleh KST. Terkait hal tersebut, Dandim 1715 Yahukimo Letkol Inf Tommy Yudistyo menduga, penyebab kontak tembak lantaran KST tak senang dengan pembangunan pos Satgas TNI-Polri di kawasan tersebut.

Memang tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sampai saat ini, Bumi Cenderawasih sendiri, khususnya di Provinsi Papua masih saja terus mengalami adanya berbagai macam gangguan keamanan yang dilakukan oleh KST di sana. Bahkan dalam melakukan deretan aksi keji dan biadabnya, mereka sama sekali tidak pandang bulu siapa saja bisa diserang dan tidak peduli apakah itu dari masyarakat sipil atau tidak.

Lebih kejamnya lagi, bahkan gerombolan separatis dari Provinsi paling Timur di Tanah Air itu juga sempat menggunakan para warga sipil sebagai tameng hidup mereka dalam menjalankan segala rangkaian aksi kejam tersebut. Maka dari itu, dalam rangka untuk bisa mengantisipasi berbagai macam hal tersebut, kemudian Kepala Staf Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Dudung Abdurrachman pun langsung menginstruksikan dengan tegas kepada seluruh prajuritnya, khususnya kepada mereka yang memang bertugas didaerah rawan di Papua untuk bisa terus waspada akan adanya kemungkinan gangguan keamanan.

Dengan sangat tegas, Jenderal Dudung meminta kepada seluruh jajaran prajuritnya yang bertugas untuk bisa selalu mencintai masyarakat orang asli Papua (OAP). Menurutnya memang sudah menjadi bagian dari tugas dan kewajiban dari aparat keamanan untuk bisa selalu melindungi semua lapisan masyarakat dari adanya gangguan.

Tentunya jika ada pihak manapun atau kelompok manapun yang berusaha untuk melakukan gangguan, maka seluruh prajurit aparat keamanan jelas akan langsung melakukan tindakan tegas mereka.

Bagaimana upaya tindakan tegas yang dilakukan oleh aparat keamanan tersebut juga mendapatkan dukungan langsung dari Wakil Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Ahmad Sahroni. Dirinya mengutuk dengan sangat keras akan adanya aksi penembakan yang dilakukan oleh KST Papua tersebut terhadap 3 (tiga) warga sipil di Kabupaten Nduga, terlebih insiden itu justru berlangsung pada momen peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (HUT RI) yang ke-78.

Ahmad Sahroni juga menegaskan dan meminta kepada seluruh aparat keamanan dari personel gabungan yang terdiri dari TNI dan Polri untuk melakukan tindakan tegas namun tetap terukur dalam merespon bagaimana aksi biadab yang dilakukan oleh gerombolan separatis Papua tersebut. Jusru dengan adanya hal itu, maka jangan sampai dibiarkan begitu saja karena tentu akan sangat merusak harga diri bangsa.

Menurutnya, dengan adanya aksi kekerasan yang dilakukan oleh KST Papua dan sangat bertepatan dengan momentum perayaan HUT Kemerdekaan Ri ke-78 merupakan bentuk aksi provokasi yang sangat nyata dan juga sangat terkesan mereka ingin mengusik harga diri serta kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sehingga sama sekali tidak bisa dibiarkan.

Maka dari itu, sudah tentu seluruh jajaran aparat keamanan dari personel gabungan TNI dan Polri harus sesegera mungkin untuk bergerak dengan cepat dalam melakukan tindakan tegasnya menghukum KST Papua agar harga diri bangsa tidak sampai diinjak-injak oleh gerombolan kelompok makar tersebut.

Penindakan sangat tegas dan terukur serta cepat merupakan sebuah hal yang wajib dan penting untuk dilakukan oleh segenap elemen jajaran aparat keamanan dari personel gabungan. Pasalnya semakin ke sini, pergerakan yang dilakukan oleh KST Papua dengan berbagai macam aksi biadab yang mereka lancarkan sudah mulai menyasar kepada warga sipil dan tentunya akan sangat mengganggu kestabilan akan keamanan di Bumi Cenderawasih.

Penulis adalah Mahasisswa Papua Tinggal di Balikpapan