Indonesia Berhasil Capai 3 Agenda Prioritas pada G20

172
G20 Bentuk Kontribusi Besar Indonesia bagi Perdamaian Asia Tenggara dan Indo-Pasifik
Ilustrasi-Ist

Oleh : Rizki Kurnia

Presidensi G20 Indonesia telah berhasil mencapai tiga agenda prioritas G20, yaitu arsitektur kesehatan global, transformasi digital, dan transisi energi di tengah ketidakpastian global.

Kepala Badan Standarisasi Nasional (BSN), Kukuh S Achmad, menyatakan bahwa standar dan penilaian kesesuaian akan sangat membantu seluruh dunia dalam mencapai target untuk pulih secara bersama-sama dengan cara yang berkelanjutan. Menurutnya, sejak dua tahun terakhir ini tatkala pandemi COVID-19 menyerang dan mengakibatkan seluruh aspek kehidupan manusia di dunia berubah, memang seluruh proses penanganan pandemi sama sekali tidak akan berhasil apabila tidak mendapatkan dukungan berupa standar internasional.

Sebagai forum utama ekonomi global, Sri Mulyani menyampaikan bahwa G20 tengah menyepakati sejumlah opsi kebijakan di tengah situasi global yang sulit. Hal tersebut memang sudah menjadi kewajiban para anggota forum KTT G20, terlebih memang tujuan utama dari diadakannya pertemuan internasional itu agar bisa mencarikan solusi atas berbagai permasalahan yang sedang dihadapi oleh dunia.

Hal tersebut termasuk penanganan masalah utang di banyak negara, penguatan jaring pengaman keuangan global, dan peningkatan kapasitas lembaga-lembaga keuangan multilateral. Adapun Indonesia sendiri sebagai Ketua ASEAN pada tahun depan berkomitmen untuk menghadapi tantangan global.

Lebih lanjut, Menteri Keuangan RI itu menambahkan bahwa selaku Ketua ASEAN pada tahun 2023 mendatang, tentunya Indonesia harus memiliki tanggung jawab untuk bisa mewujudkan integrasi ekonomi regional, namun di sisi lain juga harus mampu untuk menghadapi tantangan global dan mendorong kepentingan nasional yang sudah termaktub dalam Priority Economic Deliverables (PEDs).

Selain membahas terkait kepemimpinan global, bendahara negara itu turut membahas sejumlah isu yang menjadi perhatian dunia termasuk Indonesia, yaitu market outlook, transisi energi berkelanjutan, dan transformasi digital.

Terkait market outlook, Sri Mulyani menyampaikan bahwa Indonesia terus melakukan bauran kebijakan untuk mengatasi potensi guncangan di pasar keuangan. Pemerintah Indonesia memperkuat fundamental ekonomi melalui akselerasi pemulihan ekonomi nasional untuk meningkatkan kepercayaan investor. Bukan tanpa alasan, pasalnya memang sejauh ini kondisi fundamental perekonomian Indonesia dinilai masih menjadi salah satu yang terbaik, bahkan tatkala negara-negara besar dunia lainnya terus berkutat dengan inflasi hingga resesi, namun justru perekonomian Indonesia terus bisa bertahan dan bahkan mengalami peningkatan.

Kemudian, terkait transisi energi, Indonesia sedang dalam tahap implementasi Energy Transition Mechanism (ETM) bersama Asian Development Bank (ADB). Transisi energi dari yang sebelumnya masih terus tergantung untuk menggunakan bahan fossil yang sangat terbatas, kini memang sudah seyogyanya untuk dialihkan menjadi penggunaan energi yang terbarukan karena hal tersebut juga demi kebaikan keberlangsungan lingkungan hidup.

Sri Mulyani mengungkapkan bahwa Bagian penting dari transisi energi adalah dukungan investasi terkait inovasi teknologi dan pendanaan untuk negara berkembang melalui komitmen mobilisasi dana US$100 miliar dari negara maju (Newly Collective Quantified Goals).

Dengan adanya upaya saling dukung dan membantu tersebut juga memang menjadi tujuan utama diadakannya forum G20 karena semangatnya melakukan pemulihan secara bersama-sama. Seluruh negara memang harus saling membantu karena tidak mungkin ancaman krisis global bisa ditangani jika sendirian.

Sementara, terkait transformasi digital, dia melihat bahwa digitalisasi merupakan perangkat penting yang membantu sektor  industri untuk mencapai tujuan pembangunan, termasuk mitigasi perubahan iklim. Semua pihak memang saat ini harus mulai bisa beradaptasi dengan memanfaatkan perkembangan tekonologi digital di era modern. Pasalnya tentu bahkan dalam konteks apapun, jika adaptasi dan pembaharuan tersebut tidak dilakukan tentu akan menjadikan suatu negara menjadi tertinggal sehingga sulit untuk berkembang.

Terlebih masyarakat dunia saat ini bahkan bisa dikatakan sudah sangat tergantung dengan adanya digitalisasi, yang mana terlihat dari bagaimana pemanfaatan produk-produk ataupun berbagai layanan yang saat ini bisa diakses secara digital karena dianggap sangat mempermudah dan jauh lebih praktis dalam penggunaannya.

Disisi lain, dia menekankan pentingnya pengaturan yang lebih baik untuk lembaga-lembaga keuangan non-bank seiring dengan munculnya berbagai inovasi di bidang digital finance, seperti crypto assets. Sektor keuangan dan perbankan juga perlu untuk memperkuat kerja sama keuangan berkelanjutan, utamanya melalui partisipasi sektor swasta. Menurut dia, hal ini penting dalam rangka meningkatkan mobilisasi dan intensifikasi partisipasi modal swasta.

Dalam upaya mengejar percepatan pemulihan ekonomi global, peran swasta sendiri juga menjadi faktor yang sangat penting untuk bisa membantu dan menunjang hal tersebut. Karena apabila dukungan dari swasta tidak mampu terwadahi dan terakomodasi dengan baik, tentu saja akan menjadi sangat sulit apabila seluruh beban dan tanggungan tersebut hanya dibebankan oleh lembaga negara saja.

Keberhasilan dan kesuksesan mampu dicapai oleh Indonesia dalam agenda KTT G20, yakni dalam rangka pemenuhan 3 agenda yang menjadi prioritas dalam ajang tersebut. Pertama adalah mengenai arsitektur kesehatan global yang sangat penting adanya dukungan standar internasional, yakni tatkala upaya penanganan pandemi COVID-19. Kemudian transformasi digital yang juga sangat penting karena di era sekarang seluruh hal sudah masuk ke ranah digital dan mengenai transisi energi menuju pemanfaatan energi terbarukan untuk kepentingan keberlangsungan lingkungan hidup.

 Penulis adalah kontributor Ruang Baca Nusantara