Jadikan Buah Rambutan Sebagai Simbol

1270

Catatan: RR Izka Rawi( Wartawan Intipnews.com)
Orang cerdik akan berusaha merubah kerugian menjadi keuntungan. Sedangkan orang bodoh akan membuat suatu musibah menjadi bertumpuk dan berlipat ganda. Ketika tertimpa suatu musibah,kita harus bisa melihat sisi yang paling terang dariNya. Ketika seorang memberi anda sebuah rambutan, anda perlu mengupasnya lebih dahulu. Barulah terasa manisnya buah rambutan.

Binjai sebuah kota di Indonesia yang di kenal sebagai kota rambutan. Bahkan Wali Kota Binjai ada membangun tugu rambutan di perbatasan antara Binjai dengan Deli Serdang atau Langkat yakni di Jalan T.Amir Hamzah yang lebih dikenal Jalan Tanjung Pura. Kemudian Wali Kota Amir Hamzah membangun tugu rambutan di pertigaan Jalan Irian Barat Yang sudah diganti nama Jalan Kapten Muslim.Padahal dijalan itu ada restoran irian yang terkenal seantero Indonesia.

Ada suatu yang baru pada tugu tersebut, yaitu mengingatkan pahlawan Zainal Zakse yang merupakan putra Jalan Imam Bonjol Binjai. Zainal Zakse (alm) merupakan abang kandung dari wartawan Neraca Jakarta Zainal Arifin. Saat itu ia adalah anggota Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang juga merupakan seorang Jurnalis Kampus Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Zainal Zakse merupakan salah satu Pahlawan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat) melalui TAP MPRS No. XXIX / 1966. sebagai pahlawan Ampera yang tewas saat demontrasi tahun 1966 di Jakarta.

Kembali ke buah rambutan yang dijadikan simbolis kota Binjai. Kalau kita bertanya dimana rambutan Binjai??. Setahu Saya yang terkenal adalah rambutan Brahrang. Brahrang adalah suatu kawasan yang masa lalu termasuk wilayah hukum Kec. Binjai, Kab.Langkat. Kawasan itu banyak pohon rambutan yang ditanam penghuni yang kebanyakan WNI turunan China.

Rambutan brahrang memang luar biasa, buahnya yang berbentuk besar, Ketebalan isi membuat buah rambutan bisa dinikmati,apalagi buah rambutan Brahrang berair yang sangat manis. Cukup mengiurkan. Kenapa Binjai dikenal sebagai kota rambutan, Yah…namanya juga Kecamatan Binjai dan jika lokasi harus melintas Kotapraja Binjai yang saat itu masih sebagai ibukota Kab.Langkat. Wajar saja disebut sebagai rambutan Binjai.

Rambutan merupakan tanaman tropis yang termasuk ke dalam suku lerak-lerakan atau Sapindaceae, berasal dari daerah kepulauan di Asia Tenggara. Kata “rambutan” berasal dari bahasa Melayu (karena bahasa Indonesia baru diresmikan tahun 1945) yang berakar dari kata “rambut” karena bentuk buahnya yang mempunyai kulit menyerupai rambut.

Rambutan banyak terdapat di daerah tropis seperti Afrika, Kamboja, Karibia, Amerika Tengah, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Sri Lanka. Pertumbuhan rambutan dipengaruhi oleh musim atau ketersediaan air. Masa kering tiga bulan menghentikan pertumbuhan vegetatif dan merangsang pembentukan bunga.

Di daerah Sumatra bagian utara, yang tidak mengenal musim kemarau rambutan dapat menghasilkan buah dua kali dalam . Banyak juga buah rambutan dengan jenis lain di berbagai daerah di Indonesia, tetapi rambutan Binjai sangat dikenal dan dijadikan trade mark. Sayangnya Binjai yang sudah dikenal sebagai kota rambutan tidak mempertahankan tradisi akan pohon rambutan di kota Binjai. Sebab di Brahrang sebagai kawasan yang dulunya kawasan rambutan kini sudah punah dengan berbagai ragam pembangunan.

Pernah Pemko Binjai punya kawasan tanaman rambutan di daerah Rambung Barat, ternyata tanaman dan tanah milik Pemko Binjai itu di punahkan juga dan dibangun kantor instansi pemerintah. Masa orde baru pengusaha besar Indonesia Alm Probosutejo pernah memprogram bersama Hipmi Binjai pengembangan buah rambutan untuk dijadikan produk . Ternyata usaha itu juga gagal akibat tidak seriusnya pengusaha menanam buah rambutan. Lebih mau pengusaha menanam cabe dan jahe yang selalu gagal dan menguras uang Negara.

Niat kemauan harus ada, jika mau, apa tidak bisa dilakukan kerja sama dengan pihak PTPN II yang tanahnya habis diserobot orang untuk dijadikan lahan penanam rambutan. Padahal perluasan kota Binjai sudah memasukkan desa Tunggurono yang dulunya Deli Serdang ke wilayah kota Binjai. Lahan perkebunan yang hanya menjadi sengketa berbagai pihak.

Jika pemerintah khususnya pihak berkompeten di pusat termasuk BUMN memberikan wewenang kepada pemerintah daerah untuk penanaman rambutan, walau rambutan berbuah musiman, tetapi banyak ahli pertanian yang punya kemampuan. Suatu sisi jika kemauan ada, saat rambutan berbuat dipanen dan diolah sebagai produk kalengan yang sudah banyak diproduk perusahaan di Indonesia. Itu sekedar saran yang kadangkala tidak masuk akal jika tidak mau berpikir sehat.

Kawasan Tunggurono yang cukup luas, duku tersedia 112 HA lebih untuk RT/RW Kota Binjai. Kalau lahan itu ingin dijadikan kawasan industry seperti pemimpin masa lalu. Bisa dilanjutkan dengan kawasan industry dan pertanian rambutan . Tidak hanya menjaga standar simbolis Binjai sebagai kota rambutan, jika , tetapi jika program bisa direalisasi akan menampung tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan daerah.

Sebagai sebuah saran melalui nukilan tulisan yang tentunya jarang diperhitungkan. Tetapi kita jadi heran,kenapa orang sudah tidak sebagai pejabat lebih banyak ingin hidup bertani dan berdagang. Sebagai pesan yang dikutip dari La Tahzan, Perencanaan yang kurang matang akan menjadi beban pikiran yang berkepanjangan. Bahaya yang mengancam yang selalu ingin balas dendam sangat besar. Dia kehilangan kendali terhadap syarafnya. Musuh tidak bisa mencapai tingkatan yang dicapai oleh orang bodoh itu sendiri.

Nikmati buah rambutan Anda akan merasakan manisnya,setelah bekerja mengupas kulitnya. Begitulah kehidupan bekerjalah baru menerima hasil yang manis.. semoga???