Jelang Tahun Baru Tingkatkan Keamanan dan Kewaspadaan Terhadap Radikalisme

16

Oleh : Junika Karmila

Perayaan tahun baru sering menjadi momen kegembiraan dan kebersamaan bagi banyak orang di seluruh dunia. Namun, di balik euforia perayaan, terdapat potensi ancaman radikalisme yang memerlukan perhatian khusus dari pemerintah dan penegak hukum. Ancaman ini dapat berasal dari kelompok-kelompok ekstremis yang berusaha memanfaatkan perayaan tahun baru untuk menyebarkan propaganda atau bahkan melancarkan serangan.

Perayaan tahun baru sering kali diwarnai dengan mobilitas tinggi masyarakat, baik dalam negeri maupun lintas negara. Hal ini dapat dimanfaatkan oleh individu atau kelompok radikal untuk melakukan pergerakan tanpa terdeteksi, meningkatkan potensi ancaman.

Kerumunan besar yang berkumpul di tempat-tempat umum selama perayaan tahun baru bisa menjadi target empuk bagi kelompok-kelompok radikal. Serangan teror yang bertujuan menciptakan ketakutan dapat memanfaatkan kerumunan orang yang tengah merayakan.

Perayaan tahun baru juga dapat digunakan sebagai platform oleh kelompok radikal untuk menyebarkan propaganda dan mencari rekrutan baru. Melalui berbagai media, termasuk media sosial, mereka mungkin berusaha memanfaatkan momen perayaan untuk menyebarkan pesan radikalisme.

Individu atau kelompok radikal mungkin mencoba menyusup ke dalam kerumunan besar dengan menyamar sebagai penonton atau peserta perayaan. Hal ini dapat memudahkan mereka dalam melancarkan serangan atau melakukan kegiatan radikal tanpa sepengetahuan pihak berwenang.

Pemanfaatan media sosial dan platform online oleh kelompok-kelompok radikal dapat meningkat selama periode perayaan tahun baru. Mereka mungkin menggunakan platform tersebut untuk mengoordinasikan kegiatan, menyebarkan propaganda, atau merayu individu untuk bergabung dalam ideologi radikal.

Kasi Pengawasan Barang BNPT,  Faizal Yan Aulia mengatakan berdasarkan data BNPT, potensi generasi Z terpapar radikalisme yakni 12,7 persen dan millenial 12,4 persen. Mereka di rentang usia 20-30 tahun, generasi yang dianggap labil yang mudah jadi target radikal dan terorisme. Menurutnya, generasi Z saat ini akrab dengan media sosial. Hal itu membuat para teroris mengubah pola rekrutmen sesuai kebiasaan generasi Z.

Ada beberapa perubahan, pertama dulu ketika zaman 1990-an ke bawah itu perekrutan (teroris) dengan offline, tapi sekarang online. Orang yang terlibat dengan jaringan mendekati 20-50 persen terpengaruhi secara online. Faizal menyebut mereka yang belajar paham radikalisme dan terorisme secara sendiri dapat disebut  “lone wolf” atau serigala sendirian. Di mana mereka belajar pahami, menyimpulkan dan bergerak dalam tindakan teror sendiri.

Sehingga, penanggulangan terorisme atau kebijakan harus sesuai zaman yang berarti penanggulangan terorisme harus sesuai targetnya, apabila anak muda saat ini senang dengan cara audio visual maka dapat menggunakan cara tersebut.

Untuk mengatasi ancaman ini, pemerintah perlu meningkatkan keamanan di tempat-tempat umum, memperkuat intelijen, meningkatkan kerja sama internasional dalam hal pertukaran informasi, dan melakukan kampanye kesadaran masyarakat tentang potensi ancaman radikalisme. 

Dalam rangka meningkatkan keamanan, seluruh aparat keamanan di Jakarta dan berbagai daerah dikerahkan.  Polri mengatakan ada 129.923 personel TNI dan Polri untuk pengamanan Natal dan Tahun Baru (Nataru) melalui Operasi Lilin 2023. Pengamanan ini aka dilakukan melalui Operasi Lilin 2023/2024 yang diselenggarakan sejak 22 Desember 2023 sampai 2 Januari 2024.

Kadiv Humas Polri Irjen Sandi Nugroho mengatakan, sebagaimana instruksi Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo, pengamanan Nataru kali ini dilakukan dalam suasana berbeda. Sebab, bersamaan dengan tahapan Pemilu 2024.

Sementara, Kapolda Sumsel Irjen A Rachmad Wibowo menyebut perayaan Natal 2023 di Sumatera Selatan berjalan dengan aman dan kondusif. Ke depan, Polda Sumsel akan lebih fokus pada pengamanan jelang malam pergantian tahun baru. 

Dia menghimbau masyarakat yang akan melaksanakan kegiatan pada malam pergantian tahun baru agar tetap waspada dan berhati-hati. Terutama masyarakat yang euforia merayakan tahun baru dengan menggunakan kembang api.

Kapolda Bali, Irjen Pol. Ida Bagus Kade Putra Narendra, mengatakan meminta seluruh anggota TNI-Polri dalam pengamanan perayaan Natal dan Tahun Baru 2023-2024 untuk memastikan situasi di Bali tetap aman dan kondusif.

Kepala BNPT , Komjen Mohammed Rycko Amelza Dahniel mengatakan Menghadapi Natal 2023 dan tahun baru 2024 atau biasa disebut dengan Nataru. Kita harus bisa memastikan keamanan. Kita akan melakukan asesmen terhadap sistem pengamanan di tempat tempat ibadah dan tempat keramaian. 

Ancaman radikalisme menjelang perayaan tahun baru menekankan pentingnya kewaspadaan dan kerjasama lintas sektor untuk menjaga keamanan dan ketertiban selama momen perayaan yang penuh kegembiraan. Selain itu, diharapkan kepada seluruh masyarakat untuk turut andil dalam membantu menjaga keamanan jelang tahun baru mendatang dari tindak pidana terorisme.

Langkah selanjutnya yang harus lakukan tentu membangun komunikasi interaktif dan produktif, dengan seluruh stakeholder terkait. Seluruh elemen masyarakat juga saling menjaga serta mewaspadai adanya letupan aksi atau sel teror yang tidur dan cenderung memanfaatkan konflik yang terjadi di negara lain.

Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Unas Jakarta