Kolaborasi Pacu Investasi Inklusif

122
Indonesia Berada di Jalur yang Tepat Dalam Memenuhi Target Investasi
Ilustrasi-Ist

Oleh : Reza Herlambang

Mendatangkan investor merupakan hal yang membutuhkan strategi, pemerintah telah menyusun regulasi untuk membuat investor tertarik menanamkan modalnya di Indonesia. Di sisi lain, untuk mewujudkan investasi inklusif juga membutuhkan strategi, salah satunya adalah kolaborasi.

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menekankan pentingnya kolaborasi dalam rangka memacu investasi inklusif dan berkelanjutan, saat memimpin sesi persidangan kedua dalam rangkaian acara Trade, Investment and Industry Ministerial Meeting (TIIMM) G20 di Bali.

Bahlil yang merupakan Co-Chairman TIIMM G20 menjelaskan bahwa kolaborasi yang terjalin dengan baik antara investor besar dengan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) lokal akan menciptakan pertumbuhan ekonomi lokal dan memberikan kesejahteraan yang merata bagi masyarakat lokal.

Investasi yang merata merupakan bagian dari instrumen terpenting yang diharapkan untuk dapat membangun investasi berkelanjutan dan berkualitas.

Dalam kesempatan tersebut, isu prioritas yang dibahas  yaitu terkait kelompok kerja perdagangan, investasi dan industri mengenai “Mendorong Investasi Berkelanjutan untuk Pemulihan Ekonomi global”.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jendeal United Nation Conference on Trade and Development (UNCTAD) Rebeca Grynspan menyampaikan perlunya kolaborasi yang lebih kuat untuk mengatasi ketmpangan dalam mendorong investasi berkelanjutan di negara berkembang.

Dalam sesi penyampaian pendapat, Minister of State for International Trade Inggris James Duddridge mengaku setuju tentang pentingnya meningkatkan pembangunan berkelanjutan. James mengungkapkan, melalui kolaborasi bersama, kita dapat menciptakan masa depan yang lebih hijau. James juga berharap agar semakin banyak negara yang memperoleh manfaat dari pembangunan berkelanjutan tersebut.

Sementara itu, Menteri pedagangan Arab Saudi Majid bin Abdullah Al-Qasabi juga meyakini bahwa investasi berkelanjutan dan inklusif dapat dijadikan landasan yang solid dalam pemulihan ekonomi yang juga inklusif dan berkelanjutan.

Majid menilai bahwa negara perlu memanfaatkan investasi berkelanjutan dengan inovasi teknologi dan mengeksplorasi langkah-langkah lain untuk mengoptimalkan masa yang lebih berkelanjutan.

Adapun Menteri Peragangan Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA) Thani bin Ahmed Al Zeyoudi, salah satu delegasi negara undangan, memberikan apresiasi atas upaya presidensi G20 Indonesia dalam mengangkat isu yang berkaitan dengan investasi berkelanjutan. Thani juga menjelaskan bahwa investasi berkelanjutan ini juga telah menjadi prioritas bagi pemerintah UEA Untuk kemakmuran masyarakat.

Investasi berkelanjutan merupakan kunci pendorong ekonomi dunia yag lebih kuat serta insklusif. Dalam menghadapi berbagai tentangan seperti transfer teknologi, ketenagakerjaan dan pembiayaan, diperlukan kerja sama global yang solid.

Sedangkan Vice-Minister for Foreign Trade and Economy Affairs Brasil Sarquis J.B. Sarquis menyatakan kesepakatannya dalam mendorong pembiayaan investasi berkelanjutan dengan melibatkan partisipasi swasta. Pihaknya mendorong keterlibatan yang lebih besar pada tingkat multilateral untuk mempercepat pendanaan infrastruktur berkelanjutan.

Dalam acara tersebut masukan dari seluruh anggota delegasi akan menjadi masukan yang berharga untuk bekerja sama dalam mencari solusi yang efektif dalam menyelesaikan tantangan dalam upaya mendorong investasi berkelanjutan.

Sementara itu, kesimpulan dari pembahasan isu prioritas ini antara lain adalah pentngnya arus investasi berkelanjutan bagi pemulihan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, industrialisasi dan tujuan pembangunan lainnya, proses penyederhanaan administrasi investasi menjadi salah satu pendorong utama untuk investasi berkelanjutan.

Selain itu, diperlukan pula kontribusi investasi berkelanjutan terhadap hilirisasi dan nilai tambah dengan mendorong investasi di sektor produktif seperti di manufaktur hilir, pentingnya skema pendanaan iklim yang adil dan merata yang bisa diakses untuk mendorong investasi berkelanjutan, serta perlunya dukungan negara anggota G20 atas kompendium yang dapat menjadi acuan kebijakan negara dalam merancang dan melaksanakan strategi untuk menarik investasi berkelanjutan.

Pada kesempatan berbeda, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto, mengatakan bahwa gelaran B20 diharapkan dapat berberan dalam mempromosikan investasi yang inklusif dan berkelanjutan dalam rangka mendukung proyek-proyek yang sejalan dengan sustainable development goals dengan membawa peluang investasi tersebutu kepada mitra-mitra global.

Menurut Airlangga, sektor industri menjadi salah satu katalisator dalam meningkatkan ketahanan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi yang kompetitif melalui dampak yang diberikan dalam peningkatan nilai tambah produksi.

Investasi inklusif merupakan syarat utama untuk mendorong perekonomian  yang inklusif. Investasi tersebut tidak hanya diukur dari angka-angka realisasi modal masuk, tetapi juga seberapa besar kebermanfaatan investasi terhadap kesejahteraan masyarakat.

Proses investasi di Indonesia harus menjadi bagian dari pemberdayaan masyarakat. Kebijakan afirmasi untuk usaha kecil dan menengah serta program kemitraan yang memungkinkan UMKM dan perusahaan besar untuk saling berkolaborasi.

Di sisi lain, kehadiran investasi juga harus menjadi bagian dari pemersatu masyaraat, bukan sumber konflik dengan masyarakat lokal tempat investasi berada.

Investasi inklusif dan berkelanjutan merupakan tujuan besar dari upaya pemerintah untuk mendatangkan investasi, dalam mewujudkannya tentu saja memerlukan kolaborasi demi mewujudkan investasi inklusif.

Penulis adalah kontributor Ruang Baca Nusantara