Literasi Digital Gen Z Mampu Tangkal Intoleransi dan Politik Identitas dalam Pemilu 2024

101
Ilustrasi-Ist

Oleh : Ahmad Dzul Ilmi Muis
Berpikir sebelum mengunggah menjadi salah satu kata-kata yang wajib dipahami oleh seluruh masyarakat, khususnya para generasi milenial atau Gen Z. Penggunaan internet yang masif menjelang tahun politik menjadikan banyak potensi perpecahan. Dengan adanya literasi digital Gen Z diharapkan mampu untuk menangkal rasa intoleransi dan politik identitas dalam Pemilu 2024 mendatang untuk mewujudkan rasa damai, aman, dan tentram, sehingga persatuan dan kesatuan yang tinggi tetap terjaga.

Pesta Demokrasi 2024 tak lama lagi diselenggarakan, adanya berbagai potensi yang dapat menimbulkan polemik di tengah masyarakat juga sangat mungkin, salah satunya yang paling krusial yakni mengenai intoleransi dan politik identitas. Bahaya jika keduanya berada di tengah-tengah masyarakat yang dapat menyebabkan perpecahan. Pasalnya, justru momen Pemilihan Umum (Pemilu) ini harusnya dijadikan sebagai pemersatu bangsa dan negara untuk menyambut wajah-wajah pemimpin yang baru. Untuk itu, perlu adanya berbagai langkah-langkah yang disiapkan agar kemungkinan polemik itu tak terjadi di masyarakat. Terlebih, saat ini merupakan era digitalisasi, dimana informasi sudah tersebar dengan mudah di setiap menit bahkan di setiap detiknya.

Langkah-langkah yang perlu dipersiapkan dalam menghadapi situasi menjelang Pemilu 2024 yaitu melibatkan generasi muda atau Gen Z. Saat ini peran Gen Z sangat penting dan paling dibutuhkan karena dengan adanya mereka, maka dapat mengubah suatu bangsa dengan inovasi yang dimilikinya. Akan tetapi, untuk hal ini Gen Z diharapkan mampu untuk menangkal persoalan yang mungkin saja terjadi, yaitu intoleransi dan politik identitas. Melalui program pengembangan dan sosialisasi mengenai Literasi Digital, Gen Z menjadi sasaran utama karena mereka sangat paham mengenai dunia digitalisasi. Sasaran tersebut apabila tidak diimbangi dengan kemampuan literasi yang kritis juga dapat menjadi boomerang untuk mereka.

Mengapa Literasi Digital menjadi penting? Bagaimana tidak, disaat seperti ini dimana-mana sudah menggunakan teknologi, perkembangan zaman juga semakin meluas, maka dari itu diperlukan pengetahuan dan kecakapan dalam memanfaatkan dunia digital. Tentunya ada banyak ruang untuk terjadinya sikap intoleransi dan politik identitas disini. Kendati demikian, pentingnya untuk meningkatkan literasi digital agar masyarakat, khususnya Gen Z dapat bijak dalam menerima hingga memahami informasi yang diketahuinya.

Mengenai hal tersebut, untuk mendukung peningkatan Literasi Digital, beberapa lembaga atau organisasi mengadakan kegiatan sebuah diskusi bertema kampanye internet untuk menangkal intoleransi Pemilu 2024. Democracy and Electoral Empowerment Partnership (DEEP) Indonesia bersama dengan KAICIID mengadakan acara tersebut dengan melibatkan sejumlah pegiat media sosial hingga pemantau pemilu. Tentunya tidak lupa kelompok-kelompok Gen Z turut mengikuti acara yang diadakan di Jawa Barat itu. Organisasi lainnya yang terlibat yakni, NU, Muhammadiyah, Persis, dan HMI.

Selain intoleransi, persoalan lainnya yang kerap menjadi sorotan yaitu mengenai radikalisme dan terorisme. Acara diskusi tersebut dihadiri oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebagai narasumber yang memamparkan informasi bahwa di tahun 2022 lalu adanya potensi radikalisme di media sosial atau dunia maya yang cenderung meningkat. Tahun tersebut peningkatan ini beriringan dengan penggunaan internet yang semakin hari semakin masif. Adapun peninjauan dari berbagai platform media sosial yang bermuatan unsur radikal itu setidaknya terdapat 600 situs dan menyebarkan lebih dari 900 konten propaganda.

Sementara itu, Direktur DEEP Indonesia, Neni Nur Hayati mengatakan bahwa sikap intoleransi yang sering terjadi yakni di Jawa Barat. Terlebih berkaitan dengan tahun politik yang memasuki kampanye Pemilu 2024 ini, dirinya mengatakan bahwa adanya kecenderungan terjadi praktik intoleransi terutama di Jawa Barat, apalagi ketika para pihak yang berkontestasi memanfaatkan isu politik identitas dan keagamaan untuk mencari dukungan yang konstituten.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa literasi digital bagi Gen Z sangat dibutuhkan sebagai penangkal intoleransi dan politik identitas tersebut. Media baru dan internet harus dijadikan sebagai narrative counter-radicalism tersebut. Pentingnya literasi digital ini juga disetujui oleh Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran (Unpad) Centurion Chandratama Priyatna mengatakan bahwa berita palsu atau hoaks menjadi masalah yang serius karena permasalahan ini sulit untuk diidentifikasi. Oleh karenanya, Gen Z khususnya yang ada di Jawa Barat diajak agar lebih kritis lagi agar bisa menangkal intoleransi dan menciptakan toleransi tinggi antarsesama di dunia maya yang sangat liar.

Membangun toleransi yang tinggi memang membutuhkan banyak pelajaran dan pemahaman, khususnya di era saat ini yang memiliki banyak tantangan di tengah pergantian kepemimpinan. Banyak kontesasi politik yang bertebaran di luar sana dengan menggunakan media sosial sebagai wadahnya, tentu saja berpotensi adanya penyebaran berita hoaks atau palsu oleh karenanya untuk mewujudkan Pemilu 2024 yang damai perlu adanya literasi digital yang dimulai dari Gen Z sebagai salah satu penangkal rasa intoleransi dan politik identitas yang bisa saja terjadi.

Penulis adalah kontributor Jendela Baca Institute