Makna Sebuah Perjalanan Religi MUI Kota Binjai: Kelok 9 Yang Menawan

572
foto :istimewa
Teks foto: Kelok 9( itp/Ist)

Laporan: RR Izka Rawi

Binjai-Intipnews.com:  Perjalanan MUI Kota Binjai yang melakukan studi banding serta menambah pengetahun tentang  islam dan perjuangan ulama masa dulu dan sekarang, serta mentelusuri sejarah islam di Sumatera Barat. Tidak cukup hanya dalam tempo dua atau tiga hari. Harus diakui, perjalanan religi ini terbatas oleh waktu  dan dana apabila ingin  memperoleh hasil maksimal.

Walau singkat tetapi padat  dan harus di jajal dalam tempo sesingkat-singkatnya, sehingga hasilnya bisa menambah wawasan pengurus MUI Kota Binjai untuk lebih mengembangkan program dimasa datang. Tulisan kali ini masih berkisar membahas makna perjalanan MUI kota Binjai di kota Padang dan Bukitinggi, tetapi juga menyempatkan singgah di berbagai daerah dengan mengunjungi masjid dan lokasi bersejarah .

Disetiap kunjungan, tentu ada kesan dan romantikanya. Apalagi canda dan tawa dalam cengkraman keagamaan. Setelahdi Bukitinggi yang merupakan kota religi dan wisata, tidaklah salah  membawa oleh-oleh untuk dibawa pulang. Apalagi kaum ibu yang ikut tentu ada anak dan cucu. Sekedar buah tangan dari hasil perjalanan. Ketika akan berangkat ke Binjai ada dua pendapat untuk jalur yang bakal ditempuh.

Ada lintas timur dan barat, ada permintaan pulangnya melalui kelok sembilan, sepihak minta jalur biasanya saja. Saya hanya mengikut, walau ada pertanyaan dihati, bagaimana tentang kelok sembilan yang dulu sangat rawan. Akhirnya diputuskan pulang ke Binjai via kelok 9. Saya hanya berdoa dan mencari situs tentang kelok sembilan, ternyata Kelok 9  begitu fenomenal. Kenapa dibilang fenomenal? Karena konstruksi ini baru diresmikan belum lama pada tahun 2013. Apalagi pembangunan jembatannya pun memakan waktu yang cukup panjang,

Setelah selesai ternyata jembatan ini menjadi salah satu ikon megakonstruksi Sumatera Barat dan kebanggaan pariwisata Indonesia. Kenapa sih menjadi destinasi wisata? Karena letak Jembatan Kelok 9 ini berada di kawasan lembah yang sangat indah. Setiba di kelok 9, saya sangat kagum, ternyata kelok sembilan tidak seperti masa lalu  dan rombongan berhenti  .Ada satu spot di mana kita bisa berhenti dan menikmati keindahan alam dan konstruksi secara bersamaan.

Jembatan Kelok 9 merupakan jembatan yang dibangun dan menghubungkan antar-lembah ini terletak di kawasan hutan suaka alam dengan panjang total jembatan 943 meter dan jalan penghubungnya sepanjang 2.089 meter. Dinamai Kelok Sembilan karena jalanan di daerah itu memiliki 9 belokan atau kelokan. Ruas jalannya sendiri tampak zig-zag menuruni lereng bukit di mana telah dibangun sejak zaman Hindia Belanda (1908-1914).

Jembatan Kelok 9 dibangun karena sebelumnya kondisi jalan di tempat tersebut sempit berkelok-kelok sehingga kendaraan besar harus berhenti dan bergantian melaluinya. Dengan hadirnya jembatan ini membuat jalur transportasi antar-daerah bahkan antar-provinsi semakin lancar. Hal yang membanggakan, jembatan yang indah dan memesona ini merupakan karya anak bangsa dengan menggunakan konsep green construction serta memanfaatkan produksi dalam negeri.

Jembatan Kelok 9 dibangun 2011 dan selesai pada 2013. Ketika diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, jembatan ini dikatakan sebagai ikon konstruksi nasional yang monumental. Kelok 9 atau Kelok Sembilan adalah ruas jalan berkelok yang terletak sekitar 30 km sebelah timur dari Kota Payakumbuh, Sumatera Barat menuju Provinsi Riau.

 Jalan ini membentang sepanjang 300 meter di Jorong Aie Putiah, Nagari Sarilamak, Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat dan merupakan bagian dari ruas jalan penghubung Lintas Tengah Sumatera dan Pantai Timur Sumatera.  Jalan ini memiliki tikungan yang tajam dan lebar sekitar 5 meter, berbatasan dengan jurang, dan diapit oleh dua perbukitan di antara dua cagar alam.

 Di sekitar Jalan Kelok 9 saat ini telah dibangun jembatan layang sepanjang 2,5 km. Jembatan ini membentang meliuk-liuk menyusuri dua dinding bukit terjal dengan tinggi tiang-tiang beton bervariasi mencapai 58 meter. Terhitung, jembatan ini enam kali menyeberangi bolak balik bukit.  Jembatan ini juga penghubung antara Sumatera Barat dan Provinsi Riau, yang kerap macet parah kalau weekend dan lebaran tiba.

Oleh karena itu dibuatlah jembatan ini, yang bisa mengurai kemacetan parah. Semoga dengan adanya jembatan ini, pariwisata Riau dan Sumatera Barat semakin maju dan bisa meningkatkan perekonomian dua provinsi di Sumatera ini.  Saya kagum dan menduga kelok 9 seindah ini. Kami sempatkan berfoto dan menikmati kopi disore hari sambil menikmati makanan ringan pisang bakar yang dijual di pedagang disekitra lokasi pemberhentian.

Mereka juga membuka warung sembari menyediakan tempat berfoto dengan tulisan Kelok 9 yang dirangkai berbagai bunga dan variasi lain sebagai menambah keindahan latar belakang kelok 9. Inilah sebuah pembangunan fenomenal yang bisa dinikmati dari perjalanan maksimal dan kawasan Sumatera Barat kami akhiri dengan menunaikan sholat maghrib dan Isya serta makan malam di Lima Puluh Koto. Setelah itu memasuki wilayah Pekanbaru, Riau dan Sumatera Utara .

Terakhir kunjungan di Sumatera Utara menunaikan sholat diMasjid Agung H. Ahmad Bakrie merupakan masjid agung yang berada di Kabupaten Asahan, tepatnya di Jln. Lintas Sumatera, Desa Sidomukti, Kecamatan Kisaran Barat, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara.  Usai sholat menikmati  makan siang serta ngopi dari penjaja minuman di kawasan masjid, Kemudian dilanjutkan perjalanan dan tiba di Binjai saat maghrib dan berpisah dengan sajian nasi goreng di kantor MUI Jalan Olahraga Binjai.

Sebagaimana diawal tulisan ini, mmakna dari perjalanan religi ini adalah pembelajaran untuk memperoleh ilmu, mengembangkan dan mengamalkan demi kepentingan kesejahteraan umat manusia.Jika di simpelkan, tujuan belajar adalah untuk mengabdikan kepada Allah SWT, sebagai firmannya” Dan tidak Aku jadikan manusia kecuali hanya untuk menyembah kepadaku( QS Az Zariyat:56)Oleh sebab itu segala aktivitas yang berkaitan dengan ilmu dan pengembangannya dipertanggungjawabkan secara moral.

Segala hasil yang diperoleh selama melakoni perjalanan religi ini akan di aplikasikan guna lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.  Islam menuntut manusia agar melaksanakan sistim kehidupan yang berdasarkan norma kebajikan dan jauh dari kejahatan. Islam memerintahkan perbuatan yang makruf dan menjauhi yang mungkar. Bahkan memberantas kejahatan dalam segala bentuknya.