Masyarakat Harus Kurangi Mobilitas Saat Nataru

23
Masyarakat Harus Kurangi Mobilitas Saat Nataru
Foto Ilustrasi | Ist

Oleh : Savira Ayu

AKHIR tahun diwarnai dengan libur Nataru (Natal dan Tahun Baru). Akan tetapi dikhawatirkan terbentuk klaster Corona baru, karena ada mobilitas massal. Masyarakat dihimbau untuk mengurangi mobilitas saat libur Nataru agar terhindar dari bahaya Corona.

Akhir tahun seharusnya jadi masa bahagia karena biasanya ada liburan, sehingga bisa mudik atau traveling. Namun masyarakat saat ini sadar diri karena masih masa pandemi, sehingga banyak yang mengerem keinginan untuk jalan-jalan, karena takut tertular Corona. Pandemi membuat suasana Nataru sepi dan syahdu karena mobilitas benar-benar dikurangi dan hari raya dirayakan dengan kumpul keluarga inti di rumah saja.

Juru bicara vaksinasi Kementrian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi menyatakan bahwa terus berupaya mempertahankan jumlah kasus Corona serendah mungkin. Namun, upaya itu akan efektif bila ada kerja sama yang baik dengan masyarakat. Upaya ini akan efektif jika masyarakat patuh dan disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan dan mengurangi mobilitas saat libur Nataru, serta sudah divaksin.

Dalam artian, untuk mengatasi pandemi, terutama pada saat Nataru, harus ada kolaborasi antara pemerintah dengan masyarakat. Jangan hanya membaca aturan tetapi tidak melaksanakannya, karena akan percuma. Harus ada kerja sama yang baik antara 2 pihak, karena di masa pandemi kita harus bahu-membahu, kompak, dan juga disiplin.

Misalnya ketika sudah ditegaskan bahwa dilarang bermobilitas saat Nataru malah dilanggar, lalu nekat mudik atau traveling ke luar negeri, maka otomatis menaikkan kasus Corona. Pemerintah yang pusing karena sudah ada aturan saat Nataru dan semua warga dilarang bepergian, eh malah kabur diam-diam, mentang-mentang tidak ada penyekatan dan ‘hanya’ ada aturan ganjil genap nopol kendaraan.

Ketika ada kenaikan kasus Corona akibat ketidak disiplinan masyarakat saat Nataru, maka bisa meningkatkan level PPKM, bisa level 4 dan kembali berstatus zona merah. Pemerintah yang pusing karena jumlah pasien naik sehingga pandemi tidak tahu kapan berakhirnya. Padahal efek terburuk pandemi adalah merosotnya bidang ekonomi, dan kita tentu tidak mau berstatus resesi atau krisis moneter.

Oleh karena itu masyarakat harus disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan dan tidak boleh bermobilitas yang jauh saat Nataru. Walau dalam keadaan mendesak diperbolehkan, tetapi lebih baik di rumah saja. Daripada nanti malah tertular Corona di perjalanan, malah jadi runyam. Apalagi resiko terbesarnya adalah kehilangan nyawa, dan makin mengkhawatirkan jika ia belum divaksin.

Begitu juga dengan piknik di dalam kota. Meski dengan alasan menyenangkan hati anak, tetapi jangan memaksakan diri. Takutnya malah mereka tertular Corona saat jalan-jalan di taman atau kebun binatang, karena ada kepadatan pengunjung dan mobilitas massal.

Pahamilah bahwa pandemi adalah masa prihatin dan tidak usah party saat Nataru. Apalagi mengadakan pesta Tahun Baru, baik di dalam atau luar ruangan, yang diawali dengan konvoi keliling kota. Maka jangan marah saat diciduk oleh aparat dan tim satgas penanganan covid, karena terbukti melanggar protokol kesehatan dan aturan saat Nataru.

Merayakan hari raya boleh tetapi sebaiknya bersama dengan keluarga inti, sementara untuk keluarga besar bisa dengan pertemuan via zoom. Justru suasana akan makin syahdu, ketika bisa bertemu dengan keluarga inti dalam keheningan, lalu makan-makan pasca ibadah dan diteruskan dengan bertukar kado.

Mobilitas saat Nataru harus dikurangi dan taatilah aturan, jangan malah nekat melanggar lalu kucing-kucingan dengan petugas di jalan. Pahamilah bahwa aturan ini tidak untuk dilanggar, tetapi wajib ditaati agar semua orang tidak kena Corona. Bersabarlah sebentar saja karena jika semua orang disiplin dan menaati protokol kesehatan, pandemi akan lekas berakhir.

Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute