Mengapresiasi Sinergitas TNI-Polri Tumpas KST Papua

21

Oleh : Dika Samba 

Kelompok Separatis Teroris (KST) Papua semakin menciptakan kekhawatiran yang tinggi dan ketidaknyamanan di masyarakat, tindak kekerasan dan serangan yang mereka lakukan terhadap masyarakat maupun aparat keamanan menyebabkan dampak negatif pada stabilitas dan kehidupan sehari-hari masyarakat di Papua. Sinergitas yang kuat antar TNI-Polri merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk mengatasi tantangan demi mensejahterakan wilayah Papua.

KST Papua terus melakukan aksi kekerasan dan pembunuhan. Mereka tidak segan-segan menembak mati masyarakat di ruang publik tanpa memperdulikan HAM. KST Papua telah menggugurkan 6 prajurit dan dua aparat keamanan lainnya terluka, TNI yang tewas merupakan prajurit Satgas Yonif Mekanis Raider 411/Pandawa Komando Cadangan Strategis TNI AD (Kostrad). Aksi ini dilakukan oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) di Distrik Paro, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan.

Tidak hanya itu, KST Papua juga beraksi untuk meneror masyarakat sipil hingga membunuh 7 orang pekerja tambang emas tradisional yang terletak di wilayah Yahukimo, Papua Pengunungan, namun dengan sinergitas aparat gabungan membuat korban berhasil dievakuasi dan mengamankan wilayah Yahukimo, sehingga tidak terjadi kontak tembak terhadap warga yang lainnya.

Aksi kekerasan KST Pimpinan Egianus Kogoya sudah sangat meresahkan dan mengancam keutuhan NKRI, ditengah upaya pemerintah dan rakyat Papua dalam membangun Papua melaui kebijakan Otonomi Khusus demi tatanan baru tanah damai Papua masa depan.  

Peristiwa kekerasan di Nduga bukan pertama kali.  Banyak aksi sporadis lainnya yang meresahkan rakyat Papua yang pada gilirannya menebar teror.  Kami meminta pemerintah melalui aparat berwenang secara serius dan konsisten memberangus KST, hingga ke akar-akarnya.  Hal itu mendesak dilakukan dalam rangka menjaga situasi kondusif di tanah Papua.

Aksi KST Papua sedang memecah belah kehidupan harmonis masyarakat yang berangsur harmonis di Papua.  Sinergi sosial kemasyarakatan antara orang asli Papua dan umum hendak dicabik-cabik dengan tujuan membangun suasana kebencian dan permusuhan antar anak bangsa.

Menanggapi aksi KST Papua yang terus mengganggu, Panglima TNI Jendral Agus Subiyanto mengatakan mengutuk keras terhadap serangkaian penyerangan KST Papua. Hingga respon keras diambil langkah terakhir. menangani konflik di Papua harus menggunakan mekanisme yang cerdas, yaitu gabungan pendekatan lembut dan keras. Namun, serangkaian aksi serangan KST telah mengakibatkan sejumlah prajurit TNI meninggal dunia. 

Meningkatkan sinergitas TNI-Polri dengan melakukan kunjungan kerja ke Papua, Kabid Humas Polda Papua Kombes Ignatius Benny Ady Prabowo mengatakan, kegiatan kedua pimpinan TNI-Polri saat itu turut mendengarkan paparan situasi wilayah Papua oleh Pangdam XVII/Cenderawasih dan Kapolda Papua. Kunjungan yang di lakukan TNI-Polri sebagai langkah strategis Panglima TNI dan Kapolri untuk meningkatkan sinergitas antara TNI-Polri.

Dalam kesempatan yang berbeda, Kolonel Inf. Hendhi Yustian, Kepala Penerangan (Kapen) Komando Cadangan Strategis TNI AD (Kostrad) membenarkan adanya kontak tembak antara Personel Satgas Yonif Mekanis Raider 411/Pandawa dengan KST di Distrik Paro, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, yang menyebabkan dua prajurit TNI gugur.

Aksi brutal KST Papua terus membuat rasa takut dan khawatir hingga aktivitas masyarakat terganggu. Aparat negara tentu telah melakukan upaya-upaya demi menjaga persatuan dan kesatuan Papua. Terbukti dengan berita yang tersebar luas di media online, bahwa aparat terus melakukan pengejaran optimal terhadap kelompok membahayakan tersebut. Aparat juga fokus menyisir kelompok-kelompok teroris KST Papua, selanjutnya dilakukan penumpasan secara total agar tidak lagi mengganggu ketenteraman masyarakat Papua dan mencegah Papua terpecah belah.

Disisi lain, Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Humas Damai Cartenz 2023, AKBP Bayu Suseno mengatakan  pihaknya giat melakukan deteksi dini dan patroli intensif di sembilan daerah operasi damai Cartenz dan tim gabungan TNI-Polri yang masuk dalam damai Cartenz fokus pengamanan di sembilan daerah untuk mencegah gangguan keamanan dari kelompok yang ingin memisahkan diri dari NKRI.

Konflik dan tindak kekerasan yang hingga kini terus terjadi di Bumi Cenderawasih, Papua, harus dikaji dalam konteks perkembangan industrialisasi, marginalisasi, dan implementasi dari pendekatan militeristis yang serbadilematik.

Dalam hal ini, dibutuhkan kerja sama antara masyarakat dengan apparat keamanan. Dengan adanya kekuatan dari masyarakat dan aparat, maka diharapkan tidak ada lagi tindak kejahatan yang merajalela di Papua. Di sisi lain, kerja sama ini diharapkan dapat mendorong pembangunan Papua yang cepat dan berkelanjutan.

Tentu saja, jika kolaborasi antar kedua belah pihak dilakukan dengan optimal, maka pelaku kejahatan dapat segera ditindaklanjuti oleh aparat keamanan, sehingga kehidupan warga Papua akan lebih sejahtera karena tidak adanya keresahan atau kekhawatiran dalam bekerja maupun beraktivitas. Pemerintah dan aparat keamanan diharapkan tidak ragu dan segera turunkan kekuatan penuh menumpas KST di Papua demi melindungi rakyat Papua.

Mahasiswa Papua tinggal di Yogyakarta