Mewaspadai Politisasi Kenaikan Kasus Covid-19 Jelang Ramadhan

14

Oleh : Muhammad Yasin

Masyarakat diminta untuk mewaspadai politisasi kenaikan kasus Covid-19 jelang Ramadhan. Kenaikan kasus Covid-19 murni karena tingginya mobilitas warga dan adanya varian Omicron.

Pandemi sudah kita lalui selama dua tahun dan apakah Anda mulai bosan mengenakan masker atau malah makin menjaga jarak dan mengurangi mobilitas dengan ketat? Memang lama-lama kondisi ini membuat mental lelah karena belum tahu kapan berakhir. Akan tetapi kita harus tetap optimis karena jika semuanya disiplin dalam protokol kesehatan (prokes) dan sudah divaksin, maka herd immunity akan cepat terbentuk dan pandemi bisa berakhir.

Sebentar lagi bulan Ramadhan dan mulai ada selentingan di luar sana, bahwa sudah dua kali selalu ada kenaikan kasus Corona sebelum bulan puasa. Apakah ada sesuatu di baliknya? Isu ini langsung ditangkis oleh juru bicara khsusus vaksinasi Kementrian Kesehatan dr.  Siti Nadia Tarmizi. Menurut dokter Siti, tak ada hubungan antara kenaikan kasus dengan urusan keyakinan dan hari raya.

Dokter Siti menambahkan, dalam dua tahun terakhir memang ada lonjakan kasus Corona sebelum Ramadhan tetapi penyebabnya adalah masyarakat yang meneruskan tradisi untuk ziarah kubur. Rata-rata makam orang tua dan leluhurnya ada di luar kota, sehingga mereka mudik sebelum waktunya. Mobilitas masyarakat yang tinggi ini yang menyebabkan kenaikan kasus Corona.

Keterangan dari dokter Siti ini menampik tudingan kepada pemerintah dan Kementrian Kesehatan. Tidak ada kongkalingkong atau permainan di balik angka pasien Corona yang melonjak. Jangan negative thinking dulu, karena penyebabnya jelas mobilitas warga yang naik. Kesalahan ada di masyarakat yang nekat bepergian padahal jelas masa pandemi yang rawan penularan Corona saat banyak yang melakukan perjalanan jauh.

Apalagi jika kenaikan kasus Corona sebelum Ramadhan dikaitkan dengan larangan mudik. Memang tahun 2020 dan 2021 ada larangan keras untuk mudik dan penyekatan di mana-mana. Akan tetapi belum tentu 2022 ada larangan mudik, karena tergantung dari kasus Corona di Indonesia. Jika sudah menurun dan keadaan dipastikan aman, maka masyarakat boleh pulang kampung, asal mematuhi protokol kesehatan.

Kita harus tetap sabar dan positive thinking, ketika angka pasien Corona naik maka harus makin ketat dalam menjalankan protokol kesehatan. Jangan malah menyalahkan pemerintah karena seharusnya evaluasi. Naiknya kasus Covid di Indonesia karena masuknya varian omicron yang didapatkan dari transmisi luar negeri, bukan karena disengaja.

Agar sebelum Ramadhan tidak ada kenaikan kasus Corona yang meroket maka semua orang harus tetap disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan. Terutama pada poin mengurangi mobilitas. Memang berdoa untuk almarhum orang tua atau kakek dan nenek memang baik, tetapi doa bisa dipanjatkan di mana saja. Jangan memaksakan diri untuk mudik dengan tujuan ziarah kubur, karena masih masa pandemi yang sangat rawan.

Selain itu, tak henti-hentinya pemerintah meminta masyarakat untuk tetap memakai masker, bahkan mengenakan masker ganda dengan posisi masker sekali pakai di dalam dan masker kain di bagian luar. Jangan hanya memakai masker saat ada razia, karena masker harus digunakan saat berada di luar rumah, bahkan hanya di teras sekalipun.

Naiknya kasus Corona sebelum Ramadhan bukanlah sebuah konspirasi kesehatan tetapi adalah akibat dari kenaikan mobilitas masyarakat yang beramai-ramai mudik untuk nyekar. Jangan berpikiran negatif dan mengaitkannya dengan permainan pemerintah. Kenaikan ini terjadi murni karena pelanggaran protokol kesehatan, bukan angka yang dibuat-buat untuk nantinya mengekang kebebasan masyarakat.

Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute