Moderasi Beragama Tekan Penyebaran Radikalisme

38
Bentuk Resiliensi Generasi Muda Terhadap Radikalisme
Ilustrasi-Ist

Oleh : Alif Fikri

Radikalisme amat berbahaya karena bisa menghancurkan perdamaian di Indonesia, dengan berbagai aksi teror seperti bom bunuh diri. Untuk menangkal paham berbahaya tersebut, maka caranya dengan meningkatkan moderasi beragama.

Indonesia harus bebas dari terorisme dan radikalisme. Namun keberadaan kelompok radikal benar-benar sulit terdeteksi, karena mereka bergerak secara gerilya. Kalaupun ada akun media sosialnya, rata-rata adminnya anonim. Oleh karena itu, perlu ada gerakan untuk menekan penyebaran radikalisme agar masyarakat tidak dibohongi oleh mereka. Salah satunya dengan moderasi beragama.

Moderasi beragama adalah cara untuk beribadah dan menjalankan segala aturan agama dengan moderat. Dalam artian, tidak ekstrim kanan maupun ekstrim kiri. Beragama dengan moderat bukan berarti ibadahnya biasa-biasa saja. Namun lebih ke pemahaman bahwa menjalin hubungan baik dengan manusia juga ibadah. Tidak boleh terlalu fanatik sampai menyerang umat dengan keyakinan lain.

Ferry Jatmiko, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Kota Kediri, menyatakan bahwa Pemkot Kediri sangat mendukung upaya MUI untuk mentradisikan Islam wasathiyah (jalur tengah) alias moderasi beragama. Menurutnya, kegiatan ini sangat diperlukan untuk memberantas radikalisme.

Dukungan dari pemerintah daerah merupakan hal yang sangat bagus karena moderasi beragama bukan hanya urusan pemerintah pusat, melainkan juga pemerintah daerah. Masyarakat di berbagai daerah di Indnesia akan paham dan bisa menerapkannya, karena telah disosialisasikan oleh pemerintah daerah. Mereka akan saling menghormati dan tidak terpengaruh oleh radikalisme.

Radikalisme bisa ditumpas dengan moderasi beragama karena umat akan paham bagaimana cara bergaul dengan baik, di tengah rakyat Indonesia yang pluralis. Jika ada tetangga yang memiliki keyakinan lain maka akan bergaul seperti biasa. Dengan keharmonisan seperti ini maka kelompok radikal tidak akan bisa masuk dan merusak persatuan Indonesia.

Ferry melanjutkan, menjaga kerukunan antar umat beragama juga penting untuk menjaga keseimbangan dan menumpas radikalisme. Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) di Kediri memiliki peran yang sangat strategis dalam menekan radikalisme. Keharmonisan antar umat beragama juga menjadi kuncinya.

Keharmonisan antar umat beragama wajib dijaga karena ada 6 keyakinan yang diakui oleh pemerintah, sehingga masyarakat hidup di tengah lingkungan yang heterogen. Perdamaian dan keharmonisan wajib dijaga karena mereka menyadari pentingnya Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi satu jua. Semua orang akan bersatu dan menumpas radikalisme, dengan moderasi beragama.

Moderasi beragama memang jadi cara ampuh dalam memberantas radikalisme. Penyebabnya karena umat diajari untuk beragama dengan cara moderat. Misalnya ketika bulan Ramadhan, maka ada pengaturan pengeras suara untuk mengingatkan waktu sahur dengan tertib. Di sisi lain, mereka yang tidak berpuasa (karena keyakinannya berbeda) juga menahan diri dengan tidak makan dan minum di tempat umum.

Selain itu, contoh dari moderasi beragama adalah dengan menghormati peringatan hari besar umat dengan keyakinan lain. Misalnya di bulan desember, di mana banyak yang memajang pohon cemara hias dan gambar Sinterklas. Umat yang mengaplikasikan moderasi beragama tidak akan melakukan sweeping dengan emosi, karena mereka menghormati umat dengan keyakinan lain.

Jika semua warga negara Indonesia memahami moderasi beragama maka mereka akan hidup damai dan tidak keberatan ketika ada umat lain yang memperingati hari rayanya. Saat ada saling pengertian maka akan ada persatuan.

Toleransi dan persatuan akan memberantas radikalisme, karena kelompok radikal tidak bisa mempengaruhi warga untuk saling membenci dan menjadi kader baru. Penyebabnya karena warga memahami bahwa radikalisme itu salah, dan memandang segala sesuatu dengan ekstrim, serta pikirannya terlalu sempit.

Wakil Ketua MUI Kota Kediri, K.H. Abdul Hamid Abdul Qodir, menyatakan bahwa moderasi beragama sangat esensial untuk menekan radikalisme. Moderasi merupakan pola pikir, perilaku, dan sikap yang seimbang. Moderasi berarti berada di tengah-tengah dan sekaligus anti kekerasan. Penting sekali untuk mentradisikan moderasi beragama kepada umat di Indonesia.

Dalam artian, moderasi beragama bukan hanya pola pikir, tetapi juga dihayati dalam sikap dan perilaku tiap umat beragama. Mereka taat beribadah sekaligus menjaga hubungan baik dengan orang lain, termasuk yang keyakinannya berbeda. Penyebabnya karena mereka tidak hanya menjaga hubungan baik dengan Tuhan, tetapi juga dengan sesama manusia.

Jika semua umat sudah menjalankan moderasi beragama maka Indonesia akan damai dan tentram, karena tidak akan bersikap ekstrim sampai menyerang umat dengan keyakinan lain, atau melakukan sweeping, bahkan pengeboman di rumah-rumah ibadah. Kelompok radikal akan gagal total dalam membujuk masyarakat, karena mereka sadar bahaya radikalisme. Masyarakat juga tidak suka akan perilaku kelompok radikal yang terlalu ekstrim.

Moderasi beragama bisa menekan penyebaran radikalisme di Indonesia, karena seluruh WNI akan menjalankan aturan-aturan agama dengan moderat dan saling menghormati. Rakyat sadar bahwa Indonesia adalah neagra pluralis dan ber-Bhinneka Tunggal Ika. Tidak ada tempat bagi radikalisme di Indonesia karena bisa merusak persatuan rakyat.

Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute