Nobel Perdamaian Maria Ressa dan Kebebasan Pers

4
Nobel Perdamaian Maria Ressa dan Kebebasan Pers
Maria Ressa dan Dmitry Muratov. (Foto: Ist)

TIDAK mudah menjadi jurnalis hari ini. Selain harus menjernihkan informasi di tengah serbuan kabar bohong yang menyebar begitu cepat lewat dunia maya, para wartawan menghadapi represif penguasa yang tak ingin manipulasi politiknya terbongkar. Dengan situasi ini, panitia Nobel menganugerahkan Nobel Perdamaian 2021 kepada Maria Ressa dan Dmitry Muratov.

Ressa adalah pendiri Rappler, situs berita Filipina yang bermula dari halaman Facebook pada 2011, yang membongkar dalih perang melawan narkoba Presiden Rodrigo Duterte melalui pembunuhan di luar hukum, bagi siapa saja yang dianggap bandar dan pengedar narkotika.

Ressa secara terbuka mengkritik kebijakan-kebijakan Duterte. Akibat kritiknya tersebut, ia diteror bahkan masuk penjara atas tuduhan fitnah.

Sementara Dmitry Muratov memimpin Novaya Gazeta, koran liberal Rusia yang kritis kepada otoritarianisme Presiden Vladimir Putin, harus menghadapi kenyataan pahit, enam koleganya dibunuh dalam satu dekade terakhir karena mengkritik Putin.

Kekerasan kepada wartawan tak hanya terjadi di Rusia atau Filipina. Menurut catatan Komisi Perlindungan Wartawan, sebuah LSM di New York, jurnalis yang dibunuh pada 2020 dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.