Nyamuk Wolbachia Terbukti Berhasil Turunkan Kematian Akibat DBD

5

Oleh : Samuel Christian Galal 

Pemerintah Republik Indonesia (RI) mengimplementasikan teknologi nyamuk dengan bakteri Wolbachia yang memang telah terbukti berhasil menurunkan kematian akibat demam berdarah dengue (DBD).

Menteri Kesehatan (Menkes RI), Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa dengue (DBD) di Indonesia sendiri terus mengalami peningkatan selama sekitar 50 tahun terakhir ini. Selama itu pula, Pemerintah RI sudah melakukan segala macam bentuk intervensi dan program untuk mampu memutus mata rantai demam berdarah.

Salah satu langkah yang dilakukan oleh pemerintah untuk menangani masalah DBD di Tanah Air adalah dengan mengimplementasikan teknologi nyamuk dengan bakteri Wolbachia yang ternyata mengalami keberhasilan dalam menurunkan incidence rate demam berdarah di Yogyakarta hingga berada pada angka di bawah standar World Health Organization (WHO), yakni 1,94 per 100 ribu penduduk pada data bulan Juli 2023.

WHO sendiri telah menetapkan standar untuk incidence rate atau frekuensi kesakitan sebesar 10 per 100 ribu penduduk. Tentunya bagaimana hasil nyata dari pengimplementasian nyamuk Wolbachia yang digencarkan oleh Pemerintah RI tersebut menjadikan banyak pihak senang karena keberhasilannya.

Terlebih, implementasi program Wolbachia itu juga telah sesuai dengan pendekatan ilmiah, dilakukan secara sistematis dan sangat terukur. Selain itu, sebenarnya bakteri Wolbachia itu pada nyamuk juga telah ada sehingga bukanlah sesuatu yang dengan sengaja dibuat melalui sebuah rekayasa.

Diketahui bahwa secara umum frekuensi kesakitan demam berdarah tercatat pada angka 28,45 per 100 ribu penduduk dengan frekuensi kematian hingga 0,73 per 100 ribu penduduk. Kasus tersebut didominasi oleh anak berusia 5 hingga 14 tahun.

Perhatian dan tindakan nyata selama ini telah dilakukan oleh Pemerintah RI dengan menggencarkan berbegai intervensi serta program seperti pemberian larvasida, kemudian pemberantasan sarang nyamuk, melakukan 3M, membentuk Juru Pemantau Jentik (Jumantik) dan adanya gerakan 1 rumah 1 jumantik sampai menggencarkan fogging.

Untuk diketahui, bahwa Bakteri Wolbachia mampu menghambat perkembangan virus dengue di tubuh nyamuk Aedes aegypti. Sehingga dengan kata lain, kemampuan nyamuk dengan Wolbachia dalam menularkan virus ke manusia jelas menjadi berkurang.

Ketika nyamuk Aedes aegypti dengan Wolbachia berkembang biak pada populasi nyamik, maka tentunya kasus dengue akan menurun. Karena apabila nyamuk jantan dengan bakteri Wolbachia kawin dengan nyamuk betina berbakteri Wolbachia juga, maka telurnya akan menetas dan menghasilkan nyamuk dengan bakteri yang sama.

Kemudian skema lain yang mungkin terjadi, yakni jika nyamuk jantan tidak memiliki bakteri Wolbachia kawin dengan betina dengan bakteri itu, maka telurnya akan menetas dengan menghasilkan keturunan nyamuk berbakteri Wolbachia.

Sebaliknya, apabila nyamuk jantan ber-Wolbachia kawin dengan betina yang tidak memiliki bakteri sama, maka telurnya tidak akan bisa menetas atau dengan kata lain, dia menjadi mandul dan sama sekali tidak bisa menghasilkan keturunan.

Lebih lanjut, Menkes Budi menegaskan bahwa penelitian akan teknologi nyamuk dengan bakteri Wolbachia sebenarnya telah dilakukan dalam waktu yang lama. Dalam penelitian itu, hasil studinya menunjukkan bahwa setelah nyamuk dengan bakteri tersebut dilepaskan, maka kasus dengue bisa menurun bahkan hingga angka 77 persen.

Sehingga sudah sangat jelas sekali bahwa hasil studi Aplikasi Wolbachia untuk Eliminasi Dengue (AWED) itu, secara data, sains dan juga fakta di lapangan menunjukkan gambaran yang positif untuk mampu memerangi demam berdarah. Maka dari itu, Pemerintah melalui Kemenkes RI kemudian menerapkan program tersebut.

Teknologi Wolbachia telah menjadi bagian dari Strategi Nasional Pengendalian Demam Berdarah di Indonesia, bahkan juga telah memasuki fase pelaksanaan di sebanyak lima kota utama, yakni Semarang, Jakarta Barat (Jakbar), Bandung, Kupang dan Bontang.

Inisiatif tersebut diawali oleh Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1341 tentang Penyelenggaraan Pilot Project Implementasi Wolbachia sebagai Inobasi Penanggulangan Demam Berdarah, yang mana menandakan bahwa langkah maju dalam peran melawan penyakit yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti itu sedang dilakukan pemerintah.

Peneliti pionir Wolbachia dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Adi Utarini menjelaskan bahwa Wolbachia tidak hanya mampu memblok replikasi virus dengue dalam tubuh nyamuk saja, tetapi juga mampu memberikan perlindungan secara berkelanjutan dari satu generasi nyamuk ke generasi berikutnya.

Maka dari itu, dampak positif akan pelaksanaan program Wolbachia sendiri terhadap pengurangan penyakit demam berdarah di Indonesia akan menjadikan kebutuhan akan rawat inap menjadi signifikan berkurang terlebih juga mampu menjadikan penghematan biaya lebih baik dalam upaya pengendalian DBD di Tanah Air.

Ahli tersebut juga dengan sangat tegas membantah kekhawatiran masyarakat yang menyebar selama ini, salah satunya di Bali yang belakangan banyak beredar tuduhan bahwa seolah-olah program itu merupakan nyamuk Bill Gates, atau dikatakan sebagai nyamuk bionik dan ada pula dugaan penyakit dari program tersebut.

Alih-alih sebagaimana yang dituduhkan, justru nyamuk dengan bakteri Wolbachia yang dicanangkan oleh Pemerintah RI telah terbukti dalam sebuah riset ilmiah berhasil menurunkan kematian pada manusia akibat demam berdarah dengue (DBD). Masyarakat pun diimbau untuk tidak termakan hoaks dan mampu mendukung program pemerintah tersebut. 

Penulis adalah kontributor Lembaga Gala Indomedia