PBSI Evaluasi setelah  Merah Putih Tanpa Gelar di Indonesia Open 2022

4
foto :istimewa
Teks: Pemain Indonesia yang cedera saat pertandingan (ist)

Jakarta-Intipnews.com: Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Rionny Mainaky, menyoroti teknik dan fisik para pemain Merah Putih usai kegagalan menembus semifinal di satu pun nomor di Indonesia Open 2022.Dari 20 wakil Merah Putih di Indonesia Open 2022, hanya empat di antaranya yang mampu melaju ke perempat final.

Mereka adalah Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, Pramudya Kusumawardana/Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan (ganda putra), Anthony Sinisuka Ginting (tunggal putra), dan Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti (ganda putri).  Sayangnya, mereka sama-sama tak berhasil melangkah ke semifinal Indonesia Open 2022.

Hal ini pun menjadi rapor merah bagi kubu tuan rumah sepanjang sejarah penyelenggaraan turnamen bergengsi tersebut. Sejak Indonesia Open digelar pada 1982 atau 40 tahun silam, ini adalah kali pertama Merah Putih tak menempatkan wakil di semifinal.

Menurut Rionny Mainaky, hasil minor ini tak terlepas dari faktor kelelahan pemain karena jadwal turnamen padat. “Melihat hasil keseluruhan saat kami gagal meloloskan wakil ke babak semifinal bukan tanpa alasan,” tutur Rionny Mainaky dalam rilis PBSI yang diterima Kompas.com.”Faktor kondisi fisik turut memengaruhi sehingga wakil Indonesia gagal di babak perempat final,” ucapnya.

Rionny Mainaky menambahkan, hal itu akan menjadi koreksi besar bagi PBSI untuk mengevaluasi para atlet. Terlebih lagi, turnamen akan kembali padat dari Malaysia hingga berlanjut ke Singapura.

Untuk itu, beberapa persiapan dilakukan. Mulai dari pengembalian kondisi fisik, teknik, dan mental bertanding. “Hal itu tentu menjadi catatan dan evaluasi ke depannya, mengingat akan ada turnamen yang akan diikuti pada Juli nanti,” ujar Rionny Mainaky. “Selain itu, yang harus menjadi catatan di luar hal itu ialah kondisi di lapangan seperti angin hingga gemuruh penonton, yang turut mempengaruhi permainan pemain di atas lapangan,” ungkapnya.

Setelah menjalani laga padat di Istora selama dua pekan, para pebulu tangkis Indonesia praktis punya waktu seminggu untuk mempersiapkan diri turun di ajang berikutnya. Melihat kondisi tersebut, Rionny sudah berkoordinasi dengan beberapa pelatih terkait untuk membuat program khusus, baik teknik maupun fisik menjelang menjalani turnamen padat berikutnya.

“Saya harus bilang faktor fisik dan teknik bermain akan menjadi catatan kami untuk diperbaiki lebih lanjut. Untuk itu, pemain sendiri harus memiliki motivasi dalam diri masing-masing siap menghadapi program latihan yang dibuat,” papar Rionny. “Ke depannya akan banyak turnamen yang akan diikuti untuk menambah tabungan poin masing-masing pemain yang tahun depan akan mengikuti kualifikasi Olimpiade,” tambah Rionny.

Evaluasi terhadap pemain bulutangkis Indonesia dari dua event yang dilaksanakan di Jakarta,harusnya punya sisi positip. Baik putra dan putri, daya smash, tehnik dan taktik ketika bertanding masih sangat perlu diperhitungkan, sehingga lawan tidak mudah membaca pola pemain bulutangkis Indonesia. Variasi tehnik dan taktik, terutama kepada pemain muda. 

Kita melihat pemain China, Korwa bahkan Tailand, juga sekarang Taiwan dan Singapura sudah mulai memunculkan pemain muda yang pukulannya cukup keras dengan tehnik yang bagus. Harus diakui, merubah pola pemain memang sukar, setidaknya harus ada perubahan ,terutama dibagian putri.(kc/itp.04)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini