Pemerintah Optimal Bebaskan Pilot Susi Air dari Tangan KST Papua

40
Ilustrasi-Ist

Oleh : Moses Waker

Pemerintah benar-benar sangat optimal untuk melakukan upaya pembebasan Pilot Susi Air yang disandera oleh Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua. Pengoptimalan tersebut dilakukan bahkan dengan banyak langkah dan strategi, termasuk menjalin dialog hingga negosiasi dengan berbagai pihak terkait.

Baru-baru ini, KST Papua pimpinan Egianus Kogoya terus menyebarkan ancaman. Ancaman yang mereka lakukan bahkan bukan hanya sekedar secara fisik saja, yakni beragam rangkaian aksi kekejaman dan juga kebiadaban dengan terus menyebarkan teror yang menghantui masyarakat di Tanah Air, bahkan termasuk menghambat upaya pembangunan yang digencarkan oleh Pemerintah di era kepemimpinan Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi).

Ancaman terbaru yang dilakukan oleh KST Papua pimpinan Egianus Kogoya adalah dengan menyebarkan video berupa ancaman akan melakukan penembakan pada pilot Susi Air, Kapten Philip Mark Mehrtens yang telah mereka sandera hingga lebih dari 3 (tiga) bulan itu setelah mereka melakukan penyerangan dan pembakaran pada pesawat tatkala di Bandara di Papua. Diketahui bahwa memang Pilot Susi Air tersebut sudah disandera oleh KST Papua sejak tanggal 7 Februari 2023 lalu.

Kemudian, dengan adanya video ancaman bahwa gerombolan kelompok separatis dan teroris Papua itu akan melakukan penembakan kepada Kapten Philip Mark Mehrtens membuat pihak Kepolisian Daerah (Polda) Papua melalui Operasi Damai Cartens langsung turun tangan untuk menyelidiki adanya video ancaman yang beredar itu.

Melalui siaran pers, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Papua, Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol), Ignatius Benny Ady Prabowo menegaskan bahwa saat ini pihaknya langsung dengan cepat dan tanggap melakukan penyelidikan mengenai adanya video ancaman KST Papua kepada Kapten Pilot Susi Air yang mereka sandera itu.

Diketahui pula bahwa dalam video yang telah beredar luas di masyarakat melalui media sosial di internet itu, tampak memperlihatkan dengan cukup jelas bahwa Pilot Susi Air, Kapten Philip Mark Mehrtens tengah menyebutkan bahwa KST pimpinan Egianus Kogoya akan melakukan penembakan padanya dan tentunya tindakan itu sangatlah mengancam nyawanya, terlepas dari misalnya beredarnya video ancaman itu hanyalah sekedar gertak sambal belaka ataupun memang diniatkan demikian, namun jelas sekali bahwa adanya ancaman tersebut sangat mempengaruhi psikologis Philip.

Ancaman penembakan akan segera dilakukan oleh KST Papua dengan tuntutan apabila dalam jangka waktu yang mereka berikan, yakni pada 2 (dua) bulan ke depan, sama sekali tidak ada dialog yang membahas soal Papua Merdeka.

Jelas sekali bahwa keinginan gerombolan kelompok separatis dan teroris itu adalah menginginkan bahwa agar mereka bisa sesegera mungkin bisa merdeka dan terlepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang mana hal itu sangatlah mengancam stabilitas keamanan dan kondusifitas negara.

Sementara dalam siaran pers yang dikeluarkan oleh Polda Papua tersebut juga menjelaskan bahwa pihaknya akan terus memaksimalkan negosiasi untuk mampu segera membebaskan pilot Susi Air dari tangan KST Papua yang menyanderanya.

Bahkan, negosiasi tersebut benar-benar diupayakan dengan komitmen yang sangat kuat bahwa dirinya akan secara langsung berupaya melakukan negosiasi kepada pimpinan gerombolan kelompok separatis dan teroris di Bumi Cenderawasih tersebut, yakni Egianus Kogoya agar bisa segera melepaskan Pilot Susi Air.

Bukan hanya sekedar pembicaaran atau negosiasi yang dilakukan langsung kepada pimpinan KST Papua saja, upaya pembebasan Kapten Pilot Philip Mark Mehrtens ini, Pemerintah RI juga turut menggandeng para tokoh pimpinan agama seperti pihak Gereja, yang di dalamnya terdapat Dewan Gereja dan Uskup, sehingg upaya serta komitmen kuat dalam hal negosiasi tersebut bisa berjalan dengan jauh lebih maksimal lagi.

Saat ini, pihak Satgas Damai Cartenz sendiri sedang terus mempersiapkan berbagai macam langkah upaya penegakan hukum, termasuk akan terus membuka negosiasi dan dialog dengan siapapun, termasuk pihak pemerintah daerah (Pemda) di Nduga hingga Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

Dialog yang dilakukan oleh aparat keamanan dengan melibatkan Komnas HAM memang merupakan sebuah hal yang sangat penting untuk dilakukan, pasalnya memang selama ini rangkaian aksi kejahatan yang dilakukan oleh KST Papua adalah terus bertentangan dengan nilai-nilai dan asas HAM, yang mana tindak keji mereka sama sekali tidak manusiawi.

 Pembebasan Pilot Susi Air, Kapten Philip Mark Mehrtens yang disandera oleh KST Papua terus dilakukan Pemerintah RI dengan sangat optimal, yakni melalui banyak sekali mekanisme dan langkah strategi lainnya termasuk mengajak banyak pihak untuk terus bersama dan menjalin dialog.

Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Makassar