Pemerintah Terus Negosiasi Pembebasan Pilot Susi Air dari KST Papua

18

Oleh : Alfred Jigibalom
Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan juga pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nduga terus membuka adanya ruang negosiasi, dialog dan komunikasi sangat lebar demi melakukan misi pembebasan pilot Susi Air yang disandera oleh KST Papua.

Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI), Laksamana Yudo Margono menyatakan bahwa seluruh aparat keamanan personel gabungan, termasuk pihaknya, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) hingga Badan Intelijen Negara (BIN) terus akan melakukan dan mengedepankan berbagai macam langkah yang humanis dengan tujuan melakukan resolusi konflik kepada pihak Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua pimpinan Egianus Kogoya.

Tentunya upaya pendekatan yang humanis dengan gerombolan separatis di Bumi Cenderawasih tersebut, seluruhnya dalam rangka untuk bisa melakukan misi evakuasi, penyelamatan hingga pembebasan Pilot maskapai penerbangan Susi Air yang sampai saat ini masih disandera oleh kelompok pimpinan Egianus Kogoya itu.

Pendekatan humanis dan upaya resolusi konflik yang dimaksudkan adalah, seluruh aparat keamanan dari personel gabungan baik itu TNI, Polri maupun BIN terus menjalin kerja sama dan sinergitas yang baik dengan pihak Penjabat (Pj) Bupati Kabupaten Nduga untuk membuka adanya ruang dialog.
Sebelumnya, memang pihak Pj Bupati Nduga sendiri telah menyanggupi dan bersedia untuk terus melakukan negosiasi dan membuka ruang dialog serta komunikasi dengan sangat lebar bersama dengan KST Papua yang menyandera pilot bernama Philips Mark Mehrtens, yang merupakan kapten pilot berasal dari Selandia Baru itu.

Bahkan, sampai saat ini pun, negosiasi sendiri juga terus tengah diupayakan oleh pihak Pj Bupati Nduga. Hal tersebut ternyata merupakan permintaan dari Bupati sendiri, yang mana sempat mengutarakan secara langsung kepada Panglima Daerah (Pangdam) agar mereka terlebih dahulu yang melaksanakan negosiasi dengan kelompok pimpinan Egianus Kogoya tersebut.

Lebih lanjut, pihak aparat keamanan sendiri menegaskan bahwa sama sekali tidak akan mau untuk menggunakan berbagai cara maupun pendekatan secara militer untuk upaya misi penyelamatan dan pembebasan Pilot Susi Air tersebut.

Tentunya bukan tanpa alasan mengapa hal ini benar-benar ditegaskan dan ditekankan oleh aparat keamanan, khususnya Panglima TNI. Pasalnya, Laksamana Yudo Margono sangat khawatir dengan bagaimana keselamatan masyarakat atau warga sipil Papua di sekitar wilayah itu apabila misalnya nanti menggunakan pendekatan secara militer dalam upaya pembebasan sang kapten pilot.

Sehingga, tentunya hal itu menjadi alasan sangat kuat mengapa sampai saat ini negara terus mengedepankan pendekatan yang sangat humanis, yakni terus membuka ruang dialog dan negosiasi dengan KST Papua serta tidak memilih untuk menggunakan pendekatan secara militer, karena akan sangat berpotensi untuk menambah korban lain lagi, utamanya dari kalangan masyarakat sipil yang tidak bersalah.

Pasalnya, sejauh ini gerombolan separatis pimpinan Egianus Kogoya itu sendiri pun seringkali menggunakan cara-cara yang licik untuk semakin menekan dan mengancam negara, salah satu cara yang pernah mereka gunakan adalah dengan memanfaatkan masyarakat sipil orang asli Papua (OAP), bahkan mulai dari kalangan perempuan hingga anak-anak sebagai tameng hidup mereka.

Apabila misalnya pihak aparat keamanan dan negara, pemerintah pusat hingga pemerintah daerah setempat beserta seluruh stakeholder atau pemangku kepentingan terkait tidak menggunakan strategi atau langkah yang cermat dalam penanganan kasus penyanderaan Pilot Susi Air ini, maka tentunya akan menimbulkan banyak sekali dampak buruk dan kerugian besar akan dirasakan oleh masyarakat sipil.

Untuk itu, sejauh ini apabila memang masih ada kesempatan dan cara yang dilakukan dengan mengedepankan cara damai, maka tentunya seluruh pihak tersebut akan lebih memilih dan memprioritaskan cara-cara yang damai dalam resolusi konflik dengan KST Papua.

Hal itu juga menandakan bagaimana negara sangat peduli dengan keselamatan seluruh masyarakatnya, khususnya negara sangat meletakkan perhatian kepada semua rakyat di Bumi Cenderawasih. Terlebih pembangunan yang masif juga selama ini terus dilakukan di provinsi paling Timur di Indonesia itu oleh pemerintah di era kepemimpinan Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi).

Ungkapan senada juga dikemukakan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia (Wapres RI), K.H. Ma’ruf Amin yang menegaskan bahwa pihak pemerintah tentunya lebih memilih untuk melakukan upaya negosiasi dalam misi pembebasan sandera karena sama sekali tidak ingin adanya jatuh korban yang lebih banyak lagi.

Selama ini, upaya misi pembebasan pilot dari maskapai penerbangan Susi Air bernama Philips Mark Mehrtens memang terus dengan sangat hati-hati dan langkah yang cermat dilakukan oleh pemerintah termasuk juga dengan adanya bantuan dari Pemkab Nduga. Ruang dialog dan komunikasi pun terus dibuka dengan sangat lebar kepada kelompok pimpinan Egianus Kogoya sehingga kedua belah pihak bisa segera melakukan resolusi konflik dengan damai.

Penulis adalah Mahasiswa Papua tinggal di Bali