Penanganan Corona di Indonesia Lebih Baik daripada Negara Lain

8
Ilustrasi-Istimewa
Foto Ilustrasi | Ist

Oleh : Lisa Pamungkas

Kita wajib bangga karena penanganan Corona di Indonesia lebih baik daripada negara lain, sehingga memperbesar angka kesembuhan pasien covid sekaligus meminimalisir angka kematian. Penanganan yang baik ini terjadi karena semua pihak gotong royong dalam mengatasi pandemi.

Selama dua tahun kita dipaksa beradaptasi dan menjaga gaya hidup sehat gara-gara  virus bernama Corona. Pandemi yang terjadi secara global membuat dunia terasa seperti jungkir balik. Untung saja sudah ada kecanggihan teknologi pengobatan sehingga lebih banyak yang selamat daripada yang kehilangan nyawa.

Juru bicara Tim Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menyatakan bahwa penanganan Corona di Indonesia jauh lebih baik daripada negara lain. Penyebabnya karena ada koordinasi yang matang (antara tim satgas, tenaga kesehatan, dan juga relawan). Selain itu, semua pihak (juga masyarakat), bekerja sama untuk penanganan Corona.

Penanganan Corona di Indonesia menjadi lebih baik daripada yang lain, karena kita menjadi pionir dalam menjalankan program vaksinasi, jika dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara. Jika vaksin cepat dimulai maka juga akan cepat selesai, dengan begitu maka kekebalan kelompok akan cepat terbentuk dan situasi pandemi lekas diakhiri.

Vaksinasi juga digratiskan oleh pemerintah bahkan disediakan slot bagi tiap WNI yang berusia di atas enam tahun untuk disuntik sampai tiga kali (booster). Pemerintah juga menjamin keamanan dan kehalalan vaksin sehingga tidak ada alasan untuk menolaknya.

Bandingkan dengan negara-negara lain yang masih mematok harga untuk vaksinasi. Pemerintah tidak ingin membebani rakyat, sehingga vaksin masih digratiskan. Presiden Jokowi mengerti bahwa kemampuan ekonomi warga sedang menurun saat pandemi, sehingga memutuskan untuk tidak mematok harga sepeser pun untuk membayar vaksin.

Selain itu, pemerintah juga memberlakukan 3T, yakni testing, tracing, and treatment. Penyebabnya karena treatment (pengobatan) saja tidak cukup, tetapi wajib dilengkapi dengan pengetesan (testing) dan tracing. Testing dilakukan secara acak tetapi teratur (berpindah-pindah tempat) untuk mengetahui berapa persen masyarakat yang positif Corona.

Testing memang digencarkan lagi karena makin banyak orang tanpa gejala yang berkeliaran, apalagi jika kena Corona ringan rasanya hanya kena flu biasa. Jika jumlah OTG bisa dikenali maka mereka akan cepat diselamatkan dan diobati sehingga lekas sembuh. Dengan begitu akan mengurangi penularan Corona, apalagi omicron lebih menular daripada varian delta.

Jangan lupakan proses tracing karena jika OTG tahu bahwa dirinya positif, maka harus ditelusuri habis berkontak dengan siapa saja. Dengan begitu maka orang yang pernah kontak juga wajib untuk dites, jangan-jangan juga kena Corona?

Sementara proses treatment juga sangat dibantu oleh pemerintah, dan masih digratiskan (ditanggung oleh BPJS). Ketika ada yang positif Corona maka juga bisa isolasi di tempat yang disediakan dan masih gratis, malah di sana juga mendapat obat-obatan. Ketika ada yang isolasi mandiri di rumah maka bisa memanfaatkan layanan telemedicine dan menelepon dokter untuk konsultasi.

Pemerintah berkomitmen untuk menangani Corona sebaik mungkin dan berbagai usaha dilakukan. Selain menangani di bidang kesehatan, juga menangani dampak Corona di bidang ekonomi dengan memberi berbagai bantuan, mulai dari bantuan langsung tunai hingga keringanan suku bunga kredit.

Saat pemerintah Indonesia berjuang untuk menangani Corona dan dampaknya maka kita sebagai warga negara  yang baik harus mendukung program-program pemerintah, seperti vaksinasi dan 3T (testing, tracing, and treatment). Jangan malah lari tunggang-langgang ketika ada testing acak, karena justru menyelamatkan Anda dari bahaya Corona.

Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute