Selamat Hari Pers Nasional: Membangun Optimisme Ditengah Pandemi Melalui Pemberitaan Media

7

Oleh : Farouk Alviansyah

Hari Pers Nasional (HPN) yang diperingati tiap tanggal 9 Februari menjadi momen bagi tiap insan pers untuk terus menyajikan berita terbaik kepada publik. Dengan adanya pemberitaan berita yang baik di tengah pandemi Covid-19 maka optimisme rakyat diharapkan dapat terbentuk.

Wartawan adalah profesi yang mulia karena menulis berita lalu mempublikasikan ke banyak orang, sehingga mereka mengikuti kabar terkini. Seorang kuli tinta bisa berekspresi lewat penanya, dan memviralkan fakta yang bahkan belum banyak diketahui banyak orang. Akan tetapi profesi ini juga rawan karena sekarang jurnalis rawan disusupi oleh kepentingan di luar kesucian misi kewartawanan.

Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional tanggal 9 Februari ini. Beliau juga berpesan kepada setiap wartawan untuk memberikan informasi yang kredibel dan terpercaya di masa pandemi. Jangan malah sengaja membuat misleading, misinformasi, disinformasi, bahkan menyebar hoaks.

Dalam artian, seorang wartawan memang rawan sekali untuk menyebarkan berita yang menghebohkan tentang Corona. Misalnya ketika varian Omicron sudah masuk ke Indonesia, jangan malah dinarasikan bagai mimpi buruk yang jadi nyata. Virus hasil mutasi ini memang lebih berbahaya daripada varian delta tetapi jangan membuatberita yang terlalu lebay, yang membuat masyarakat paranoid untuk keluar rumah, karena takut dihinggapi Omicron.

Selain itu, wartawan (khususnya di media online) jangan malah membuat judul berita yang menggemparkan, hanya gara-gara ingin pageview di website koran daringnya melonjak. Misalnya ketika ada kenaikan kasus Omicron, dikabarkan akan bagai kiamat. Semuanya dilebih-lebihkan karena mereka manggunakan teknik click bait, yang malah bisa membuat pembaca kapok karena isi beritanya tak seheboh judulnya.

Percayalah dengan judul yang apik, pageview bisa naik sendiri, karena click bait malah membuat koran online terkesan murahan. Sama saja dengan koran kuning (versi cetak) yang biasanya dijual di perempatan jalan, yang menyajikan berita ecek-ecek. Jagalah kualitas berita maka media akan terus eksis.

Sebagai insan pers yang baik, wajib untuk selalu berpegang teguh pada kode etik jurnalistik. Bantulkah pemerintah untuk menulis berita tentang Corona yang jujur tetapi tidak terlalu berlebihan. Penyebabnya karena ketika ada berita yang menghebohkan takut akan membuat masyarakat panik dan mengira bahwa serangan Corona gelombang ketiga sudah terjadi dan mengakibatkan banyak kematian.

Jangan sampai masyarakat panik gara-gara pemberitaan tentang pandemi yang tak sesuai fakta dan berlebihan, karena bisa menyebabkan kegemparan. Misalnya panic buying dan akhirnya sembako menghilang di pasaran, karena takut akan kebijakan lockdown. Atau ada yang takut untuk sekadar keluar ke teras karena khawatir tertular Omicron.

Ketenangan adalah separuh kesembuhan dan kepanikan justru sebaliknya. Jangan membuat masyarakat panik karena justru yang memiliki komorbid seperti penyakit jantung bisa kumat, karena takut kena Corona. Padahal mereka sudah divaksin tetapi jadi paranoid setelah membaca berita heboh di koran. Akhirnya masuk ke RS karena kambuh penyakitnya, bukan karena Corona.

Pers seharusnya sadar bahwa berita negatif sudah terlalu banyak beredar dan wajib diimbangi dengan berita positif. Dalam artian, bukan berarti menyuruh mereka berbohong, karena pandemi masih berjalan. Akan tetapi berita yang ditulis harus jujur dan tidak dibikin heboh, seolah-olah Indonesia bisa hancur karena Corona.

Dalam rangka memperingati hari pers nasional maka para wartawan dihimbau untuk menulis berita dengan angle positif dan bukan sebaliknya, malah berlomba-lomba membuat judul click bait. Jangan malah meracuni pikiran masyarakat hanya gara-gara ingin viewers naik, tetapi harus tetap berpegang teguh pada kode etik jurnalistik.

Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute