Stop Saling Menyalahkan Atas Pembatalan Piala Dunia U-20

97

Oleh : Anindira Putri Maheswani
Seluruh elemen masyarakat harus kembali bersatu dan jangan sampai memberikan ruang atau kesempatan bagi adanya perpecahan. Berhenti untuk saling menyalahkan atas kejadian pembatalan Indonesia menjadi tuan rumah dalam ajang Piala Dunia U-20.

Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) telah secara resmi memutuskan untuk melakukan pembatalan pada penyelenggaraan Piala Dunia Sepak Bola U-20 pada tahun 2023 ini di Indonesia.
Mengenai keputusan dari FIFA tersebut, kemudian Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi) meminta kepada semua pihak untuk bisa menghormati apa yang sudah menjadi keputusan dari pihak FIFA.

Lebih lanjut, Kepala Negara RI itu juga mengaku sangat memahami bagaimana keputusan yang diberikan oleh FIFA memang tidak bisa dipungkiri memberikan rasa kekecewaan kepada masyarakat di Tanah Air, bahkan termasuk dirinya sendiri secara pribadi.

Kendati demikian, Presiden Jokowi tetap meminta kepada seluruh masyarakat untuk tidak menghabiskan energi mereka untuk justru melakukan hal yang sama sekali tidak bermanfaat dan mengakibatkan perpecahan serta adu domba seperti saling menyalahkan.

Menurutnya, sebagai bangsa yang besar, Indonesia memang harus terus bisa melihat segala kejadian ke depan dan justru jangan sampai terus menerus hanya melihat ke belakang saja, karena itu akan menghambat adanya progress untuk bisa terus maju.
Mantan Gubernur DKI Jakarta itu juga mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat supaya bisa menjadikan peristiwa tersebut, yakni keputusan FIFA yang menyatakan bahwa Indonesia tidak bisa menjadi tuan rumah pada penyelenggaraan Piala Dunia Sepak Bola U-20 agar bisa dipahami sebagai sebuah pelajaran berharga bagi semua pihak, termasuk juga bagi persepakbolaan nasional.

Bukan hanya itu, namun Presiden Jokowi juga langsung meminta kepada Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Erick Thohir untuk melakukan upaya secara jauh lebih maksimal supaya Tanah Air tidak mendapatkan sanksi, termasuk juga agar masih bisa diberikan kesempatan lainnya dalam menjadi tuan rumah tatkala terjadi event-event lain yang bertaraf internasional.

Justru untuk saat ini dan ke depannya, menjadi sangat penting untuk bisa terus menatap masa depan dan jangan hanya terpaut dengan masa lalu saja. Justru, seluruh elemen masyarakat pada kala seperti ini menjadi sangat penting untuk bisa terus mempererat tali persatuan dan persaudaraan.

Jangan sampai justru melakukan upaya saling menyalahkan dengan menuding saudara sebangsa dan setanah air lainnya, yang mana mereka menolak adanya Timnas dari negara penjajah. Jangan pula kemudian saling memusuhi ketika ada pendapat lain yang mendukung keberadaan Timnas dari negara penjajah.

Sejatinya, keduanya merupakan sama-sama saudara yakni masih menjadi warga negara Indonesia. Kedua pemikiran tersebut juga memiliki alasan yang sama-sama mendasar dan kuatnya.

Kemudian terdapat poin yang sangat penting lainnya, yakni kedua belah pihak pemikiran sejatinya sama-sama saling menginginkan Indonesia agar bisa menjadi tuan rumah pada Piala Dunia Sepak Bola U-20 dan juga keduanya sangat berkeinginan supaya Indonesia mampu disegani di mata dunia dan juga dihormati dengan FIFA.

Sementara itu, terdapat pula sebuah ulasan dari Najwa Shihab yang dengan tegas menyatakan bahwa sejatinya FIFA sendiri menggunakan standar ganda. Bagaimana tidak, lantaran mereka terkesan sangat membela mati-matian Timnas Israel padahal mereka juga degan mudah mampu melakukan pelarangan atau banned kepada Timnas Rusia tatkala penyelenggaraan Piala Dunia pada tahun 2022 lalu.

Sedangkan, tidak bisa dipungkiri pula bahwa Indonesia sendiri sebagai sebuah bangsa yang besar memiliki prinsip yang kuat, yakni sudah sejak dulu memang para pendiri bangsa ini sangat menolak adanya tindakan penjajahan yang dilakukan oleh siapapun, termasuk oleh Israel.

Penolakan tersebut juga terlihat dengan bagaimana sampai sat ini, Indonesia masih menutup jalur diplomatik resmi dengan Israel sebagai akibat dari perlakuan mereka terhadap Palestina.

Dengan adanya keputusan FIFA yang membuat Indonesia gagal menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20, maka bisa saja dianggap sebagai sebuah berkah. Lantaran hal tersebut sebenarnya sangat menunjukkan kepada mata dunia internasional bahwa sejatinya Tanah Air merupakan sebuah negara yang memiliki prinsip sangat kuat. Pembatalan tersebut juga jangan sampai menjadikan masyarakat di Indonesia justru menjadi saling terpecah dan kemudian saling menyalahkan lantaran adanya perbedaan pendapat mengenai pihak yang mendukung atau pihak yang menolak keberadaan Israel.

Penulis adalah kontributor Persada Institute