Terus Lakukan Aksi Teror, Masyarakat Dukung Pemerintah Berantas KST Papua

28

Oleh Marsya Bonay 

Kelompok Separatis Teroris (KST) Papua kembali melakukan aksi teror di Kabupaten Puncak dengan membakar honai (rumah khas Papua) dan gedung SMP Negeri 1 Gome di Kampung Kunga, Distrik Ilaga, Provinsi Papua Tengah pada Jumat (10/11/2023). KST Papua juga melakukan penembakan terhadap fasilitas militer, yaitu Pos Kodim Persiapan di Gome. 

Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol. Ignatius Benny Ady Prabowo mengatakan ulah KST Papua itu diketahui setelah menerima laporan dari Kapolres Puncak Kompol I Nyoman Punia yang berada di lapangan. Benny menjelaskan pembakaran SMP 1 Gome oleh KST Papua diketahui sekitar pukul 17.15 WIT. Selain itu, juga terjadi tembakan flare berwarna merah sebanyak 10 kali dari tiga arah yang berbeda.

Sebelum kabur ke Kunga, KST Papua sempat kontak senjata dengan aparat TNI. Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III, Kolonel Czi Gusti Nyoman Suriastawa mengatakan, kontak tembak ini terjadi setelah personel TNI menerima informasi dari masyarakat tentang keberadaan enam orang yang mencurigakan di Tanah Merah Gome.

Dari informasi itu, personel Satgas Pamtas Mobile Yonif Raider 300/BJW mendatangi honai untuk memeriksa ke enam warga tersebut, namun saat personel mendekat, keenam warga yang diduga anggota KST Papua itu, menembak personel Satgas Pamtas Mobile Yonif Raider 300/BJW.

Personel Satgas Pamtas pun mengeluarkan tembakan balasan sehingga terlibat kontak tembak dengan kelompok separatis tersebut.

Usai kontak tembak, personel Satgas Pamtas menggeledah honai yang digunakan enam anggota KST dan menemukan sejumlah barang bukti berupa radio HT, teropong, senter dan barang lainnya. Aparat gabungan TNI, Polri dan Satgas Damai Cartenz juga melakukan penyisiran memburu KST Papua.

Selanjutnya, pada pukul 20.45 WIT, diterima laporan terbaru yang menyebutkan bahwa satu honai juga dibakar oleh KST Papua. Akibat peristiwa tersebut, aparat keamanan gabungan di Kabupaten Puncak sedang berupaya menangani situasi ini. Hal itu dilakukan dengan meningkatkan pengamanan guna mencegah terjadinya insiden lanjutan atau balasana pasca aksi kelompok separatis tersebut.

Kabid Humas Polda Papua Benny mengaku, insiden pembakaran ini menunjukkan eskalasi gangguan keamanan di wilayah Puncak, Papua Tengah yang berkelanjutan. Namun, pihak berwenang akan terus berjuang untuk menghadapi ancaman KST Papua demi menjaga kedamaian serta keamanan di daerah tersebut.

Aksi KST Papua tidak hanya menyerang, tetapi juga menebar teror hingga membunuh. Korban teror dan serangan KST Papua tidak hanya personel TNI Polri, tetapi juga masyarakat sipil.

Melihat berbagai kejahatan yang dilakukan kelompok separatis di Papua, Uskup Jayapura Monsinyur Yanuarius Theofilus Matopai You menyerukan penghentian kekerasan di Papua. Yanuarius mengatakan di tengah konflik TNI-Polri dengan KST Papua, korban terbanyak justru berasal dari kalangan masyarakat sipil.

Yanuarius mendesak pemerintah mengambil tindakan tegas untuk menghentikan kekerasan di Papua, dan mendorong dilakukannya dialog antara pemerintah pusat dengan pihak-pihak terlibat. Dialog tidak berarti pemerintah pusat harus menerima apa yang masyarakat Papua sampaikan. Tetapi mendengar apa yang masyarakat mau bicarakan. Sebab, kekerasan di Papua sudah terjadi selama puluhan tahun. Maka semua pihak harus segera menghentikan kekerasan yang hanya merugikan masyarakat Papua.

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Agus Subiyanto mengatakan butuh konsep operasi yang tidak biasa untuk menyelesaikan konflik di Papua. Karena konflik Papua sudah 62 tahun dan tidak kunjung selesai, berarti harus ada konsep operasi atau strategi penanganan konflik yang out of the box di Papua. Agus akan mengedepankan soft approach dengan memahami kearifan lokal dalam menangani konflik di Papua. Selain itu, upaya hard approach juga penting untuk tetap dilakukan.

Masyarakat meniai KST Papua sebagai sumber kekacauan di tanah Papua. Pasalnya, KST Papua tidak hanya terlibat dalam serangan terhadap aparat keamanan dan masayarakat sipil, tetapi juga penculikan dan pembunuhan. Aksi teror yang dilancarkan KST Papua tentunya sudah keluar dari jalur kerangka pembangunan Papua, yang sejatinya diperuntukkan untuk orang Papua itu sendiri. Artinya ketika pembangunan macet, secara jangka panjang akan berdampak kepada masalah-masalah kesejahteraan masyarakat Papua sendiri, seperti akses jalan dari satu wilayah ke wilayah yang lain, pertumbuhan ekonomi, maupun peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Papua.

Aparat penegak hukum tidak boleh lagi memberikan ruang bagi KST Papua untuk melakukan aksi kejahatan. Apalagi, mereka telah menyerang dan meneror warga hingga membuat aparat keamanan gabungan serta masyarakat sipil  terbunuh di Papua. KST Papua terus menjadi ancaman serius bagi keamanan di wilayah tersebut. Oleh sebab itu langkah-langkah tegas diperlukan untuk mengatasi dan memberantas KST Papua demi melindungi serta menjamin keberlanjutan pembangunan yang penting bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Papua.

Penulis merupakan mahasiswi asal Papua di Surabaya