Tindak Tegas KST Papua Pembakar Gedung Sekolah

28

Oleh : Dika Samba

Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua kembali melakukan aksi-aksi penyerangan disaat Indonesia sedang memperingati Hari Pahlawan. Kelompok tersebut menyerang fasilitas pendidikan dan militer di Distrik Ilaga, tepatnya rumah tradisional masyarakat Papua (Honai) dan Gedung SMPN 1 Gome yang hangus terbakar. Tidak tinggal diam, dengan sigap Satgas Operasi Damai Cartenz berupaya menghentikan aksi KST Papua dengan melakukan pengamanan wilayah atas aksi tersebut.

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Ignatius Benny Prabowo, mengatakan serangan KST pertama kali terjadi sekitar pukul 17.15 WIT. Kelompok separatisme semula menyasar Gedung SMPN 1 Gome untuk dirusak. Saksi-saksi mata menyaksikan ada suara-suara tembakan dari tempat kejadian dan melihat ada seperti flare (suar api) yang diarahkan ke gedung sekolah tersebut. Atas kejadian tersebut, aparat gabungan dari TNI-Polri terus melakukan penyisiran di lokasi untuk mengantisipasi eskalasi dan gangguan keamanan yang dilakukan oleh KST Papua di wilayah tersebut. 

Hasil dari laporan Polres Puncak tak ada catatan korban jiwa dalam serangan tersebut. Tetapi, dipastikan fasilitas sekolah menengah pertama untuk masyarakat di Papua ludes terbakar. Setelah melakukan aksi pembakaran di sekolah, KST dengan personel yang sama mengarahkan sasarannya ke tempat lain yang tidak jauh dari lokasi pertama.

Ditemukan barang bukti berupa 1 buah teropong jenis Baigish Rusia, 1 buah HT Kenwood, 1 buah Handphone jenis Merk OPPO, 1 buah telepon genggam Polyponik jenis Merk Nokia, 2 buah senter, 1 buah Headshet HT dan 1 buah teropong kecil

Terbongkar juga siasat dari KST yaitu mereka berupaya membaur dengan masyarakat untuk menyerang, baik TNI maupun masyarakat itu sendiri dengan menggunakan Honai masyarakat sebagai persembunyian sebelum melakukan aksinya. Hal ini sontak membuat KST menjadi jengkel dan meluapkan amarahnya kepada masyarakat dengan memberikan ancaman dan intimidasi. Hal ini dipicu oleh kecurigaan KST terhadap masyarakat karena telah membocorkan informasi kepada Satgas TNI bahwasanya KST memanfaatkan masyarakat sekitar untuk menjadi tameng dalam menyerang TNI.

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Ignatius Benny Ady Prabowo mengatakan, aksi teror tersebut diketahui usai ada laporan kebakaran gedung SMPN 1 Gome. Tak berselang lama, ada tembakan flare berwarna merah sebanyak 10 kali dari tiga arah yang berbeda.

Berbagai peristiwa penyerangan yang dilakukan oleh KST Papua terus menyebabkan kerusakan fasilitas hingga menimbulkan korban jiwa. Masyarakat menjadi resah, ketakutan dan kebingungan karena aktifitas harian mereka juga akan terhambat karena harus meninggalkan pemukiman tempat tinggal mereka. Banyak pihak mengutuk dengan sangat keras tindakan yang dilakukan oleh kelompok separatis dan teroris di Papua itu, yang mana selama ini terus saja menyebarkan aksi teror dan juga tindak provokasi sehingga sudah sepatutnya harus bisa direspon dengan sangat keras pula.

Aparat keamanan yang berjaga di Pos Kodim Persiapan melakukan tembakan balasan kearah KST Papua guna memberi peringatan kepada kelompok tersebut. Aparat pun tetap melakukan pengamanan ketat hingga wilayah tersebut terpantau aman dan kondusif.

Tindakan tegas terhadap KST perlu dilakukan, selain memberi hukuman yang paling berat. TNI dan Polri sebagai aparat keamanan juga diperbolehkan bertindak tegas kepada KST jika ada konflik di daerah-daerah yang rawan Tindakan tegas terukur dilakukan karena saat berhadapan dengan para anggota KST, tidak bisa dibekuk dengan tangan kosong.

Hingga kini, aparat gabungan dari unsur TNI-Polri berupaya menangani situasi ini untuk mencegah terjadinya insiden lanjutan pasca aksi tersebut. Hingga kini terus melakukan penyisiran dan penyelidikan lebih lanjut untuk mengidentifikasi pelaku di balik serangkaian kejadian ini.

Kepala Suku Besar Kabupaten Puncak, Abelum Kogoya juga menyampaikan ucapan terimakasih banyak kepada TNI karena disaat mereka tidak punya makanan, TNI selalu hadir dan membatu mereka.

KST wajib diberantas hingga ke akarnya, hal ini butuh bantuan seluruh elemen masyarakat, bukan hanya pemerintah dan aparat keamanan saja. Jika masyarakat bekerja sama dengan aparat maka akan tercipta kolaborasi yang bagus, Dengan begitu, KST akan diserbu dengan lebih cepat. Pembasmian memang harus dilakukan secara intensif, karena ditujukan untuk keamanan dan perdamaian di wilayah Bumi Cendrawasih. Masyarakat tidak takut lagi untuk beraktivitas seperti biasa dan tidak akan dibayang-bayangi oleh kekejian KST.

Memberantas aksi kejam KST Papua memerlukan pendekatan yang kompleks, melibatkan koordinasi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat. Dialog, pembangunan ekonomi, serta peningkatan kesejahteraan dapat menjadi langkah awal untuk mengatasi akar permasalahan. Penting juga untuk memastikan hak asasi manusia dihormati dalam penanganan konflik tersebut.

Upaya untuk memberantas aksi kejam KST di Papua bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Dengan menciptakan lingkungan yang aman dan stabil, langkah-langkah ini dapat membuka pintu bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Papua.

 Mahasiswa Filsafat di Papua