YPI Gandeng Jurnalis Perempuan Pemenuhan Kesehatan Perempuan dan Anak

34
foto : Intipnews.com

Medan-Intipnews.com: Dalam upaya pemenuhan Hak Kesehatan “Revisi PP No 109 Tahun 2012, Tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan perempuan dan anak , media massa dapat menjadi mitra kunci untuk menjangkau masyarakat luas.

Untuk itu Yayasan Pusaka Indonesia (YPI) bekerjasama dengan jurnalis perempuanKota Medan Sumatera Utara mengelar diskusi Mengusung Perempuan Teriakan Hak Kesehatan “Revisi PP 109 Tahun 2012, Bagian dari Perjuangan Perempuan untuk Menyelamatkan Generasi,Jumat 25 Maret 2022.

Dalam diskusi tersebut YPI menghadirkan narasumber yakni Prof Dr Dra Ida Yustina MSi yang merupakan Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (FKM-USU) dan Elisabeth Juniarti SH selaku Kordinator Divisi Advokasi Yayasan Pusaka Indonesia (foto).

Dari hasil diskusi tersebut, pentingnya peran pemerintah dalam menerbitkan peraturan yang tegas terhdap bahaya rokok, dengan membuat harga rokok menjadi mahal.

Meskiupun secara umum diskusi ini bertujuan sebagai media belajar bersama 25 jurnalis perempuan, tentang isu-isu kesehatan perempuan dan anak khususnya yang berhubungan dengan peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui isu pengendalian dampak buruk tembakau bagi kesehatan.

Sedangkan secara khususnya, diskusi ini diharapkan dapat menambah wawasan tentang hak perempuan atas kesehatan dan hubungan kesehatan perempuan dengan pembangunan kesehatan masyarakat.

Mensosialisasikan advokasi revisi PP Nomor 109 Tahun 2012 yang telah dilakukan sebagai upaya perlindungan kesehatan perempuan dan anak, memperluas jaringan advokasi dalam isu pengendalian dampak buruk tembakau di Indonesia, khususnya di Kota Medan, Provinsi Sumut.

Di kesempatan itu, Prof Dr Dra Ida Yustina MSi yang dihadirkan sebagai narasumber menyampaikan  kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial.

Berkaitan dengan perempuan, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (FKM-USU) ini menerangkan pada kenyataannya di lapangan, ditemukan masih ada perempuan yang selalu dinomorduakan dalam hal pola makan. Sehingga hal ini dapat mempengaruhi kesehatan perempuan itu sendiri, seperti contohnya ibu yang melahirkan dan menyusui.

Seharusnya ibu yang baru saja melahirkan diberikan makan yang cukup dan bukan dibatas-batasi, “terangnya. Selain pola makan bilangnya lagi, kenyataan yang masih terjadi dengan perempuan juga soal cuti menstruasi, pelecehan seksual di tempat kerja, jumlah anak, penggunaan alat kontrasepsi dan pengambilan keputusan.

“Realita ini membuktikan kalau perempuan masih belum disejajarkan dengan kaum pria, “tandasnya. Agar kaum perempuan tidak dinomorduakan perlu strategi seperti kebijakan, pendidikan masyarakat, penguatan akses informasi, penguatan mainstreaming kesehatan perempuan dalam pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.

Meskipun demikian, dirinya menilai kalau perempuan di Indonesia lebih baik dibandingkan di negara-negara lainnya. Itp05