Pesona Bukit Lawang Tetap Memikat,Dari Orangutan hingga Tour Kampung, Suguhkan Pengalaman Wisata Lengkap

Bukit Lawang-Intipnews.com:Pesona Bukit Lawang tetap tak kehilangan daya tarik beraktivitas tracking dan tubing.Daerah yang dikenal sebagai “The Hidden Paradise of Sumatera” ini memang sudah lama menjadi buruan wisatawan, baik mancanegara maupun lokal, terutama bagi pecinta alam liar.

Tamam salah satu pemandu lokal bercerita, salah satu hal yang kini paling dijaga ketat adalah larangan memberi makan orangutan, makanya dulu mereka jadi ketergantungan. 

“Masyarakat internasional banyak yang tidak suka kalau orangutan terus-menerus dikasih makan. Programnya kan untuk melepasliarkan, bukan membuat mereka bergantung,” jelasnya kepada media Intipnews.com saat mendampingi rombongan Familiarization Trip Langkat North Sumatera Utara berama ASTINDO(Asosiasi Travel Agent Indonesia), Dinas Kebudayaan,Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Sumut serta wisatawan, dari Singapura, Malaysia, dan Thailand, Kamis (27/11/25) di Bukit Lawang.

Karena itu, praktik pemberian makan dihentikan dan kawasan rehabilitasi ditutup.

Kini, wisatawan yang datang disarankan untuk menikmati tracking tanpa ekspektasi pasti melihat orangutan. “Namanya juga hutan. Kalau beruntung bisa ketemu orangutan, siamang, Thomas leaf monkey, burung rangkong, sampai kuau. Banyak jenis satwa lain yang bisa muncul,” tambahnya.

Menurut data lama dari Departemen Kehutanan, populasi orangutan di kawasan Bukit Lawang ini masih berkisar 7000-8000 ekor, sementara satwa lain seperti harimau Sumatera, badak Sumatera, hingga berbagai mamalia dan burung endemik juga masih menghuni hutan ini.

Turis Mancanegara Mendominasi

Musim wisata di Bukit Lawang tertinggi biasanya jatuh pada bulan Juni hingga Agustus, ketika musim panas di Eropa berlangsung. “Mayoritas tamu dari Belanda,” ujarnya. Sementara wisatawan lokal berkunjung ke Bukit Lawang umumnya datang untuk mandi-mandi di sungai, meski ada juga yang mencoba tracking.

Yang menarik, pemandu ini mengaku sudah lebih dari 30 tahun menemani turis. “Saya dari kecil sudah gait. Lebih dari 30 tahun,” katanya sambil tertawa.

Banyak Aktivitas Selain Tracking

Saat cuaca hujan dan tracking tak memungkinkan, wisatawan tetap punya banyak pilihan aktivitas. “Selain tracking, bisa kombinasi tubing. Sore hari bisa ikut kegiatan tur twilight, melihat kehidupan masyarakat di tempat wisata Bukit Lawang,” jelasnya.

Selanjutnya Tamam menjelaskan, dalam tour kampung itu, wisatawan diajak melihat, proses pembuatan gula merah

Kerajinan lokal, Home industri seperti tempe dan tahu serta Persawahan setelah itu menikmati kelapa muda di restoran tepi sungai.Semua perjalanan dilakukan dengan becak, moda khas kampung yang justru menjadi daya tarik tersendiri.

Selain itu, wisatawan juga dapat mengunjungi gua Kelelawar atau menuju Sungai Landak.Di sana mereka bisa makan siang sambil melihat ikan-ikan sungai yang jernih. “Yuk berwisata ke Bukit Lawang,”sebutnya.

“Semua aktivitas ini yang membuat wisatawan betah. Meski hujan, Bukit Lawang selalu punya cara membuat tamu merasa dekat dengan alam,” tutupnya.Itp.05