Rantauprapat-Intipnews.com:Bupati Labuhanbatu, dr. Hj. Maya Hasmita, Sp.OG., M.K.M., yang juga sebagai Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), masuk dalam 10 besar penerima penghargaan Anugerah Kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (AK PWI) Pusat, pada puncak perayaan Hari Pers Nasional, di Banten, 9 Februari 2026 mendatang.
Hal itu disampaikan Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat Yusuf Susilo Hartono, melalui siaran pers yang diterima wartawan, Kamis (1/1/26).
Menurut Yusuf, terdapat 10 kepala daerah, baik bupati maupun walikota se-Indonesia, yang masuk dalam babak akhir, dan diundang untuk mengikuti presentasi di kantor PWI Pusat.
Ke-10 kepala daerah tersebut, terdiri tiga walikota, masing-masing Walikota Malang, Provinsi Jawa Timur Wahyu Hidayat, Walikota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur Andi Harun, dan Walikota Mataram, Provinsi NTB, Mohan Roliskan.
Sedangkan tujuh yang lain para bupati, masing-masing Bupati Lampung Utara, Provinsi Lampung, Harmartoni Ahadis, Bupati Temanggung, Provinsi Jawa Timur, Agus Setiawan, Bupati Manggarai, Provinsi NTT, Heribertus Geradus Laju Nabit, Bupati Blora, Provinsi Jawa Tengah, Arief Rohman, Bupati Labuhanbatu, Provinsi Sumatera Utara, Maya Hasmita, Bupati Manokwari, Provinsi Papua Barat, Hermus Indou, dan Bupati Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, John Kenedy.
“ Kesepuluh kepala daerah tersebut dipilih oleh Dewan Juri, setelah menilai berkas proposal, dengan lampirannya yang banyak. Berupa video, PPKD, perda, link berita, foto-foto dokumentasi, dll. Keseluruhan berkas bisa puluhan sampai ratusan halaman. Dan untuk mendalami lebih lanjut kebenaran proposal dan lampirannya itu, masing-masing bupati/wali kota diundang presentasi secara langsung di PWI Pusat,” katanya.
Yusuf menuturkan, adapun Dewan Juri AK PWI – HPN 2026 terdiri 5 orang, berasal dari dalam dan luar PWI Pusat , yakni Dr. Nungki Kusumastuti (Dosen IKJ, penari dan artis film), Agus Dermawan T (pengamat dan penulis seni budaya, penerima Anugerah Kebudayaan RI), Sudjiwo Tejo (seniman, budayawan, mantan wartawan, anggota Tim Pakar PWI Pusat), Akhmad Munir (Dirut LKBN Antara, Ketua Umum PWI Pusat periode 2025-2030), dan Yusuf Susilo Hartono (Wartawan senior, pelukis dan penyair, Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat).
Waktu presentasi akan berlangsung tanggal 8-9 Januari 2026. Pada hari pertama, didahului dengan silaturahmi para bupati/wali kota dengan Pengurus PWI Pusat dan para tokoh pers, ditutup dengan pengundian nomor urut dan foto bersama untuk kepentingan buku acara. Kemudian pada hari kedua, presentasi berdasarkan nomor urut yang ada.
“ Dalam presentasi itu nanti, Dewan Juri akan mendalami sesuai topik yang diajukan. Aspek penilaiannya meliputi penguasan materi, gaya dan tehnik presentasi, dan sarana atau peraga pendukung,” tuturnya menekankan.
Memang pada saat presentasi, bupati/walikota dibolehkan membawa rombongan, yang terdiri dari kepala dinas terkait, tokoh masyarakat, dan pengurus PWI Provinsi/Kota/Kabupaten. “Akan tetapi mereka tidak boleh membantu bicara. Hanya sebagai saksi,” tambahnya.
Tahun 2026 ini, AK PWI Pusat mengangkat tema “Pemajuan Kebudayaan daerah yang Inklusif dan Berkelanjutan, Berbasis Media dan Pers”. Dari tiga sub tema yang ditawarkan, kebanyakan bupati/wali kota memilih sub-tema “Penguatan keragaman ekspresi budaya dan interaksi budaya inklusif”. Melalui potensi budaya masing-masing, yang terkait dengan 10 Objek Pemajuan Kebudayaan, yang ada dalam Undang-undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
“Dalam menilai, Dewan Juri, menyoroti aspek inovasinya apa, dan dampaknya sejauh mana pada masyarakat lokal, nasional dan global,” tandasnya.
Wartawan dan Komunitas
Lebih jauh Yusuf menjelaskan, AK PWI Pusat telah berlangsung sejak HPN 2016 di Lombok, NTB. Dari sekitar 50 bupati/walikota “alumni” Anugerah Kebudayaan PWI Pusat ini, antara lain Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang kini jadi Gubernur Jawa, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas kini mantan Menteri PANRB, Wali kota Surabaya Eri Cahyadi. Ada pula yang dianulir karena tertangkap KPK.
Pada tahun kesepuluh ini, selain kategori bupati/wali kota, ditambah satu kategori rintisan, yaitu “Wartawan dan Komunitas”. Kategori ini menitik beratkan pada kinerja jurnalistik dan kegiatan seni budaya yang digeluti paling kurang selama 10 tahun, dengan dampaknya nasional hingga internasional. Mereka mendaftar dengan mengirim proposal, CV, copy kartu pers, bukti tulisan, foto/video kegiatan, dan piagam-piagam. Selain dari bebagai daerah di Pulau Jawa, pesertanya juga dari Pulau Sumatera.
Dewan Juri telah menetapkan tiga wartawan senior yang akan menerima penghargaan ini. Masing-masing Rahmi Hidayati (Tangsel) mantan wartawan Bisnis Indonesia,yang berkiprah sebagai Ketua Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) yang turut mengangkat kebaya meraih warisan tak benda dunia UNESCO. Seno Joko Suyono (Jakarta/Bekasi), mantan wartawan Tempo, dengan komunitas Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF), dan Henri Nurcahyo (Surabaya) penggerak komunitas Panji dengan jaringannya sampai Asia dan internasional, serta turut berjuang sehingga Panji meraih warisan dunia tak benda dunia UNESCO. (Itp AAT).







