Aucin, Seniman Muda Medan yang Setia Menapaki “Jalan Sunyi”

Medan-Intipnews.com:Aucintia Agnes R. Manik atau yang akrab disapa Aucin merupakan seorang perempuan kelahiran tahun 2000 yang menekuni dunia teater. Bagi Aucin, panggung teater bukan sekadar tempat berlakon, serta lebih dari sarana hiburan. Baginya, teater adalah wujud nyata dari imajinasi dan cita-cita yang terbentuk sejak belia melalui buku-buku pemberian ibunya.

Alumni Sastra Indonesia Universitas Negeri Medan ini menekuni teater sejak 2015, saat usianya masih 15 tahun. Dalam kesehariannya, Aucin mengaku aktif berteater dan menulis naskah. Beberapa waktu ia juga menyutradarai pementasan dan terlibat dalam televisi seperti Opera Medan di Televisi Republik Indonesia (TVRI).

Akar ketertarikannya pada teater bermula dari kebiasaan di rumah yang selalu membaca buku. Saat kecil, di masa ketika telepon genggam belum seakrab sekarang, ibunya terbiasa pulang berdagang dengan membawakan buku sebagai “oleh-oleh” untuknya di rumah. Seiring berjalannya waktu, buku-buku itu jumlahnya semakin banyak, hingga dapat membentuk satu ruangan penuh buku untuk dibaca. 

Tidak semua karya tulis mudah dimaknai oleh anak seusia Aucin pada saat itu, tetapi justru dari situlah ia mengakali cara untuk memahami bacaannya. Aucin membaca sembari membangun adegan-adegan di kepalanya untuk mencerna isi cerita. Imajinasi yang terus terasah itulah yang kelak mengantarkannya pada dunia naskah dan panggung. Ia melihat teater sebagai medium untuk menghidupkan adegan yang semula hanya bersarang di kepala.

“Karena banyak yang sulit saya pahami, maka saya membentuk adegan di kepala. Oh, ini maksudnya begini, itu maksudnya begitu. Nah, itulah yang membawa saya ke kecintaan terhadap dunia teater. Dari adegan-adegan pada buku yang yang saya baca, dari imajinasi-imajinasi yang terbentuk,” terang Aucin, menengok kembali ke masa kecilnya.

Perjalanan Aucin di dunia teater telah berlangsung lebih dari satu dasawarsa. Awalnya berteater secara mandiri, mulai mengikuti kegiatan-kegiatan komunitas teater sejak SMA, yang kemudian membawanya pada kesempatan untuk tampil di berbagai daerah dan meraih prestasi membanggakan. 

Aucin juga beberapa kali telah mewakili Sumatra sebagai aktor dalam berbagai acara prestisius, seperti Parade Monolog Nasional Pelaku Teater Indonesia #2 (Pamonaspati 2), Festival Teater Sumatra III di Palembang, dan meraih juara 2 nasional sebagai aktor dan penulis skrip dialog untuk perlombaan yang mewakili Kementerian Hukum dan HAM Sumatra Utara.

Namun, di balik rentetan penampilan dan pencapaian itu, Aucin tidak menempatkan teater sebagai jalan yang mudah. Ia justru menyebut teater sebagai “jalan sunyi”. Di Medan, katanya, teater tidak selalu mendapat antusiasme dan dukungan tinggi seperti hiburan lainnya.

“Siapa, sih, yang menggebu-gebukan teater seperti menggebu-gebukan konser musik?” erangnya, memberi gambaran tentang minat publik yang cenderung memilih konser atau tontonan yang dianggap lebih populer.

Disampaikan Aucin, teater di Medan kerap berjalan dengan fasilitas seadanya dan penonton yang tidak selalu ramai, bahkan ketika harga tiket teater relatif lebih murah sekalipun. Hal ini karena pertarungannya bukan soal rupiah yang dikeluarkan, tetapi soal kebiasaan dan kultur masyarakat modern yang lebih akrab dengan konser, bioskop, dan konten media sosial.

Tantangan lain yang Aucin rasakan secara lebih personal berkaitan dengan persoalan finansial. Ia mengakui bahwa teater sangat menghidupkan sisi batinnya, memberikannya rasa, jiwa, dan kepuasan ketika melihat sorot mata yang menonton lakonnya. Namun, teater belum dapat memastikan kebutuhan hidupnya terpenuhi.

“Saya merasa hidup di teater, tetapi teater belum mampu untuk menghidupi saya,” kata Aucin realistis. Sarjanawan Sastra itu mengaku harus membagi fokus kesehariannya dengan mencari penghasilan lewat pekerjaan lain, seperti menyulam dan mengajar, agar ia tetap dapat makan, tubuhnya tetap bertenaga, dan bisa terus berteater. 

Meski begitu, meninggalkan dunia teater sama sekali tidak pernah terlintas di pikirannya. Sejak 2015 hingga kini, Aucin tetap berteater dengan penuh antusias dan semangat yang menyala. Ketika ditanya alasannya, Aucin menjawab sederhana: karena suka.

“Karena suka. Soal kenapanya, tidak bisa dijelaskan. Kalau kata orang, sih, rasa suka tertinggi itu saat dia nggak bisa menjelaskan kenapa,” ujarnya kepada Intipnews.com, Sabtu (23/1/25).

Aucin memandang teater bukan sekadar sebagai panggung hiburan, tetapi medium untuk mengekspresikan kompleksitas hidup manusia. Teater mampu menampilkan realita kehidupan yang rumit, berbagi rasa dan makna dengan penonton, hanya dalam satu pertemuan singkat berdurasi tiga puluh menit. Menurutnya, itu adalah keunikan dari teater.

Pada 14 Februari 2026 mendatang, Aucin akan kembali ke gema panggung lewat pementasan Atma Loka 2026, dengan membawakan naskah monolog “Bias Lampu Kota” karya Ahmad Munawar Lubis. Monolog ini menuturkan gamabran perempuan dalam berbagai fase kehidupan; sebagai istri, pekerja, anak, kekasih, dan ibu yang bergulat dengan ketegangan batin, luka masa lalu, serta penilaian sosial yang kerap timpang. 

Monolog ini merangkai pengalaman personal dan sosial sebagai satu kesatuan, menegaskan bahwa kebahagiaan, martabat, dan cinta tidak dapat diukur dari uang, kuasa, atau validasi luar, melainkan dari kesadaran, pilihan, dan keberanian perempuan untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Pementasan ini menjadi kelanjutan dari perjalanan sunyi yang akan terus ia geluti.Itp.ril