Indonesia Perkuat Kerja Sama Ekonomi dengan 9 Negara Sahabat

9
Indonesia Perkuat Kerja Sama Ekonomi dengan 9 Negara Sahabat

Oleh : Shenna Aprilya Zahra 

Indonesia terus memperkuat kerja sama ekonomi dengan 9 (sembilan) negara sahabat. Tentunya kesempatan penguatan kerja sama itu akan menjadi momentum yang sangat penting untuk semakin memperkuat hubungan bilateral bangsa ini dengan negara lain, khususnya di bidang ekonomi.

Beberapa waktu yang lalu, Diketahui bahwa Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi) menerima surat kepercayaan dari sebanyak sembilan duta besar (Dubes) luar biasa dan berkuasa penuh (LBPP) dari negara-negara sahabat di Istana Merdeka.

Terkait hal tersebut, Menteri Luar Negeri (Menlu RI), Retno Marsudi menegaskan bahwa kerja sama di bidang ekonomi tentunya menjadi fokus utama dalam hubungan antara Indonesia dengan sembilan negara sahabat itu, yakni diantaranya Belarus, Bosnia dan Herzegovina, Mauritania, Jepang, Mesir, Bangladesh, Algeria, Uruguay dan Portugal.

Tidak bisa dipungkiri bahwa ternyata hubungan ekonomi Tanah Air memang selalu menonjol dalam hubungannya dengan kesembilan negara tersebut selama ini. Indonesia sendiri memang telah memiliki hubungan perdagangan yang kuat dengan Jepang dan Mesir. Bahkan sejak bulan November 2023 lalu saja, nilai perdagangan antara Indonesia dengan Jepang mencapai hingga lebih dari 34 miliar Rupiah dan mencatatkan surplus sebanyak 3,8 miliar Rupiah. Selain itu, Negeri Sakura itu juga merupakan salah satu sumber investasi besar bagi bangsa ini.

Sementara untuk Mesir sendiri, merupakan mitra dagang terbesar ketiga bagi Indonesia di Timur Tengah setelah Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab (UEA). Hingga bulan November 2023, nilai perdagangan antara Indonesia dengan Mesir mencapai hampir 1,5 miliar Rupiah dengan surplus lebih dari 1 miliar Rupiah. Diketahui bahwa Mesir sendiri juga menjadi tujuan menarik bagi investor Tanah Air seperti Indofood dan Kedaung Grup.

Menlu Retno Marsudi menambahkan bahwa di bidang perdagangan ini, memang Indonesia terus berupaya untuk mampu semakin memperkuat perjanjian perdagangan dengan negara-negara sahabat. Seperti dengan Jepang, diberlakukan protokol perubahan untuk Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IEPA) yang kini sudah selesai dan tinggal ditandatangani saja. Kemudian untuk Bangladesh dan Belarus, Tanah Air sedang melakukan negosiasi untuk Preferential Trade Agreement (PTA) dan Free Trade Agreement (FTA).

Selain itu, Indonesia juga mengalami peningkatan ekspor kelapa sawit secara signifikan ke Portugal. Dilaporkan bahwa dari tahun 2019 hingga 2022, ekspor kelapa sawit ke Portugal bahkan mampu mengalami kenaikan hingga 77 persen. Hal tersebut jelas menunjukkan bagaimana potensi sangat besar untuk semakin meningkatkan kerja sama perdagangan di sektor itu dengan Portugal dan Mauritania.

Adanya penguatan kerja sama ekonomi dengan sembilan negara sahabat itu juga semakin membuka peluang secara besar bagi Indonesia untuk meningkatkan perdagangan, investasi dan kerja sama di berbagai bidang lainnya. Dengan adanya diplomasi secara aktif serta strategi yang tepat, tentunya bangsa ini dapat memanfaatkan peluang tersebut untuk mencapai kemajuan ekonomi secara berkelanjutan.

Di sisi lain, penguatan kerja sama ekonomi antara Indonesia dengan negara sahabat lainnya, yakni Jerman juga telah terjadi beberapa waktu lalu. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan pihak Kementerian Lingkungan Hidup, Konservasi Alam, Keselamatan Nuklir, dan Perlindungan Konsumen Republik Federal Jerman menandatangani Solusi Pengelolaan Lanskap Darat dan Laut Terintegrasi di Indonesia (SOLUSI).

Program tersebut merupakan sebuah program strategis yang bertujuan untuk semakin mengurangi degradasi darat dan laut di Indonesia, yang mana Jawa Tengah (Jateng), Kepulauan Bangka Belitung dan Sulawesi Tengah (Sulteng) sebagai daerah percontohannya.

Sebagai salah satu strategi akan pengimplementasian ekonomi hijau, program SOLUSI itu sendiri akan berkontribusi untuk menjaga keberlanjutan lingkungan di Tanah Air dengan peningkatan ketahanan ekosistem dan penciptaan mata pencaharian yang berketahanan iklim.

Ada pula kerja sama yang dilakukan oleh Indonesia dengan Republik Rakyat Tiongkok, yang mana keduanya telah menyepakati kerja sama dalam bidang ekonomi digital. Pada 8 September 2023 lalu, Presiden Jokowi melaksanakan pertemuan bilateralnya dengan Perdana Menteri (PM) RRT, H.E. Li Qiang di Istana Merdeka.

Dalam pertemuan tersebut dibahas tentang bagaimana perkembangan kerja sama antara bangsa ini dengan Republik Rakyat Tiongkok sebagai bentuk tindak lanjut akan pertemuan terakhir Presiden Joko Widodo dengan Presiden Xi Jinping pada bulan Juli 2023 lalu di Chengdu. Kerja sama itu mencakup perkembangan kerja sama investasi, perdagangan, pembangunan infrastruktur, kesehatan dan kemitraan kawasan maupun global.

Pada bidang investasi, dibahas pula rencana Contemporary Amperex Technology Co Limited (CATL) untuk pengembangan produksi baterai EV terintegrasi, pembangunan industri petrokimia dengan perusahaan Tongkum dan Xingfengmin, dan juga pembangunan pabrik kaca Xinyi.

Penguatan kerja sama dalam bidang ekonomi memang terus dilakukan oleh Pemerintah RI dengan seluruh negara sahabat, yang mana dengan adanya penguatan itu akan semakin membuka lebar peluang dari bangsa ini untuk meningkatkan perdagangan, investasi hingga pada sektor lainnya untuk mencapai kemajuan ekonomi yang berkelanjutan.

Penulis adalah  kontributor Ruang Baca Nusantara