Mengapresiasi Keberanian dan Dedikasi Aparat Keamanan dalam Menangani Gerakan KST di Papua

10

Oleh Loa Murib

Papua, sebuah wilayah yang kaya akan keindahan alamnya, seringkali menjadi sorotan atas konflik-konflik yang terjadi di dalamnya. Salah satu konflik yang intens menimbulkan kekhawatiran adalah gerakan Kelompok Separatis dan Teroris (KST) di Papua. Namun, di balik gelapnya bayang-bayang tersebut, terdapat cahaya keberanian dan dedikasi yang patut kita apresiasi dari aparat keamanan yang bertugas di wilayah tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, gerakan KST di Papua telah menjadi perhatian utama bagi pemerintah dan masyarakat luas. Tindakan mereka yang seringkali dilakukan dengan kekerasan, termasuk penyerangan terhadap aparat keamanan dan warga sipil, telah menimbulkan rasa ketakutan dan kekhawatiran di kalangan masyarakat Papua. Namun, di tengah tekanan dan tantangan yang dihadapi, aparat keamanan terus menunjukkan keberanian dan ketegasan dalam menangani gerakan KST ini.

Salah satu contoh nyata dari keberanian aparat keamanan adalah upaya mereka dalam menggagalkan berbagai aksi kekerasan yang dilakukan oleh KST. Dengan risiko nyawa yang selalu mengintai, para prajurit TNI dan anggota kepolisian terus berjuang untuk menjaga kedamaian dan keamanan bagi masyarakat Papua. Melalui operasi-operasi militer dan operasi keamanan lainnya, aparat keamanan berhasil mengungkap dan menghentikan berbagai rencana teror yang dirancang oleh KST.

Tidak hanya itu, aparat keamanan juga aktif dalam menjalin komunikasi dan kerjasama dengan masyarakat lokal. Mereka melakukan pendekatan persuasif dan membangun kepercayaan dengan masyarakat, sehingga dapat memperoleh informasi penting yang membantu dalam mengidentifikasi dan menangani anggota KST. Kolaborasi antara aparat keamanan dan masyarakat menjadi kunci dalam memerangi gerakan KST, dan upaya ini patut kita apresiasi.

Pada hari Senin, 26 Februari 2024, berita mengenai upaya aparat keamanan dalam menggagalkan aksi teror separatis di Papua kembali mencuat. Melalui berbagai laporan resmi yang diterima, kita bisa melihat bagaimana aparat keamanan, khususnya Tim Patroli Pos Ayata Satgas Yonif 133/Yudha Sakti (YS), berhasil mencegah aksi teror dari Kelompok Separatis Teroris Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (KST TPNPB) di wilayah Kabupaten Maybrat, Papua Barat.

Tidak hanya sekali, namun selama tiga hari berturut-turut, upaya teror oleh KST TPNPB terhadap proyek pembangunan Puskesmas di Kampung Ayata, Distrik Aifat Timur Tengah, Kabupaten Maybrat, terus berlangsung. Puncaknya, pada Kamis, 22 Februari 2024, terjadi kontak tembak antara Tim Patroli Pos Ayata Satgas Yonif 133/YS dengan KST TPNPB di sekitar lokasi proyek pembangunan Puskesmas.

Berbicara mengenai keberhasilan ini, Letkol Inf Andhika Ganessakti, Dansatgas Yonif 133/YS, menjelaskan bahwa berkat patroli yang dilakukan, tiga orang anggota KST TPNPB berhasil dihalau dan melarikan diri ke dalam hutan. Kronologi kejadian dimulai ketika dua pekerja proyek, Ansar (43) dan Faan Umpain (35), melaporkan adanya individu yang mencurigakan di sekitar lokasi proyek. Tindak lanjut dari laporan ini adalah patroli yang dilakukan oleh Tim Patroli Parimeter Pos Ayata Satgas Yonif 133/YS.

Hasilnya, tim berhasil mendeteksi tiga orang KST TPNPB yang membawa senjata laras panjang dan parang, yang sedang memantau aktivitas pekerja proyek. Aksi teror ini dengan cepat digagalkan oleh tim patroli, mencegah kemungkinan kerugian yang lebih besar.

Apresiasi juga harus diberikan kepada para prajurit dan anggota kepolisian yang secara tanpa pamrih menjaga keamanan dan keselamatan masyarakat Papua. Mereka meninggalkan keluarga dan orang-orang terkasih, menghadapi bahaya dan risiko setiap hari, semata-mata untuk melindungi rakyat dan wilayah ini dari ancaman KST. Dedikasi mereka yang tiada henti patut menjadi contoh bagi kita semua, bahwa dengan kesatuan dan keberanian, kita dapat mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi.

Di lain sisi upaya pemberantasan KST Papua harus didukung semua pihak. Sekretaris Eksekutif Keadilan dan Perdamaian Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) RD. Marthin Jenaru mengatakan bahwa Gereja Katolik siap memfasilitasi upaya penanganan KST salah satunya pembebasan pilot Susi Air Philip Mark Mehrtens. Menurutnya penyanderaan terhadap Philip telah menjadi keprihatinan bersama. Ia menilai penyanderaan tersebut merupakan salah satu bentuk pembatasan hak hidup setiap manusia.

Di tengah tantangan yang kompleks, tindakan tegas terhadap KST Papua adalah langkah yang perlu dan mendesak. Hal ini bukan hanya tentang menegakkan hukum, tetapi juga tentang memberikan harapan bagi masyarakat Papua untuk hidup dalam perdamaian dan kesejahteraan.

Sebagai masyarakat yang damai dan sejahtera, kita semua memiliki tanggung jawab untuk mendukung upaya aparat keamanan dalam menjaga kedaulatan dan keamanan negara, termasuk dalam menangani gerakan KST di Papua. Mari kita bersatu dan berdiri di belakang para pahlawan tanpa tanda jasa ini, memberikan mereka dukungan dan apresiasi yang pantas, serta mendoakan keselamatan mereka dalam setiap langkah yang mereka ambil. Dengan demikian, kita dapat bersama-sama membangun Papua yang aman, damai, dan sejahtera untuk generasi yang akan datang.

Penulis Adalah Mahasiswa Papua di Surabaya