Mengapresiasi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Tengah Perlambatan Ekonomi Global

14

Oleh: Destina Shesilia 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah perlambatan ekonomi global. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2023 tumbuh sebesar 5,04% (yoy), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 4,94% (yoy). Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan tahun 2023 tercatat tumbuh kuat sebesar 5,05% (yoy). 

Dengan capaian tersebut, Indonesia mampu menjadi salah satu negara yang tumbuh kuat dan persisten berada di level yang tinggi dibandingkan dengan sejumlah negara lain. Pertumbuhan ekonomi nasional ini mampu melampaui beberapa negara peers seperti Malaysia dan Korea Selatan, serta lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi negara G-20 seperti Amerika Serikat (AS), Perancis, maupun Jerman.

Bank Indonesia (BI) menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah perlambatan ekonomi global. Ke depannya, Bank Indonesia (BI) menyatakan akan terus mendukung upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. 

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Erwin Haryono mengatakan pertumbuhan ekonomi didukung oleh permintaan domestik, ditandai dengan berlanjutnya pertumbuhan konsumsi. Penyelenggaran Pemilu dan meningkatnya investasi khususnya bangunan, ikut menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. BI akan terus memperkuat sinergi stimulus fiskal Pemerintah dengan stimulus makroprudensial BI. Sinergi ini untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya dari sisi permintaan domestik.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian), Airlangga Hartarto mengatakan angka pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari konsensus perkiraan awal, dimana semula pihaknya memperkirakan pertumbuhan ekonomi di tahun 2023 hanya 5,03 persen. Nyatanya, pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih baik dibandingkan pertumbuhan ekonomi negara lain. 

Airlangga juga mengatakan, pertumbuhan ekonomi yang meningkat pada triwulan IV 2023 didukung oleh hampir seluruh komponen pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 4,47% (yoy) seiring dengan kenaikan mobilitas terutama pada Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru, daya beli masyarakat yang stabil, serta keyakinan konsumen yang meningkat. Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) tumbuh tinggi sebesar 18,11% (yoy) didorong peningkatan aktivitas persiapan pemilu. 

Konsumsi Pemerintah meningkat dengan tumbuh sebesar 2,81% (yoy) didorong oleh belanja barang dan belanja pegawai. Investasi tumbuh sebesar 5,02% (yoy) terutama ditopang oleh investasi bangunan seiring berlanjutnya pembangunan infrastruktur dan meningkatnya aktivitas penanaman modal. 

Sementara itu, ekspor tumbuh sebesar 1,64% (yoy) ditopang oleh permintaan mitra dagang utama yang tetap tumbuh positif di tengah penurunan harga komoditas ekspor unggulan, serta membaiknya ekspor jasa seiring dengan peningkatan jumlah wisatawan mancanegara. 

Pertumbuhan ekonomi yang meningkat juga tecermin dari sisi Lapangan Usaha (LU) dan spasial. Seluruh LU pada triwulan IV 2023 menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan yang tinggi tercatat pada sektor terkait mobilitas terutama Transportasi dan Pergudangan, Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum, serta Perdagangan Besar dan Eceran. 

LU Industri Pengolahan sebagai kontributor utama pertumbuhan juga tumbuh baik seiring kuatnya permintaan domestik dan global. Sementara itu, secara spasial, pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2023 di sebagian besar wilayah Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya. 

Airlangga juga menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2023 yang menunjukkan kinerja impresif juga ditopang oleh komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga yang tumbuh sebesar 4,82% dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang mencapai 4,40%. Lebih lanjut, dari sisi lapangan usaha, sektor yang mengalami pertumbuhan signifikan yakni transportasi dan pergudangan sebesar 13,96%. 

Terjaganya pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), serta meningkatnya pertumbuhan sektor konstruksi tersebut merupakan implikasi dari upaya yang telah dijalankan pemerintah dalam menstimulasi perekonomian nasional.

Kedepan, prospek perekonomian nasional juga dinilai masih akan memiliki capaian optimal dengan ditunjukkan oleh angka PMI Manufacturing Indonesia yang terus berada di level ekspansif pada Januari 2024 sebesar 52,9. Hal tersebut memberikan optimisme bahwa geliat ekonomi nasional semakin membaik dan menjadi modal bagi pencapaian target ekonomi mendatang seiring dengan proyeksi perbaikan ekonomi global. Oleh karena itu, kebijakan berkelanjutan yang diambil menjadi kunci pertumbuhan perekonomian ke depan, pungkas Menko Airlangga Hartarto.

Guna memastikan stabilitas dan ketahanan ekonomi ke depan, sejumlah kebijakan prioritas telah disiapkan pemerintah, seperti revitalisasi mesin konvensional melalui peningkatan produktivitas dan daya saing dengan Program Kartu Prakerja, pelatihan vokasi, dan implementasi UU Cipta Kerja, pembangunan infrastruktur dengan melanjutkan Proyek Strategis Nasional (PSN), pembangunan Moda Raya Terpadu (MRT) dan kereta cepat, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Ibu Kota Nusantara (IKN), serta Reforma Agraria, perluasan kerja sama internasional, dan penguatan ketahanan pangan. 

Selain itu, pemerintah juga akan mendorong mesin perekonomian baru melalui digitalisasi, transisi energi berkelanjutan, industrialisasi dengan hilirisasi yang dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi. Selanjutnya, penguatan ketahanan sosial dan pemberdayaan ekonomi masyarakat juga akan dilakukan pemerintah melalui berbagai perlindungan sosial termasuk menjaga daya beli masyarakat rentan, pembiayaan mikro, dan padat karya tunai.

 Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Ekonomi FKIP UNS Kabinet Selaras