Mengutuk Siasat Keji OPM Jadikan Ibu dan Anak Tameng Hidup

6
Oplus_131072

Oleh : Salmon Kadepa 

Masyarakat mengutuk aksi keji Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang sangat tega menjadikan ibu dan anak sebagai tameng hidup dalam kasus penembakan pesawat di Bandar Udara (Bandara) Sinak. Strategi licik OPM tersebut semakin menunjukkan kekejaman kelompok tersebut yang tidak berpihak pada Orang Asli Papua (OAP).

OPM masih terus berulah dan mengganggu keamanan di wilayah yang dikenal dengan Bumi Cenderawasih tersebut. Tidak tanggung-tanggung, beragam kekejian mereka itu juga dengan adanya siasat biadab yakni menjadikan ibu dan anak sebagai tameng hidup dalam menjalankan aksinya yakni penembakan pesawat di Bandara Sinak.

Sebenarnya, kasus-kasus seperti ini tidak hanya sekali ini terjadi di Papua, yang mana juga pelakunya yakni OPM. Mereka telah melakukan beberapa kali penembakan pada pesawat dan juga menjadikan warga sipil, termasuk ibu dan anak sebagai tameng hidup.

Siasat sangat keji tersebut, yakni menjadikan ibu dan anak sebagai tameng hidup terkait dengan aksi penembakan terhadap pesawat Smart Air PK-SNH di Bandara Sinak, Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Aparat keamanan mengalami sedikit hambatan untuk menindak tegas mereka.

Saat aparat keamanan sedang berusaha untuk mengejar para pelaku penembakan, yang merupakan anggota gerombolan separatis Papua itu, mereka langsung menjalankan siasat liciknya yakni menjadikan ibu dan anak-anak sebagai tameng.

Kepala Satuan Tugas Hubungan Masyarakat (Kasatgas Humas) Operasi Damai Cartenz 2024, Komisaris Besar Polisi Bayu Suseno menyampaikan bahwa pelaku penyerangan itu terdeteksi berjumlah 3 orang dan mereka memakai senjata api (senpi) laras panjang. Penembakan terjadi pada sekitar pukul 11:40 WIT dan mengenai baling-baling pesawat yang hendak mendarat tersebut.

Aparat keamanan memastikan bahwa tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Kondisi Pesawat Smart Air yang mengangkut 5 orang penumpang juga berhasil mendarat dengan selamat di Bandara Sinak.

Pesawat berhasil mendarat berkat kesigapan pilot pesawat yang langsung memutuskan untuk tetap mendarat di Bandara Sinak serta menunggu situasi aman untuk kembali ke Nabire.

Akibat adanya penyerangan OPM tersebut, mengakibatkan pesawat dari maskapai NGA tertunda keberangkatannya. Organisasi Papua Merdeka juga menyerang Pos Gudang Logistik Batalyon Infanteri (Yonif) 751. Adanya serangan itu aparat keamanan membalas sehingga terjadi kontak tembak.

Usai melakukan tembakan balasan, aparat keamanan dari personel gabungan langsung merespons dengan melakukan pengejaran kepada kelompok tersebut. Sampai saat ini, aparat masih terus berupaya untuk memburu pelaku penembakan dengan menggencarkan patroli dan operasi keamanan yang terus berjalan dengan ketat guna mencegah terjadi aksi OPM susulan.

Aparat keamanan juga mengimbau kepada seluruh masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan mereka dan melaporkan kepada petugas seandainya mereka melihat adanya aktivitas yang mencurigakan.

Sementara itu, Kepala Penerangan Komando Daerah Militer (Kapendam) XVII/Cenderawasih, Letnan Kolonel Infanteri (Letkol Inf) Candra Kurniawan mengaku bahwa aparat keamanan terus berhati-hati saat melakukan aksi balasan terhadap penyerangan OPM tersebut karena para pelaku berlindung di balik ibu dan anak-anak yang mereka jadikan tameng hidup.

Menjadikan mama-mama dan anak-anak sebagai tameng hidup memang menjadi modus OPM dalam melancarkan aksinya. Meski begitu, tidak adanya korban jiwa dalam peristiwa ini berkat bagaimana aksi gerak cepat tanggap dari aparat keamanan untuk langsung meluncur mengamankan Bandara Sinak.

Pengejaran sempat berlangsung, namun personel aparat keamanan tidak bisa serta merta melakukan penindakan tegas karena khawatir bahwa nantinya akan berdampak kepada ibu dan anak-anak yang OPM bawa sebagai tameng hidup mereka.

Lantaran terus menerus melakukan aksi yang sangat kejam, biadab dan keji tersebut, Pemuda Panca Marga (PPM) sebagai wadah berhimpun putra dan putri penerus pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang tergabung ke dalam Keluarga Besar Tentara Nasional Indonesia (KBT) mengutuk keras tindakan brutal OPM yang terus mengakibatkan masyarakat di Papua menjadi korbannya.

Korban terus berjatuhan akibat ulah gerombolan teroris musuh negara itu, mulai dari aparat keamanan bahkan hingga masyarakat sipil yang tidak berdosa sekalipun. Oleh karenanya, Ketua Umum (Ketum) PPM, Berto Izaak Doko menilai bahwa seluruh gangguan yang OPM lakukan sudah mengganggu akal sehatnya.

Selama ini, aparat keamanan gabungan TNI maupun Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) berupaya menciptakan keamanan dan kedamaian bagi percepatan pembangunan di Tanah Papua, namun selalu terganggu oleh keberadaan dan keonaran yang OPM lakukan.

Terlebih, dari bagaimana kasus yang belakangan terjadi, berbagai pihak mengutuk keras tindak siasat keji OPM yang dengan tega membuat ibu-ibu dan anak-anak sebagai tameng hidup dalam aksi  pesawat di Bandara Sinak.

Penulis adalah Mahasiswa Papua tinggal di Bandung