Mewaspadai Hoaks dan Fitnah KST, Negara Komitmen Sejahterakan Masyarakat Papua

6

Oleh : Loa Murib

Tanah Papua, khususnya Kabupaten Intan Jaya, kembali diwarnai dengan isu yang menggemparkan, yakni adanya hoaks terkait pembangunan Patung Tuhan Yesus. Dalam beberapa waktu terakhir, propaganda Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua menyebar luas dengan klaim bahwa dalam patung tersebut terdapat bom.

Hoaks terkait adanya bom dalam pembangunan Patung Yesus di Intan Jaya menjadi pemicu ketegangan dan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Propaganda KST yang menciptakan isu ini bertujuan untuk menimbulkan ketakutan dan kepanikan, serta menciptakan konflik di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, perlu adanya pemahaman bersama bahwa isu ini adalah upaya KST untuk mengganggu stabilitas daerah dan memecah belah persatuan masyarakat.

Panglima Komando Daerah Militer XVII/Cenderawasih, Mayjen Izak Pangemanan, menyampaikan fakta terkait isu-isu ini untuk menghindari terprovokasinya masyarakat dan memastikan keberlanjutan perdamaian di wilayah tersebut.

Isu pertama yang disoroti oleh Mayjen Izak Pangemanan adalah pembangunan patung Yesus di Bilogai. Menurutnya, isu yang berkembang di masyarakat Intan Jaya adalah adanya informasi bahwa dalam patung Yesus tersebut terdapat bom yang sangat besar. Kabar ini menyebar, menyebabkan kekhawatiran di kalangan masyarakat, dan pada akhirnya menjadi pemicu baku tembak antara kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) dan aparat keamanan.

Panglima Komando Daerah Militer XVII/Cenderawasih, Mayjen Izak Pangemanan juga telah memberikan klarifikasi terkait pembangunan Patung Yesus di Intan Jaya. Ia menyebutkan bahwa isu yang berkembang di masyarakat terkait adanya bom dalam patung tersebut adalah sepenuhnya keliru. Pembangunan patung tersebut merupakan bagian dari program perdamaian yang dilakukan oleh TNI di Papua.

Mayjen Izak menjelaskan bahwa patung Yesus tersebut merupakan bagian dari program pembangunan salib di Gereja Antiokhia Intan Jaya. Proyek ini dilaksanakan oleh Satuan Tugas Batalyon Infanteri Para Raider 328/Dirgahayu dari Depok, Jawa Barat, yang kemudian digantikan oleh Batalyon Infanteri Para Raider 305/Tengkorak dari Kerawang, Jawa Barat, dan selanjutnya oleh Batalyon Infanteri Para Raider 330/Tri Dharma dari Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Misi dari pembangunan patung Yesus ini, seperti yang diungkapkan oleh Mayjen Izak, adalah untuk menciptakan perdamaian di Tanah Papua. Prajurit TNI yang terlibat dalam proyek ini berusaha menjauhkan kekerasan dan pertumpahan darah dari tanah tersebut. Namun, isu negatif yang menyebar bahwa patung Yesus berisi bom mengancam keberlanjutan proyek dan memicu ketegangan di masyarakat.

Menanggapi isu kedua terkait penambangan Blok Wabu, Mayjen Izak Pangemanan menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada sosialisasi atau komunikasi resmi terkait rencana tersebut. Pemerintah Kabupaten Intan Jaya, menurutnya, juga sudah mengeluarkan pernyataan resmi mengenai Blok Wabu. Namun, isu yang berkembang di masyarakat adalah adanya keinginan penguasaan besar-besaran terhadap kekayaan alam, khususnya emas yang terdapat di Blok Wabu.

Kepala Dinas Pariwisata Intan Jaya, Bernadus Kobogau, mengatakan penting untuk memahami dinamika yang terjadi, sambil mengajak masyarakat untuk tidak terprovokasi. Pembangunan patung Tuhan Yesus. tersebut merupakan inisiatif dari TNI yang bertujuan untuk memperkuat pendekatan humanis dan perdamaian di tengah ketegangan politik, ideologi, dan geopolitik ekonomi yang telah melanda Papua sepanjang sejarahnya.

Dalam menghadapi isu-isu ini, penting bagi masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi. Pernyataan resmi dari pihak berwenang, seperti Pemerintah Kabupaten Intan Jaya, harus menjadi pegangan utama. Masyarakat Intan Jaya perlu menjadi pelopor dalam menolak hoaks dan propaganda KST. Kritis terhadap informasi yang diterima serta membuka ruang dialog dan diskusi yang sehat dapat menjadi langkah awal untuk memahami fakta sebenarnya. Dalam situasi yang kompleks seperti ini, kesadaran masyarakat akan bahaya penyebaran hoaks sangat krusial untuk menjaga perdamaian dan keamanan.

Selain itu, peran media massa dan jejaring sosial juga sangat penting dalam menyuarakan fakta dan mengedukasi masyarakat tentang risiko hoaks. Media harus berfungsi sebagai penyebar informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, sementara masyarakat dihimbau untuk tidak menyebarkan informasi tanpa verifikasi yang benar.

Pemerintah daerah, TNI/Polri, dan lembaga terkait lainnya juga diharapkan untuk terus memberikan informasi yang jelas dan transparan kepada masyarakat. Langkah-langkah preventif dan keamanan perlu ditingkatkan untuk mengantisipasi penyebaran hoaks yang dapat memicu konflik di wilayah tersebut.

Dalam menghadapi tantangan ini, persatuan dan kerjasama antarwarga sangat diperlukan. Masyarakat diingatkan bahwa keamanan dan kedamaian di Tanah Papua bergantung pada pemahaman yang benar terhadap situasi dan penolakan terhadap propaganda yang dapat merusak keharmonisan masyarakat. Melalui pendekatan ini, diharapkan masyarakat dapat menjaga ketenangan dan mencegah terjadinya konflik yang tidak diinginkan

Penulis Adalah Mahasiswa Papua di Surabaya