Mewaspadai Penyebaran Paham Radikal Menjelang Bulan Suci Ramadhan

6
Moderasi Beragama Redam Penyebaran Paham Intoleran di Masyarakat

Oleh: Haikal Fathan Akbar 

Dalam menghadapi bulan puasa Ramadhan, Indonesia harus meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran paham radikal yang semakin mengkhawatirkan. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Rycko Amelza Dahniel, menyampaikan bahwa meskipun tidak terjadi serangan terorisme di Indonesia sepanjang tahun 2023, namun ada tren peningkatan konsolidasi dan proses radikalisasi yang mesti diwaspadai. Rycko mengidentifikasi tiga indikator utama dari peningkatan tersebut.

Pertama, terjadi penguatan sel-sel terorisme yang ditandai dengan peningkatan jumlah pelaku yang ditangkap serta jumlah senjata dan bahan peledak yang disita. Kedua, terjadi peningkatan dalam pengumpulan dana untuk kegiatan terorisme melalui berbagai cara dan momentum yang dimanfaatkan. Dan yang ketiga, terjadi peningkatan proses radikalisasi terhadap tiga kelompok rentan: perempuan, remaja, dan anak-anak. Radikalisasi ini dilakukan secara sistematis, masif, dan terencana dengan memanfaatkan jubah keagamaan serta manipulasi simbol-simbol dan atribut agama.

Selain itu, Polda Jawa Tengah juga mengingatkan akan peningkatan penyebaran paham radikal melalui konten media sosial, terutama pada masa kampanye pemilu 2024. Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Satake Bayu Setianto, menyoroti bahwa baik jaringan teroris maupun kelompok radikal terus berupaya menggoyang stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) dengan memanfaatkan momentum dan isu-isu yang muncul.

Dalam menghadapi situasi ini, masyarakat perlu bersikap bijak dan cerdas dalam bermedia sosial. Kelompok-kelompok berpaham radikal memanfaatkan berbagai platform media, terutama media sosial, sebagai ancaman nyata bagi stabilitas kamtibmas. Mereka memiliki agenda untuk menciptakan instabilitas dan krisis ketidakpercayaan terhadap proses demokrasi yang sedang berlangsung di Indonesia, yang mana hal tersebut bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

Menurut Kombes Pol Satake Bayu Setianto, kalangan muda menjadi target utama kaderisasi kelompok radikal dan jaringan teroris. Oleh karena itu, orang tua, guru, dan masyarakat secara keseluruhan perlu menjaga kalangan muda dari penyebaran paham radikalisme ini. Kaum muda harus mawas diri, pandai memilih pertemanan, dan mampu menyaring informasi yang beredar di media sosial agar tidak terpengaruh oleh konten hoaks bernada radikalisme.

Masyarakat harus mampu untuk bersikap bijak dan cerdas dalam menggunakan media sosial. Ia menegaskan bahwa kelompok berpaham radikal memanfaatkan berbagai platform media, terutama media sosial, sebagai ancaman nyata bagi stabilitas keamanan. Jaringan teroris dan kelompok radikal memiliki agenda untuk menciptakan instabilitas dan krisis ketidakpercayaan terhadap proses demokrasi yang sedang berlangsung di Indonesia.

Tidak hanya di Jawa Tengah, tetapi Polri juga melakukan imbauan kepada masyarakat di Kalimantan Tengah untuk waspada terhadap radikalisme. Kabid Humas Polda Kalimantan Tengah, Kombes Pol Erlan Munaji, menegaskan bahwa radikalisme dan terorisme masih merupakan bahaya tersembunyi di tengah masyarakat. Kombes Pol Erlan menyampaikan bahwa peran kolaborasi dari berbagai elemen masyarakat sangatlah diperlukan dalam menjauhkan generasi muda dari pemahaman sesat ini.

Setiap individu memiliki potensi untuk terpapar radikalisme, terutama melalui faktor-faktor seperti politisasi agama, pemahaman agama yang menyimpang, dan faktor ekonomi. Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk meningkatkan proteksi diri dengan memahami agama secara benar dan menjunjung semangat Pancasila, kebhinekaan, serta persatuan dalam keberagaman.

Dalam keseluruhan situasi yang diuraikan tersebut, terlihat bahwa penyebaran paham radikal menjadi ancaman serius, dan bulan puasa Ramadhan dapat menjadi momen yang rentan. Penguatan keamanan dan upaya pencegahan radikalisasi, khususnya terhadap kelompok rentan seperti perempuan, remaja, dan anak-anak, perlu menjadi fokus utama selama periode ini. Melalui kolaborasi antarinstansi dan peran aktif masyarakat, diharapkan Indonesia dapat menghadapi tantangan ini dengan efektif dan menjaga stabilitas kamtibmas.

Dalam menghadapi penyebaran paham radikalisme, langkah-langkah konkret seperti meningkatkan pemahaman agama yang benar, menjunjung tinggi semangat Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, serta mempelajari cara menyaring informasi yang beredar di media sosial, menjadi sangat penting. Masyarakat juga harus meningkatkan proteksi diri mereka sendiri agar tidak terpapar oleh paham radikalisme yang dapat mengancam keamanan dan ketertiban masyarakat.

Dengan demikian, di tengah masa bulan puasa Ramadhan ini, penting bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk bersatu dalam menghadapi ancaman radikalisme dan terorisme. Melalui kesadaran dan kerja sama bersama, kita dapat menciptakan lingkungan yang aman dan damai, yang memungkinkan kita untuk menjalankan ibadah dengan khusyuk dan tenteram.

Partisipasi aktif masyarakat dalam mencegah penyebaran paham radikal, khususnya menjelang dan saat bulan Ramadhan, juga sangat penting. Masyarakat memiliki peran yang tak ternilai dalam memerangi radikalisme dan terorisme dengan melaporkan kegiatan atau tindakan yang mencurigakan kepada pihak berwenang.

Masyarakat perlu meningkatkan kesadaran akan pentingnya melaporkan aktivitas yang mencurigakan, seperti pertemuan-pertemuan yang tidak lazim atau aktivitas online yang meragukan. Selain itu, mereka juga harus membangun sikap kritis terhadap informasi yang mereka terima di media sosial, dan tidak terpengaruh oleh narasi-narasi yang bersifat radikal.

Dengan melibatkan masyarakat secara aktif dalam upaya pencegahan penyebaran paham radikal, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan damai, terutama saat memasuki bulan Ramadhan yang diharapkan sebagai masa yang penuh dengan kedamaian dan keberkahan.

Kontributor Vimedia Pratama Institute