OJK: Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga di Tengah Ketidakpastian Global

Jakarta-Intipnews.com:Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) nasional tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian global dan domestik. Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan OJK yang digelar pada 1 April 2026.

OJK mengungkapkan, perekonomian global saat ini dihadapkan pada ketidakpastian yang meningkat seiring eskalasi tensi geopolitik, khususnya di kawasan Teluk. Konflik yang terjadi telah mengganggu operasional infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah, bahkan memicu penutupan Selat Hormuz sebagai jalur utama distribusi energi dunia.

Hal ini disampaikan Kepala Departemen Surveillance dan Kebijakan Sektor Jasa Keuangan Terintegrasi Agus Firmansyah kepada media melalui Pers rilisnya, Senin (6/4).

Kondisi tersebut berdampak pada lonjakan harga energi dan meningkatnya volatilitas pasar keuangan global. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dalam laporan Interim Economic Outlook Maret 2026 sebelumnya memproyeksikan ekonomi global berada pada jalur penguatan. Namun, proyeksi tersebut kini mengalami koreksi akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Tingginya ketidakpastian global serta tekanan harga energi turut mempersempit ruang kebijakan moneter bank sentral global dan kembali memunculkan ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama (high for longer).

Di Amerika Serikat, perekonomian menunjukkan kecenderungan tertekan di tengah inflasi yang masih persisten dan peningkatan tingkat pengangguran. Pada pertemuan Maret 2026, Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga kebijakan dengan sinyal hanya satu kali pemangkasan sepanjang tahun 2026. Namun, pasca eskalasi konflik Iran, ekspektasi pasar bergeser ke skenario tanpa pemangkasan suku bunga pada tahun ini.

Sementara itu, perekonomian Tiongkok mencatatkan kinerja di atas ekspektasi, didorong oleh perbaikan sisi permintaan dan penawaran serta dukungan stimulus sektor keuangan. Meski demikian, pemerintah Tiongkok tetap menurunkan target pertumbuhan sebagai respons terhadap tantangan struktural dan ketidakpastian eksternal.

Dari sisi domestik, OJK mencatat kondisi ekonomi Indonesia tetap solid. Inflasi inti pada Maret 2026 mengalami penurunan, sementara aktivitas konsumsi masyarakat tetap kuat di awal tahun. Hal ini tercermin dari pertumbuhan penjualan ritel yang diperkirakan mencapai 6,89 persen secara tahunan (year-on-year) serta kinerja penjualan kendaraan bermotor yang tetap positif.

Dari sisi penawaran, kinerja ekonomi juga masih menunjukkan tren positif meskipun mengalami moderasi, tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur yang masih berada pada zona ekspansi. Selain itu, ketahanan eksternal Indonesia tetap terjaga, didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai pada Februari 2026 serta neraca perdagangan yang mencatatkan surplus.

Dengan berbagai indikator tersebut, OJK menegaskan bahwa stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terpelihara, meskipun dihadapkan pada tekanan dan ketidakpastian global yang meningkat.Itp.05