Pakar Apresiasi Program Wolbachia di Indonesia, Efektif dan Aman untuk Tangani DBD

27

Oleh : Gita Oktaviani 

Sejumlah pakar memberikan apresiasi atas pelaksanaan program Wolbachia yang digencarkan oleh Pemerintah di beberapa wilayah di Indonesia termasuk yang akan dilakukan di Bali. Menurut mereka, dengan adanya program tersebut terbukti sangat efektif dan juga aman untuk menangani penyebaran demam berdarah (DBD).

Memang nyamuk Wolbachia sendiri telah teruji dan bisa menjadi salah satu solusi untuk pengendalian penyebaran nyamuk Aedes Aegypti pembawa demam berdarah. Program penyebaran Wolcabhia sendiri oleh Pemerintah Republik Indonesia (RI) sebenarnya telah dilakukan implementasi ke sebanyak empat kota yang menjadi pilot project. Keempat kota yang telah menjadi pilot project akan penyebaran nyamuk Wolcabhia itu diantaranya Jakarta Barat, Bandung, Kupang dan Bontang. Terkait adanya upaya dari pemerintah untuk mengendalikan penyebaran demam berdarah. 

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) yang juga salah seorang Tim Ahli Kajian Risiko Wolbachia Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) sejak tahun 2016, Prof. Dr. dr. Aryati mengatakan bahwa Wolbachia merupakan bakteri alami yang terdapat pada serangga seperti kupu, kupu, lalat hingga lebah. Wolbachia merupakan salah satu teknologi biologis untuk pengendalian nyamuk demam berdarah, di Indonesia paling terkenal terdapat pada lalat buah drosphila melanogaster, maka tentunya sangat aman. 

Aryati juga menambahkan bahwa nyamuk Wolbachia mampu menghasilkan siklus yang berbeda saat dikawinkan dan bisa membuat nyamuk menjadi mandul. Nyamuk Wolbachia jantan yang dikawinkan dengan nyamuk Aedes Aegypti non-Wolbachia betina, maka mereka tidak akan menghasilkan telur yang bisa menetas, dengan kata lain, nyamuk tersebut menjadi mandul dan sama sekali tidak bisa menghasilkan keturunan.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan, nyamuk Wolbachia terbukti mampu untuk menurunkan kasus demam berdarah (DBD) hingga sebesar 77,1 persen. Bukan hanya itu, namun perawatan di Rumah Sakit akibat seseorang terjangkit demam berdarah juga mengalami penurunan bahkan hingga sebesar 86 persen.

Terlebih, memang nyamuk Wolbachia sendiri juga memiliki banyak manfaat, yang mana salah satunya adalah, meski di dalamnya mengandung bakteri, akan tetapi sama sekali tidak bisa menginfeksi manusia karena bakteri tersebut hanya berada pada tubuh nyamuk saja. Sehingga jika tergigit sekalipun, maka nyamuk Wolbachia sama sekali tidak akan menyebabkan manusia menjadi sakit.

Meski tidak mengurangi adanya populasi nyamuk Aedes Aegypti, ternyata nyamuk Wolbachia mampu menekan penyebaran Virus Dengue yang dibawa oleh Aedes Aegypti. Sehingga adanya program Wolbachia yang dicanangkan oleh Pemerintah RI di beberapa daerah, termasuk yang akan digalakkan di Bali mampu menjadi pelengkap atau penyempurna program 3M Plus selama ini. Diimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak perlu khawatir akan keberadaan nyamuk Wolbachia sendiri karena terbukti aman bagi manusia. 

Sementara itu, Peneliti Pusat Kedokteran Tropis Universitas Gadjah Mada (UGM), Riris Andono Ahmad mengungkapkan bahwa program penyebaran nyamuk Wolbachia yang dilakukan oleh pemerintah di Yogyakarta nyatanya mendatangkan hasil yang sangat positif, yakni di sana penyebaran DBD mampu diturunkan dengan efektif.

Peneliti nyamuk Wolbachia dari UGM, Prof. dr Adi Utarini mengungkapkan hasil penelitian di Jogja mengenai nyamuk tersebut, yang mana memang sama sekali tidak ada dampak buruk terjadi kepada masyarakat. Terlebih, justru teknologi Wolbachia tersebut sangat aman bagi masyarakat maupun lingkungan.

Dari penelitian tersebut diketahui bahwa hasilnya adalah nyamuk Culex sp yang tinggal berdampingan dengan nyamuk Aedes aegypti di lingkungan alamiah tidak mengandung strain wMel dari nyamuk Aedes aegypti yang bersamaan ditangkap. Demikian pula pada manusia, penelitian itu menunjukkan bahwa sama sekali tidak ada respon antibodi Wolbachia pada warga yang tinggal di area pelepasannya.

Senada, Akademisi dari Universitas Udayana (Unud), Ni Nyoman Sri Budayanti menegaskan bahwa dari kajian ilmiah, memang bakteri Wolbachia sudah jelas aman. Untuk bisa lebih diterima penyebaran programnya ke masyarakat, menurutnya merupakan permasalahan pada komunikasi lintas sektor dan harus ada kerja sama lintas sektoral pula supaya membuat sebuah titik temu.

Di sisi lain, apresiasi akan program Wolbachia juga dikemukakan oleh Komisi IX DPR RI bersama dengan World Mosquito Program (MWP) dan Pemerintah Provinsi Bali mengaku bahwa mereka percaya dengan adanya metode Wolbachia yang dilakukan adalah sebagai langkah sangat tepat untuk bisa mengendalikan penyakit dengue dan bahkan menjadi solusi terbaik yang sama sekali tidak merusak lingkungan.

Tidak hanya kajian ilmiah saja, namun pembuktian melalui adanya beberapa project penerapan metode Wolbachia yang dilakukan oleh pemerintah di beberapa wilayah di Indonesia terbukti membawa hasil yang signifikan efektif dan aman untuk menangani demam berdarah (DBD), maka dari itu apresiasi dari banyak kalangan utamanya para pakar banyak membanjiri upaya tersebut.

Penulis adalah kontributor Kontributor Jendela Baca Institute