Tokoh Agama Ajak Masyarakat Papua Jaga Kondusivitas

17

Oleh : Alvaro Hukubun 

Tokoh agama mengajak kepada seluruh masyarakat di Papua untuk mampu menjaga kondusivitas dan agar tidak mudah terpengaruh adanya berbagai macam aksi anarkisme. Sekretaris Umum (Sekum) Kemah Injil Gereja Masehi Indonesia (Kingmi) di Tanah Papua, Pendeta Dr Yones Wenda mengatakan bahwa jangan sampai justru masyarakat terpengaruh akan adanya berbagai aksi atau gerakan tambahan yang justru semakin merusak persatuan dan kesatuan bangsa.

Pasalnya, misalnya masyarakat Papua masih saja termakan oleh beberapa ajak untuk melakukan tindak anarkisme ataupun aksi tambahan, maka justru akan memunculkan beberapa korban secara cuma-cuma. Maka dari itu seluruh pihak hendaknya harus mampu saling menjaga secara bersama dalam mewujudkan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Papua.

Menyikapi maraknya beberapa aksi demo yang kemudian kadang juga berujung pada aksi anarkisme, sejumlah tokoh Kepala Suku di seluruh Kabupaten Jayawijaya telah sepakat untuk menolak segala bentuk macam aksi anarkisme tersebut. Adanya komitmen kuat dan seruan tersebut ditujukan dalam deklarasi bersama dengan para Kepala Suku.

Mengenai hal tersebut, Komandan Daerah Militer (Dandim) 1702 / Jayawijaya, Letnan Kolonel (Letkol) Cpn Athenius Murip memberikan apresiasinya yang sangat tinggi atas adanya seruan dari para Kepala Suku serta masyarakat untuk bisa bersama dalam rangka menciptakan kondisi Papua yang aman dan damai.

Diketahui bahwa dalam deklarasi itu berisikan bagaimana komitmen kuat seluruh pihak untuk menolak dengan sangat tegas setiap aksi unjuk rasa, kemudian juga adanya seruan atau ajakan untuk senantiasa menjaga keamanan dan ketertiban serta kondusivitas di Papua untuk mewujudkan Bumi Cenderawasih sebagai wilayah yang aman. Kepada seluruh masyarakat diimbau untuk menanamkan rasa memiliki bersama agar bisa terhindar dari berbagai macam tindakan yang dapat saja merugikan semua pihak.

Salah seorang tokoh adat, Alex Doga menuturkan kepada seluruh masyarakat untuk tidak terpengaruh dengan berbagai macam hal yang negatif, serta agar mereka bisa tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Masyarakat hendaknya harus tetap dalam kondisi yang tenang.

Sementara itu, perwakilan Tokoh Adat seluruh Kabupaten Jayawijaya, Hengki Aselo juga menambahkan bahwa kepada seluruh masyarakat diimbau agar tetap tenang dan jangan sampai terpengaruh dengan adanya tindakan yang negatif, lantaran hal tersebut justru semakin merugikan banyak pihak.

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Bambang Soesatyo mengajak dan mendorong kepada seluruh generasi muda penerus bangsa di Papua untuk segera mampu memulihkan kembali adanya semangat untuk membangun daerah mereka.

Hal tersebut juga sudah sejalan dengan adanya sentimen positif dari pembangunan berkelanjutan di Bumi Cenderawasih yang telah dimulai pada era kepemimpinan Presiden Republik Indonesia (RI) ketujuh, yakni Joko Widodo (Jokowi). Sehingga dengan adanya pembangunan berkelanjutan yang telah digencarkan oleh pemerintah itu, maka diharapkan kepada seluruh generasi muda Papua untuk mampu menjaga dan merawat adanya sentimen positif tersebut.

Bagaimana etos kerja dan semangat membangun yang dimiliki oleh para generasi muda di Bumi Cenderawasih itu hendaknya juga dilandasi dengan adanya semangat persaudaraan sebangsa dan satu Tanah Air Indonesia. Maka dari itu, hendaknya masyarakat di Papua mampu menyudahi kemarahan mereka, lalu mengganti energi tersebut dengan memulai kegiatan yang produktif dan positif saja.

Memulihkan dinamika pada ruang publik yang belakangan terjadi ini sebagai tempat perjumpaan warga merupakan hal yang penting untuk dilakukan. Terlebih, berbagai macam kegiatan di semua fasilitas publik, seperti halnya bangunan kantor pemerintah, hendaknya juga bisa dilakukan dengan peningkatan fungsi-fungsi pelayanan kepada masyarakat supaya bisa berjalan dengan semakin optimal lagi.

Jika kemarahan yang dimiliki justru diekspresikan dengan berbagai macam tindak secara anarkis, sebenarnya yang terjadi selanjutnya bukanlah sebuah pembaikan, melainkan pada gilirannya hanya akan merugikan warga setempat sendiri dan juga seluruh warga di Papua. 

Indonesia pun merupakan sebuah negara yang menjunjung tinggi asas demokrasi, sehingga kemarahan yang etis sebenarnya mampu disampaikan dalam bentuk protes, kritik ataupun berupaya penyataan keberatan, namun tanpa adanya tindak anarkis.

Terlebih, memang tidak bisa dipungkiri bahwa Papua sendiri merupakan bagian yang sama sekali tidak bisa terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal itu juga ditunjukkan dari bagaimana komitmen kuat yang dimiliki oleh pemerintah untuk terus membangun Papua sama sekali tidak akan pernah berkesudahan.

Tidak hanya sekedar membangun infrastruktur saja, namun pemerintah juga terus menggencarkan pembangunan dan pengembangan akan kualitas sumber daya manusia (SDM0 bagi seluruh generasi muda di Papua. Bagaimana kepedulian dan kehadiran negara untuk seluruh masyarakat Orang Asli Papua (OAP) terbukti dari adanya akselerasi atau percepatan pembangunan yang dilakukan, termasuk juga bagaimana banyaknya kegiatan kunjungan langsung yang dilakukan oleh Presiden Jokowi untuk bisa menyapa serta berdialog secara langsung dengan warga Papua.

Untuk itu, menjadi sangat penting bagi seluruh masyarakat di Papua agar tetap menjaga kondusivitas secara bersama-sama dan juga tidak sampai terpengaruh dengan adanya berbagai macam isu ataupun ajakan untuk melakukan aksi anarkisme yang justru semakin merugikan masyarakat sendiri.

Penulis adalah Mahasiswa Papua Tinggal di Jakarta