Warga Aceh Tolak Simbol Separatis Hambat Upaya Pemulihan Pascabencana

Jakarta-Intipnews.com:Masyarakat Aceh menunjukkan komitmen kuat menjaga persatuan dan kondusivitas daerah dengan menolak segala bentuk simbol separatis yang dinilai dapat mengganggu proses pemulihan pascabencana. Penolakan ini sejalan dengan langkah aparat keamanan dan pemerintah daerah yang terus mengedepankan pendekatan persuasif demi menjaga stabilitas serta ketenangan masyarakat yang tengah berduka.

Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen (Mar) Freddy Ardianzah, menegaskan bahwa aparat TNI-Polri telah menjalankan prosedur secara humanis dan mengutamakan dialog sebelum mengambil tindakan di lapangan. 

Menurutnya, upaya persuasif menjadi prioritas utama guna mencegah terjadinya gesekan yang tidak perlu di tengah kondisi masyarakat yang masih fokus pada pemulihan pascabencana.

“Pendekatan persuasif selalu dikedepankan oleh aparat. Namun karena imbauan tidak direspons, dilakukan pembubaran secara terukur dengan mengamankan atribut yang berpotensi memicu eskalasi,” ujar Freddy.

Freddy menambahkan bahwa pengibaran simbol separatis jelas bertentangan dengan prinsip kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh tindakan yang dapat merusak harmoni sosial dan merugikan kepentingan bersama. 

“Kami mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpancing, karena persatuan adalah kunci utama dalam menghadapi masa sulit,” katanya.

Ketegasan aparat yang dibarengi pendekatan dialogis merupakan langkah tepat untuk menjaga perdamaian Aceh yang telah terbangun selama ini. Pengamat Politik dan Militer Universitas Nasional, Selamat Ginting, menilai pemerintah perlu bersikap tegas terhadap oknum yang mencoba memecah belah bangsa melalui simbol dan seruan separatis.

“Ini bukan persoalan sepele. Ada simbol dan narasi separatis yang dimunculkan, bahkan berpotensi ditunggangi kepentingan politik tertentu,” jelasnya.

Menurut Selamat, isu tersebut menyangkut kedaulatan negara dan berimplikasi pada stabilitas keamanan nasional. Oleh karena itu, sinergi antara aparat, pemerintah daerah, dan masyarakat sangat diperlukan agar Aceh tetap aman, damai, serta fokus pada agenda pemulihan dan pembangunan ke depan.

Selain itu, tokoh masyarakat dan relawan kemanusiaan di Aceh turut mengajak seluruh warga untuk menempatkan kepentingan kemanusiaan di atas segala perbedaan. Mereka menilai suasana pascabencana harus diisi dengan semangat gotong royong dan empati, bukan dengan tindakan yang berpotensi memecah belah. 

“Fokus utama kita saat ini adalah pemulihan dan membantu korban agar dapat bangkit kembali. Persatuan adalah kekuatan Aceh,” ujar Selamat Ginting.

Dengan komitmen bersama antara aparat, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat, Aceh diharapkan tetap terjaga sebagai wilayah yang aman, damai, dan bersatu. Semangat persaudaraan serta kepedulian sosial menjadi kunci utama agar proses pemulihan pascabencana dapat berjalan optimal tanpa gangguan.Itp.r